Kasus KO meningkat menyebabkan pemberiaan obat obat antijamur juga meningkat, hal menyebabkan efek obat berupa toksisitas dan resistensi terhadap obat antijamur juga meningkat. Hal ini mendorong mencari alternative antijamur baru yang efektif dan aman. Zat- zat yang berasal dari tumbuhan telah diteliti kemampuannya untuk mengobati jamur yang aman dan biaya murah. Salah satu tanaman yang paling banyak diteliti dan bisa sebagai alternative anti jamur adalah bentuk ekstrak teh hijau, bernama Epigallocathechingallate (EGCG).
Dalam penelitian ini, bentuk ekstrak teh hijau (EGCG) 1,25% diperiksa secara in vitroefek sebagai antijamur terhadap Candida sp dibandingkan dengan Fluconazole (2 mg / ml ) sebagai obat antijamur standar . Tujuan: Untuk mengevaluasi aktivitas antijamur dari EGCG dibandingkan dengan flukonazol terhadap isolat Candidayang diambil dari pasien HIV / AIDS dengan Kandidiasis oral (KO). Metode: 40 isolat Candida sp. yang diambil dari pasien HIV / AIDS dengan KO di Unit Rawat Jalan dan Instalasi Rawat Inap Unit Perawatan Intermediate Penyakit Infeksi (UPIPI) Dr. Soetomo, Surabaya. Diuji dengan menggunakan tes mikrodilusi. Hasil: tes mikrodilusimengukur MIC EGCG untuk semua Candida sp ,adalah 0,6 25%, sedangkan MIC dari flukonazol adalah 100% untuk semua Candida sp. Ada perbedaan bermakna (p <0,05 ) antara nilai MIC untuk Candida sp. dengan flukonazol,
Dan simpulan penelitian adalah Efek antijamur EGCG lebih baik disbanding Flukonazol secara in vitro maka EGCG dapat menjadi pilihan antijamur dimasa datang , tetapi perlu penelitian penelitian yang lebih komprehensif dan berkesinambungan .
Sebagian besar penelitian menunjukkan potensi aktivitas antijamur EGCG terhadap selplanktonik dan biofilm Candida, terutama terhadap biofilm Candida dewasa, tetapi juga terhadap pembentukan biofilm Candida muda . Aktivitas antijamur EGCG dipengaruhi oleh perbedaan kondisi pertumbuhan (keasaman, waktu inkubasi atau lama kontak, atau kapasitas oksigen), preparat EGCG (larutan, gel, turunan, atau kombinasi), dan juga spesies dan galur jamur yang diuji. EGCG menunjukkan efek penghambatan yang lebih kuat dibandingkan dengan beberapa katekin the hijau lainnya. EGCG juga meningkatkan aktivitas obat antijamur tradisional terhadap jamur dan spesies jamur yang sensitive terhadap obat dan bahkan terhadap obat yang resistan. Penelitian lain juga menunjukkan potensi aktivitas antijamur EGCG terhadap dermatofit, Aspergillus, Cryptococcosis, Penicilliosis, dan jamur serta spesies jamur lainnya, tetapi jumlah bukt imasih langka untuk menetapkan kesimpulan yang pasti.
Sebagian besar penelitian juga dilakukansecara in vitro atauterhadap model hewan, oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian translasi EGCG untuk penggunaan klinis. Penelitian juga menunjukkan bahwa EGCG bekerja dengan merusa kdindingsel, membransel dan sporangiofor, mengganggu sintesis ergosterol, dan menginduksi apoptosis sel jamur dan ragi.
EGCG berasal dari familikatekin, yang merupakan flavonoid paling banyak didapatkan di daun Camellia sinensis. EGCG merupakan katekin paling melimpah, meliputi hampir 60% katekin the hijau, diikuti oleh epigallocatechin (EGC), epicatechin-3-gallate (ECG), dan epicatechin (EC). EGCG mengandung struktur pirogalol dan galloyl, yang
bertanggung jawab atas aktivitas pemicu apoptosis dan antioksidan , serta sitotoksisitas terhadap sel ganas manusia melalui penghambatan sintesa asam lemak.
Ringkasan
• Jamurmerupakan salah satu patogen yang paling umum yang dapat menyebabkan infeksi kronis atau berpotensi menyebabkan kematian pada manusia.
• Obat antijamur dikaitkan dengan efek samping yang signifikan, dan terhambat oleh meningkatnya resistensi.
• Terbukti ada aktivitas antijamur EGCG terutama terhadap biofilm Candida.
• Sedikit bukti yang ada mengenai potensi aktivita santijamur EGCG terhadap dermatofit, dan Aspergillus.
• EGCG menghasilkan aktivitas antijamurnya terutama dengan mengganggu dinding sel dan membran sel.
• EGCG berpotensi meningkatkan efeko bat antijamur terhadap jamur yang resistan terhadap obat
Penulis : Dr.Dwi Murtiastutik,dr.,Sp.DVE,Subsp.Ven
Informasi lengkap dari artikel ini dapar diunduh pada: https://doi.org/10.1016/B978-0-443-14158-4.00036-1





