Universitas Airlangga Official Website

Eksplorasi Baru Keberadaan dan Ciri Morfologi Spirometra pada Ular Kobra Jawa

Eksplorasi Baru Keberadaan dan Ciri Morfologi Spirometra pada Ular Kobra Jawa
Sumber: Parapuan

Sparganosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh larva plerocercoid, yang umumnya dikenal sebagai spargana, yang berasal dari cacing pita dalam genus Spirometra (Cestoda: Diphyllobothriidae). Kondisi parasit ini menunjukkan prevalensi yang tinggi pada berbagai inang vertebrata, meliputi ular, amfibi, dan mamalia, dengan kejadian yang terdokumentasi pada manusia. Selanjutnya, beberapa negara Asia, termasuk Korea, Thailand, dan Jepang, juga telah mendokumentasikan kejadian sparganosis yang signifikan. Plerocercoids dapat terlokalisasi di berbagai area spesifik seperti jaringan subkutan, mata, payudara, sumsum tulang belakang, dan otak serta mengalami proliferasi, yang menyebabkan kerusakan jaringan yang signifikan yang berujung pada kondisi patologis yang serius seperti kelumpuhan, kekurusan, dan bahkan kematian pada kasus kronis. Namun, sparganosis masih relatif tidak dikenal di Indonesia dengan jumlah kasus yang dilaporkan terbatas.

Penyakit zoonosis ini, yang disebabkan oleh Spirometra spp., mengikuti jalur penularan yang terutama terkait dengan konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Dalam konteks Asia, dinamika rumit penularan cacing pita Spirometra dicirikan oleh keterlibatan inang perantara, terutama katak dan reptil, di antaranya ular yang paling menonjol, memainkan peran penting dalam siklus hidup cacing pita. Hubungan erat antara Spirometra dan inang perantara ini di wilayah tersebut secara signifikan berkontribusi terhadap penyebaran dan prevalensi parasit, yang mencakup berbagai jalur penularan ke manusia. Hal ini mencakup konsumsi copepoda yang terinfeksi di air alami, yang menggarisbawahi pentingnya penularan melalui air di wilayah tertentu, serta konsumsi amfibi yang tidak dimasak dengan benar, seperti katak atau kecebong, yang muncul sebagai sumber potensial infeksi, yang menekankan sifat zoonosis Spirometra. Selain itu, ular, burung, dan mamalia, termasuk hewan pengerat dan babi, berfungsi sebagai reservoir bagi cacing pita, yang menimbulkan risiko penularan ke manusia melalui konsumsi daging yang kurang matang atau terkontaminasi. Reptil dan amfibi, sebagai inang perantara cacing pita Spirometra, sudah dianggap sebagai sumber penting penularan sparganosis karena potensi zoonosisnya. Spektrum rute penularan yang luas ini menggarisbawahi perlunya langkah-langkah kesehatan masyarakat yang komprehensif untuk mengatasi dan mencegah infeksi yang disebabkan oleh Spirometra, dengan mengakui beragam sumber tempat manusia dapat bersentuhan dengan parasit tersebut.

Peningkatan prevalensi sparganosis di Asia berpotensi terkait dengan praktik diet regional, khususnya pemanfaatan ular tangkapan liar secara luas dalam konteks kuliner dan pengobatan tradisional. Di Indonesia, beberapa restoran lokal menyajikan ular tangkapan liar dalam hidangan mereka. Lebih jauh, sejumlah besar orang gemar mengonsumsi daging, kulit, dan kantung empedu ular mentah, tanpa mempedulikan risiko besar infeksi parasit yang terkait dengan praktik tersebut. Kasus sparganosis di Indonesia telah dilaporkan pada hewan tangkapan liar yang dikonsumsi sebagai makanan. Contohnya termasuk katak liar Asia (Rana rugulosa) di Kabupaten Banyuwangi, ular kobra Jawa (Naja sputatrix), ular tikus oriental (Ptyas mucosa) di Kabupaten Sidoarjo, dan Biawak Air Asia (Varanus salvato) di Provinsi Jawa Timur. Mengingat tingginya prevalensi sparganosis dan praktik konsumsi ular yang mengkhawatirkan di Indonesia, penelitian kami bertujuan untuk menyelidiki secara komprehensif kejadian sparganosis pada ular N. sputatrix, yang umumnya tersedia di restoran lokal. Tujuan utama kami meliputi menilai potensi risiko yang terkait dengan infeksi spargana pada manusia melalui konsumsi ular yang ditangkap di alam liar. Selain itu, penelitian ini memberikan deskripsi terperinci tentang karakteristik morfologi Spirometra yang diperoleh dari N. sputatrix di Sidoarjo, Indonesia.

Analisis mikroskopis dari potongan histologis mengungkap dinding tubuh spargana yang dicirikan oleh ketebalan yang bervariasi. Struktur ini terdiri dari lapisan luar dengan mikrovili pada tegumen, sel otot polos yang tersusun dalam struktur berlapis ganda, dan lapisan sel tegumental. Di dalam parenkim, berkas serat otot longitudinal menunjukkan susunan yang tidak teratur, disertai dengan serat mesenkim, saluran ekskresi, dan sel-sel berkapur yang tertanam dalam stroma yang terstruktur longgar. Rincian rumit ini memberikan pemahaman yang bernuansa tentang ciri morfologi spargana dalam penelitian ini.

Lapisan luar dicirikan oleh mikrovili pada tegumen, yang menunjukkan adaptasi permukaan dan mungkin untuk fungsi penyerapan atau sensorik, yang menunjukkan mekanisme yang terkoordinasi dan efisien untuk gerakan atau kontraksi. Selain itu, lapisan sel tegumental lebih lanjut berkontribusi pada struktur luar, yang berpotensi berfungsi sebagai pelindung atau interaktif. Koeksistensi serat mesenkim, saluran ekskresi, dan sel-sel berkapur yang tertanam dalam stroma yang berstruktur longgar menambah kompleksitas jaringan yang diamati. Serat-serat mesenkim dapat memberikan integritas struktural dan dukungan pada organ-organ internal, sementara saluran ekskresi menunjukkan peran dalam pembuangan limbah. Sel-sel berkapur dapat berkontribusi pada penyimpanan mineral atau proses fisiologis lainnya.

Secara umum, identifikasi spesies cacing pita Spirometra didasarkan pada deskripsi anatomi cacing dewasa. Namun, spesimen praktis yang umum diperoleh biasanya dalam bentuk stadium larva Spirometra. Membedakan perbedaan morfologi di antara plerocercoid dalam cacing pita Spirometra merupakan tantangan. Oleh karena itu, uji molekuler harus dilakukan pada bentuk larva ini untuk memastikan spesies Spirometra sp. ditemukan pada N. sputatrix yang ditangkap di alam liar di Sidoarjo, Indonesia.

Berdasarkan penelitian ini, kami menyimpulkan bahwa N. sputatrix berpotensi untuk penularan sparganosis dengan tingkat kehadiran sebesar 54,9%. Rata-rata lebar dan panjang spargana masing-masing adalah 1-1,41 mm dan 30-75 mm. Analisis histologis memberikan pemahaman yang komprehensif tentang komposisi struktural spargana, mengungkap struktur organisasi yang kompleks dan elemen tambahan yang berkontribusi terhadap kompleksitas jaringan. Basis data epidemiologi yang berfokus pada diagnosis yang tepat pada reptil dan inang manusia, harus ditingkatkan dengan spargana yang diidentifikasi secara akurat. Perdagangan satwa liar, terutama di merket tradisional, harus diatur oleh undang-undang pemerintah untuk mengurangi potensi risiko yang terkait dengan reptil yang diambil dari alam liar. Program kolaboratif dengan masyarakat lokal sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang sparganosis sebagai penyakit zoonosis terabaikan dengan dampak yang signifikan di Indonesia.

Penulis: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.

Link: 10.13057/biodiv/d250803

Baca juga: Hubungan Polimorfisme Gen INHA dengan Sifat Ukuran Anak Lahir pada Domba Ekor Tipis