Anemia pada ibu hamil masih menjadi momok di Indonesia. Bayangkan, hampir 4 dari 10 ibu hamil harus menghadapi kondisi kurang darah yang bisa membuat tubuh lemas, cepat lelah, dan yang paling berbahaya—membahayakan bayi yang dikandung. Risiko kelahiran prematur, bayi dengan berat rendah, hingga kematian ibu dan anak menjadi ancaman nyata.
Selama ini kita sering menganggap anemia semata soal kurang makan bergizi. Padahal, penyebabnya lebih kompleks. Banyak ibu hamil yang sebenarnya punya akses makanan cukup, tetapi kurang memahami pentingnya zat besi, cara mengonsumsinya, hingga pola makan yang tepat. Artinya, pengetahuan gizi atau literasi gizi menjadi kunci penting dalam mencegah anemia.
Lalu, bagaimana caranya meningkatkan pengetahuan ini? Jawaban yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya adalah: teknologi.
Sebuah penelitian yang dilakukan tim Universitas Airlangga dan dipublikasikan di Health Education and Health Promotion tahun 2025 menemukan fakta menarik. Studi berjudul Effect of Health Education Technology on Nutritional Literacy and Anemia in Pregnant Women ini melibatkan 132 ibu hamil di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Para peneliti menguji empat bentuk teknologi edukasi kesehatan: aplikasi seluler, e-learning, media sosial, dan telemedicine.
Hasilnya sungguh menjanjikan. Semua teknologi terbukti membantu meningkatkan pengetahuan gizi ibu hamil sekaligus menurunkan risiko anemia. Yang paling menonjol adalah telemedicine—layanan konsultasi kesehatan jarak jauh. Melalui telemedicine, ibu hamil bisa berinteraksi langsung dengan dokter atau ahli gizi tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan. Konsultasi real-time ini membuat ibu lebih yakin, mendapat saran yang sesuai kondisi pribadi, dan lebih disiplin menjalani pola hidup sehat.
Meski telemedicine paling unggul, bukan berarti teknologi lain tidak berguna. Aplikasi seluler dapat mengingatkan jadwal minum tablet zat besi dan memberikan tips menu harian. E-learning memungkinkan ibu hamil mengikuti kelas daring tanpa batas ruang dan waktu. Sementara media sosial terbukti ampuh menyebarkan informasi kesehatan secara cepat sekaligus menghadirkan komunitas yang saling memberi dukungan.
Namun, penelitian ini juga membuka mata kita bahwa literasi gizi jauh lebih berpengaruh daripada faktor ekonomi atau usia. Dari 132 responden, meski sebagian besar berusia produktif dan lebih dari separuh memiliki pendapatan memadai, nyatanya hampir 41 persen masih mengalami anemia. Fakta ini menegaskan, memiliki uang atau usia muda saja tidak cukup—tanpa pengetahuan yang tepat, risiko anemia tetap tinggi.
Tentu saja, ada tantangan yang harus dihadapi. Tidak semua daerah memiliki akses internet memadai. Tidak semua ibu hamil terbiasa menggunakan aplikasi digital. Bahkan, risiko informasi menyesatkan di media sosial bisa membuat bingung. Karena itu, peran tenaga kesehatan sangat penting untuk memastikan konten yang disebarkan melalui teknologi benar-benar akurat dan berbasis bukti ilmiah.
Penelitian ini memberi harapan baru. Dengan dukungan teknologi, edukasi kesehatan bisa lebih cepat, mudah, dan menjangkau lebih banyak ibu hamil. Telemedicine bisa menjadi andalan, tetapi kombinasi dengan aplikasi, e-learning, dan media sosial akan membuat upaya pencegahan anemia semakin kuat.
Pada akhirnya, mencegah anemia pada ibu hamil bukan sekadar soal makan makanan bergizi atau rutin minum tablet zat besi. Lebih dari itu, bagaimana pengetahuan sampai ke ibu, dipahami, dan diubah menjadi kebiasaan sehat jauh lebih penting. Di sinilah teknologi hadir, menjadi jembatan antara ilmu dan praktik sehari-hari.
Jika pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat bisa bekerja sama memanfaatkan teknologi ini, bukan tidak mungkin angka anemia pada ibu hamil di Indonesia bisa ditekan. Karena sehatnya seorang ibu hamil bukan hanya menyangkut dirinya, tetapi juga masa depan generasi yang sedang ia kandung.
Penulis: Emuliana Sulpat, S.Kep., Ns., M.Kes.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://hehp.modares.ac.ir/browse.php?a_id=79911&sid=5&slc_lang=en&html=1





