Universitas Airlangga Official Website

Ekspresi dan Intensitas Kalsium (Ca2+) Sel Telur Kambing Kacang Setelah Kriopreservasi

Foto by Kronologi id

Kambing kacang merupakan salah satu plasma nutfah Indonesia, dimana bentuk tubuhnya yang kecil dan secara ekonomis mungkin tidak menguntungkan dibandingkan dengan kambing luar negeri, namun memiliki beberapa keunggulan antara lain mudah beradaptasi karena asli Indonesia dan biaya pemeliharaan yang tidak mahal. Terobosan teknologi untuk menghasilkan embrio kambing secara cepat dapat dilakukan secara in vitro menggunakan metode In Vitro Fertilization (IVF) baik secara konvensional dengan menambahkan telur matang dengan spermatozoa di luar tubuh maupun menggunakan metode Intra-Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI). Kendala utama produksi embrio kambing melalui IVF konvensional adalah kualitas oosit yang rendah dan sumber oosit yang terbatas untuk produksi embrio kambing in vitro.

Oosit sebagai sumber sel gamet betina dapat disimpan sebelum matang sebagai bank oosit. Bank oosit merupakan terobosan untuk menyediakan sel gamet untuk fertilisasi in vitro. Penyimpanan oosit dalam waktu lama untuk keperluan bank oosit dapat dilakukan dengan kriopreservasi. Metode kriopreservasi oosit terbaik dapat dilakukan dengan metode vitrifikasi. Metode vitrifikasi sering digunakan karena tidak terbentuk kristal es dan waktu proses lebih cepat dibandingkan dengan metode pembekuan lambat.

Selama proses vitrifikasi, krioprotektan dibutuhkan untuk melindungi oosit baik secara ekstraseluler maupun intraseluler dari perubahan suhu yang drastis. Perubahan suhu ini akan menyebabkan peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS). Begitu juga saat melakukan pemanasan, akan terjadi heat shock. Kejutan panas terjadi ketika ada perubahan suhu dari dingin ke hangat. Peningkatan ROS selama pemanasan akan menyebabkan kerusakan fungsi mitokondria dan perubahan masuknya ion Ca2+.

Perubahan suhu akibat vitrifikasi dan selama pemanasan akan sangat mempengaruhi intensitas ion Ca2+. Peran ion Ca2+ dalam oosit sangat penting terkait dengan proses pematangan oosit. Dalam proses pematangan, akan terjadi pematangan nukleus dan sitoplasma. Pada proses maturasi nukleus akan terjadi peningkatan influx Ca2+ ke dalam nukleus oosit, sehingga regulator protein akan berjalan agar proses maturasi nukleus terjadi. Kalsium (Ca2+) diperlukan untuk proses pembuahan dan perkembangan embrio.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur ekspresi Ca2+ dan intensitas Ca2+ dalam kompleks kumulus-oosit. Metode imunositokimia (ICC) dapat mengamati peningkatan influks Ca2+ berdasarkan ekspresi Ca2+. Ekspresi Ca2+ ekstraseluler hanya dapat diamati menggunakan metode ICC, sedangkan intensitas Ca2+ intraseluler menggunakan metode Confocal Laser Scanning Microscope. Kombinasi metode imunositokimia dan Confocal Laser Scanning Microscope dapat mengukur kandungan dan posisi Ca2+ dalam oosit secara akurat, karena proses pembekuan menggunakan metode vitrifikasi.

Penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol (C) oosit segar, dan kelompok perlakuan (T) oosit diawetkan dengan metode vitrifikasi. Setelah kriopreservasi selama 24 jam, kemudian dicairkan, kemudian diperiksa ekspresi Ca2+ dengan metode Immunocytochemistry dan intensitas kalsium (Ca2+) dengan Confocal Laser Scanning Microscope (CLSM). Data penelitian yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan Uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi Ca2+ pada kelompok kontrol (12,00±0,00) berbeda dengan kelompok perlakuan (0,35±0,79). Intensitas Ca2+ pada kelompok kontrol (1059.43±489.59) berbeda dengan kelompok perlakuan (568.21±84.31). Kesimpulan dari penelitian ini adalah kriopreservasi mempengaruhi kalsium pada kumulus oophorus komplek (KOK), terdapat perbedaan ekspresi dan intensitas Ca2+ antara kompleks kumulus-oosit segar dan kompleks kumulus-oosit setelah vitrifikasi. Intensitas Ca2+ kompleks kumulus-oosit setelah vitrifikasi terkonsentrasi di nukleus, sedangkan kompleks oosit segar di sitoplasma.

Penulis: Widjiati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di

https://journals.pan.pl/dlibra/show-content?id=122653