Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang serta pendampingan berkelanjutan. Dalam praktik klinis, pasien skizofrenia umumnya mendapatkan terapi antipsikotik generasi kedua yang efektif mengendalikan gejala psikotik. Namun demikian, penggunaan obat ini sering kali disertai efek samping berupa peningkatan risiko sindrom metabolik, seperti obesitas, gangguan kadar gula darah, dislipidemia, dan hipertensi. Kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup pasien serta kepatuhan mereka dalam menjalani pengobatan.
Berangkat dari tantangan tersebut, tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga mengembangkan program Education and Metabolic Syndrome Screening (EMESYS) sebagai pendekatan baru dalam perawatan pasien skizofrenia. Program ini menempatkan apoteker sebagai bagian penting dari tim kesehatan, tidak hanya dalam memastikan penggunaan obat yang tepat, tetapi juga sebagai pendidik dan pendamping pasien. Melalui EMESYS, apoteker memberikan edukasi mengenai terapi obat, pentingnya kepatuhan pengobatan, serta penerapan gaya hidup sehat, sekaligus melakukan skrining sindrom metabolik secara terstruktur untuk mendeteksi risiko kesehatan sejak dini.
Penelitian terkait EMESYS yang dipublikasikan dalam Research Journal of Pharmacy and Technology melibatkan 46 pasien skizofrenia yang menjalani terapi antipsikotik generasi kedua di sebuah rumah sakit jiwa di Surabaya. Intervensi dilakukan selama tiga bulan dengan pendekatan edukasi individual yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Selama program berlangsung, pasien mendapatkan pendampingan terkait pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengurangan konsumsi alkohol, serta pemahaman yang lebih baik mengenai manfaat dan efek samping obat yang mereka konsumsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan EMESYS memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Setelah mendapatkan edukasi dan pendampingan dari apoteker, pasien menjadi lebih konsisten dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran. Selain itu, terjadi perbaikan pada beberapa aspek gaya hidup, seperti peningkatan aktivitas fisik, perbaikan pola makan, penurunan konsumsi alkohol, serta penurunan obesitas dan risiko penyakit kardiovaskular. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang berkelanjutan mampu mendorong perubahan perilaku yang lebih sehat pada pasien skizofrenia. Tren perbaikan yang muncul selama penelitian menunjukkan potensi besar program EMESYS apabila diterapkan secara konsisten dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan apoteker melalui program EMESYS merupakan pendekatan yang menjanjikan dalam perawatan pasien skizofrenia. Apoteker berperan strategis dalam meningkatkan kepatuhan terapi dan mendorong gaya hidup sehat, sehingga perawatan tidak hanya berfokus pada pengendalian gejala kejiwaan, tetapi juga pada pencegahan komplikasi fisik dan peningkatan kualitas hidup pasien. Ke depan, pendekatan EMESYS diharapkan dapat diadopsi secara lebih luas sebagai bagian dari layanan kesehatan jiwa yang holistik dan berkelanjutan.
Penulis : Andi Hermansyah





