Universitas Airlangga Official Website

Pakan Alami Tingkatkan Warna Cupang

Sumber: Generasi Biologi
Sumber: Generasi Biologi

Ikan cupang hias (Betta splendens) semakin populer di kalangan pecinta ikan karena memiliki warna indah, bentuk menarik, dan harga yang relatif stabil. Warna cerah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kualitas ikan cupang. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup juga memengaruhi nilai jual dan daya tarik ikan ini. Untuk meningkatkan kualitas warna, banyak pembudidaya menggunakan pakan alami yang kaya karotenoid, senyawa yang berperan penting dalam pembentukan pigmen warna pada ikan.

Metode Pemberian Pakan

Selama dua bulan, ikan cupang mendapat perlakuan dengan empat jenis pakan berbeda. Pakan tersebut meliputi pelet komersial, cacing sutra (Tubifex sp.), cacing darah (Chironomus sp.), dan kutu air (Moina sp.). Ikan diberi makan dua kali sehari, pukul 10.00 WIB dan 16.00 WIB, dengan dosis 4 persen dari berat badan per hari. Pengamatan dilakukan secara sistematis untuk menilai tingkat kecerahan warna serta kelangsungan hidup ikan pada setiap kelompok perlakuan.

Hasil yang Menunjukkan Perbedaan Signifikan

Berbagai jenis pakan alami terbukti berpengaruh signifikan terhadap kecerahan warna ikan cupang. Di antara semua perlakuan, cacing darah menghasilkan hasil terbaik. Pemberian cacing darah mampu meningkatkan kecerahan warna hingga 19±3,8° dan menjaga tingkat kelangsungan hidup ikan sebesar 93±15 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa cacing darah tidak hanya memperindah tampilan ikan cupang, tetapi juga mendukung viabilitasnya pada tahap awal pemeliharaan.

Rekomendasi untuk Pembudidaya

Berdasarkan temuan ini, penggunaan cacing darah sangat direkomendasikan sebagai pakan alami utama bagi ikan cupang hias. Pakan tersebut mampu memberikan nilai tambah dari segi visual dan daya tahan hidup ikan. Bagi pembudidaya, strategi ini dapat meningkatkan kualitas hasil budidaya sekaligus memperluas peluang pasar, mengingat permintaan ikan cupang dengan warna cerah terus meningkat.

Penulis: Syifania Hanifah Samara, S.Pi., M.Sc.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://ejabf.journals.ekb.eg/article_442761_93d010251cdd80b4ef9986d48d2c474e.pdf