Universitas Airlangga Official Website

Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Dalam Menurunkan Kecemasan Pada Remaja Yang Mengalami Nyeri Menstruasi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Dismenore primer merupakan salah satu gangguan menstruasi yang paling sering dialami remaja perempuan. Kondisi ini ditandai dengan nyeri menstruasi tanpa adanya kelainan organik yang mendasari. Secara global, prevalensi dismenore pada remaja mencapai 60–90%, dan sebagian besar mengalami gangguan aktivitas serta ketidaknyamanan psikologis. Salah satu dampak psikologis yang sering muncul adalah kecemasan, yang muncul akibat antisipasi terhadap nyeri, ketidakpastian durasi rasa sakit, dan gangguan aktivitas harian.

Berbagai intervensi nonfarmakologis telah dikembangkan untuk mengurangi gejala dismenore dan dampak psikologisnya. Progressive Muscle Relaxation (PMR) merupakan teknik relaksasi yang melibatkan kontraksi dan pelepasan kelompok otot secara sistematik untuk menciptakan ketenangan fisik dan mental. Sementara itu, latihan dismenore merupakan serangkaian gerakan peregangan dan penguatan ringan yang bertujuan memperlancar aliran darah, mengurangi spasme otot, serta meningkatkan kenyamanan selama menstruasi. Meskipun keduanya bermanfaat, penelitian yang membandingkan efektivitas PMR dan latihan dismenore terhadap kecemasan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas kedua intervensi tersebut dalam menurunkan kecemasan pada remaja yang mengalami nyeri menstruasi. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja perempuan yang mengalami dismenore primer, diperoleh melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria: usia 13–18 tahun, mengalami nyeri menstruasi minimal dalam tiga siklus terakhir, dan tidak sedang mengonsumsi analgesik saat penelitian berlangsung. Responden dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri atas 30 orang. Kelompok pertama mendapatkan intervensi PMR, sedangkan kelompok kedua melakukan latihan dismenore. Intervensi diberikan selama tiga hari berturut-turut pada fase menstruasi, dengan durasi 15–20 menit setiap sesi. PMR dilakukan dengan panduan suara terstruktur, dimulai dari kelompok otot wajah hingga otot ekstremitas bawah. Latihan dismenore meliputi peregangan punggung bawah, otot pelvis, pernapasan diafragma, dan gerakan ringan untuk memperbaiki sirkulasi. Tingkat kecemasan diukur menggunakan State Anxiety Inventory sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan paired t-test untuk mengetahui perubahan kecemasan dalam setiap kelompok, serta independent t-test untuk menguji perbedaan efektivitas antar kelompok. Nilai signifikansi ditetapkan pada p < 0,05.

Hasil Analisis paired t-test menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami penurunan signifikan skor kecemasan setelah intervensi (p < 0,05). Pada kelompok PMR, penurunan rata-rata lebih besar dibandingkan kelompok latihan dismenore. Uji independent t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa PMR lebih efektif dibandingkan latihan dismenore dalam menurunkan kecemasan pada remaja dengan dismenore. Secara deskriptif, responden pada kelompok PMR melaporkan tubuh lebih rileks, pernapasan lebih stabil, dan berkurangnya ketegangan otot. Sementara pada latihan dismenore, sebagian besar responden merasa nyeri fisik berkurang, namun dampak terhadap perasaan cemas relatif lebih moderat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa baik PMR maupun latihan dismenore memiliki manfaat dalam menurunkan kecemasan akibat nyeri menstruasi. PMR terbukti lebih efektif, yang dapat dijelaskan oleh mekanisme fisiologis dan psikologisnya. Proses kontraksi dan relaksasi otot yang dilakukan secara sistematis memicu aktivasi respon relaksasi, menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis, dan mengurangi ketegangan otot yang berhubungan dengan kecemasan. Teknik ini juga memberikan efek meditatif yang meningkatkan persepsi kontrol diri dan mengurangi fokus terhadap rasa sakit. Latihan dismenore tetap memberikan efek positif, terutama dengan meningkatkan aliran darah ke area pelvis, mengurangi spasme otot, dan meningkatkan fleksibilitas. Namun, mekanisme utamanya lebih bersifat fisik sehingga pengaruhnya pada aspek psikologis tidak sekuat PMR. Temuan ini konsisten dengan literatur yang menyatakan bahwa teknik relaksasi cenderung memberikan dampak yang lebih besar terhadap kecemasan dibandingkan intervensi berbasis latihan fisik ringan.

PMR dan latihan dismenore sama-sama efektif dalam menurunkan kecemasan pada remaja yang mengalami nyeri menstruasi. Namun, PMR menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan latihan dismenore. PMR dapat direkomendasikan sebagai intervensi sederhana, mudah dilakukan, dan dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun layanan kesehatan remaja.

Penulis: Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/differences-in-the-effectiveness-of-progressive-muscle-relaxation/