Universitas Airlangga Official Website

Ekspresi Wajah Bisa Menggerakkan Smart Rollator?

Ilustrasi Rollator/Alat Bantu Jalan Beroda (Sumber: Mobility Heaven)
Ilustrasi Rollator/Alat Bantu Jalan Beroda (Sumber: Mobility Heaven)

Bayangkan jika sebuah kursi jalan (rollator) bisa bergerak hanya dengan senyuman atau ekspresi wajah sederhana. Itulah ide inovatif yang dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Airlangga bekerja sama dengan Swinburne University of Technology, Australia.


Dalam penelitian yang dipublikasikan di AIP Conference Proceedings (2025), mereka merancang sebuah rollator cerdas yang dapat dikendalikan bukan dengan joystick, melainkan melalui gelombang otak (EEG) yang dipicu oleh ekspresi wajah. Teknologi ini ditujukan khusus untuk penyandang disabilitas yang kesulitan menggerakkan tangan atau kaki.


Bagaimana Cara Kerjanya?
Para peneliti menggunakan headset EMOTIV EPOC+ yang dipasangkan di kepala. Alat ini merekam aktivitas listrik otak ketika seseorang tersenyum, cemberut, atau menahan wajah netral. Ternyata, setiap ekspresi wajah menghasilkan pola gelombang otak yang berbeda, khususnya pada gelombang Mu (8–12 Hz) dan Beta (18–24 Hz).


Sinyal otak tersebut kemudian diproses dengan Discrete Wavelet Transform (DWT) untuk memisahkan pola gelombang. Selanjutnya, sistem Extreme Learning Machine (ELM) digunakan untuk mengenali perbedaan ekspresi wajah. Hasilnya diterjemahkan menjadi perintah sederhana:
• Senyum → rollator maju
• Cemberut → rollator mundur
• Wajah netral → berhenti
Instruksi ini dikirim ke Arduino yang mengendalikan motor penggerak rollator.


Seberapa Akurat?
Dalam pengujian, sistem ini menunjukkan akurasi hingga 93% dalam kondisi offline (data yang sudah direkam sebelumnya). Namun, saat diuji secara langsung (real-time), tingkat keberhasilan bervariasi antara 52% hingga 88%, tergantung kenyamanan pengguna dan kecepatan sistem membaca sinyal.
Meskipun demikian, angka ini sudah cukup menjanjikan untuk tahap awal. Artinya, sebuah senyum bisa benar-benar “menggerakkan dunia”—atau setidaknya, rollator.


Mengapa Penting?
Bagi banyak penyandang disabilitas berat, teknologi ini bisa menjadi pintu kebebasan baru. Mereka tak perlu lagi menggerakkan tangan untuk mengontrol joystick. Cukup dengan ekspresi wajah, mereka bisa mengendalikan alat bantu mobilitas. Selain itu, pendekatan ini juga lebih alami dan intuitif, karena ekspresi wajah mudah dilakukan tanpa perlu latihan panjang seperti metode BCI berbasis imajinasi gerakan.


Tantangan ke Depan
Peneliti mengakui masih ada kendala, terutama dalam mengurangi delay (keterlambatan respon) dan meningkatkan akurasi saat sistem digunakan langsung. Ke depan, mereka berencana menambah fitur agar rollator bisa bergerak lebih kompleks, seperti belok kanan atau kiri, bukan hanya maju-mundur.

Penulis: Osmalina Nur Rahma, S.T., M.Si.

Informasi detail terkait artikel dapat dilihat pada: https://doi.org/10.1063/5.0286189