Universitas Airlangga Official Website

Ekstrak Daun Kembang Bulan Menurunkan Leptin dan CD4 Makrofag  

Ilustrasi oleh 123rf.com

Prevalensi global diabetes mellitus pada orang dewasa meningkat 463 juta (6,20%) pada tahun 2020 (International Diabetes Federation, 2019). Selain itu, diabetes melitus bertanggung jawab atas 6,70 juta kematian pada tahun 2021. Artinya ada 1 kematian setiap 5 detik. Hal ini meningkatkan risiko penyakit seperti serangan jantung, stroke, kebutaan, nefropati, dan gangren (World Health Organization, 2016). Lebih dari 80 juta orang diperkirakan menderita diabetes mellitus di Asia Tenggara dan negara-negara Asia-Pasifik. Di Indonesia, prevalensi diabetes mellitus meningkat sebesar 2% dari tahun 2013 hingga 2018 (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Di Surabaya, diabetes melitus merupakan penyakit dengan angka kematian tertinggi keempat (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Ini berkontribusi pada perkembangan risiko penyakit kardiovaskular, dan obesitas adalah faktor utama yang berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus. Peningkatan konsentrasi leptin pada pasien dengan obesitas mengurangi respon sel pankreas, mengakibatkan peningkatan sekresi insulin dan kemungkinan menyebabkan hiperinsulinemia. Leptin mengatur konsentrasi gula darah dengan meningkatkan sensitivitas insulin sel hati dan otot dalam kondisi normal (Majewska et al., 2016).  

Secara umum rasio leptin : adiponektin berhubungan dengan kejadian diabetes melitus pada remaja dengan obesitas (Maahs et al., 2009). Leptin dan adiponektin diproduksi di jaringan adiposa dan terlibat dalam pengaturan sensitivitas dan inflamasi insulin (Safai et al., 2015). Adiponektin memiliki fungsi antidiabetes, memperkuat jalur sinyal insulin, mengurangi produksi glukosa di hati, meningkatkan oksidasi asam lemak, meningkatkan fungsi mitokondria, dan mengatur metabolisme glukosa di hati dan otot (López-Jaramillo et al., 2014; Chakraborti. , 2015). Obat sintetik digunakan untuk menurunkan konsentrasi glukosa darah pada pasien diabetes melitus. Namun obat ini memiliki banyak efek samping pada kesehatan manusia. Karena itu pengobatan tradisional menggunakan tanaman obat merupakan alternatif untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai obat adalah Tithonia diversifolia yang secara tradisional digunakan untuk mencegah sakit perut, kembung, diare, dan radang. Daun T. diversifolia mengandung zat aktif (fitokimia), seperti alkaloid, saponin, glikosida saponin, tanin, balsam, dan minyak atsiri (John-Dewole dan Oni, 2013). T. diversifolia juga memiliki potensi antidiabetes; dikenal sebagai tanaman insulin di kalangan masyarakat Indonesia. Komponen penting dalam patogenesis diabetes adalah insulin.

Insulin, hormon penting yang diproduksi oleh sel pankreas, mengatur homeostasis glukosa di berbagai jaringan. Mekanisme kerja insulin meliputi penghambatan glukoneogenesis, stimulasi sintesis glikogen, dan pengaktifan lipogenesis di hati (Hirako, 2016). Pada jaringan otot dan lemak, insulin menginduksi pengambilan glukosa melalui jalur aktivasi reseptor insulin. Substrat reseptor insulin diaktifkan melalui aktivasi phosphoinositide 3-kinase dan phosphoinositide-dependent kinase-1 untuk sintesis protein, pengembangan sel, transkripsi, dan sintesis glikogen. Insulin juga berperan dalam mengatur pertumbuhan dan proliferasi sel (Samarghandian et al., 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Muniroh, et al (2022) mencoba mengevaluasi pengaruh ekstrak T. diversifolia terhadap konsentrasi leptin, adiponektin, dan reseptor insulin pada tikus dengan diabetes yang diinduksi streptozotocin. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dengan memberikan ekstrak daun T. diversifolia dapat menurunkan leptin dan CD14 makrofag serta meningkatkan konsentrasi adiponectin dan reseptor insulin.

Penelitian menggunakan 24 tikus putih Wistar dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan (n=6 per kelompok). Kelompok kontrol menerima normal saline, dan kelompok perlakuan menerima 0,25% CMC-Na, ekstrak T. diversifolia 100 mg/kg bb, dan catechin 10 mg/kg bb selama 7 hari. Pada hari ke-8, tikus dikorbankan, sampel darah diambil, dan konsentrasi leptin, adiponektin, dan insulin diukur menggunakan Avidin-horseradish peroxidase sandwich-ELISA. Metode kalorimetri digunakan untuk mengukur glukosa darah dan konsentrasi kolesterol serum total. Pankreas dan ginjal dikumpulkan untuk pengukuran kadar reseptor insulin dan CD14 makrofag menggunakan pewarnaan imunohistokimia. Diabetes mellitus tipe 2 akut dengan peningkatan glukosa darah dan konsentrasi kolesterol serum total diamati pada kelompok perlakuan yang diberikan streptozotocin. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak T. diversifolia menurunkan konsentrasi leptin dan glukosa darah dengan meningkatkan kadar reseptor insulin. Ekstrak T. diversifolia juga menekan nekrosis jaringan pankreas dengan menghambat ekspresi CD14 makrofag pada tikus diabetes.

Penulis: Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes.

Jurnal: Effect of Tithonia diversifolia Leaf Extract on Leptin, Adiponectin, and Insulin Receptor Levels in Diabetic Rats