Novel Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma mampu memberikan kesan yang mengambang karena kefantastikan cerita, dunia sureal, dan cerita yang stagnan. Namun ketika novel dibedah dengan analisis psikologi sastra, ditemukan beberapa data. Pertama, adanya situasi psikologis berupa ego, ketidaksadaran, dan ketidaksadaran kolektif atas tokoh Aku yang kemudian mengarah pada pola perilakunya. Kedua, makna Negeri Senja sebagai simbol titik balik tokoh Aku dalam menghadapi kesedihan dan ambisinya.
Negeri Senja menceritakan tentang Aku yang sekaligus berperan sebagai narator melalui sudut pandang orang pertama, melakukan perjalanan hingga ke sebuah kota bernama Negeri Senja. Negeri ajaib ini tak pernah memiliki pagi, siang, dan malam, melainkan hanya senja sepanjang hari selama berabad-abad lamanya. Selain berlatarkan sebuah negeri rekaan yang hanya terjadi senja tiap harinya, novel ini juga memiliki kesan yang mengambang. Pengalaman pembacaan yang disuguhkan oleh novel ini telah terganjal terlebih dahulu akibat arena sureal dalam cerita, yaitu senja yang terus diulang-ulang.
Aku narator telah berkelana menjelajahi setiap sudut dunia. Ia selalu ingin pergi ke tempat baru, tak pernah memiliki rumah untuk menetap. Ketika ia menjajaki Negeri Senja, ia seolah tertahan di negeri itu selama berbulan-bulan, padahal kejanggalan dan kriminalitas di sana sangat tinggi akibat kepemimpinan Puan Tirana. Hal ini menunjukkan adanya ketertarikan alam bawah sadar Aku narator terhadap Negeri Senja, seperti pada kutipan berikut.
Aku tak tahu pasti apa yang menahanku. Di sini waktu seolah-olah tidak bergerak, selalu berada dalam keadaan senja. Matahari tertahan terus di cakrawala dan langit bergetar-getar seperti kemah sutra berwarna jingga. Apakah senja itu yang membuat aku betah? (Ajidarma, 2003: 21).
Sesuai dengan pendapat Jung tentang ketidaksadaran pribadi. Ketidaksadaran pribadi merupakan proses yang melibatkan pengalaman. Terdiri dari semua pengalaman yang dilupakan, yang kehilangan intensinya karena beberapa faktor, utamanya hal-hal yang tidak menyenangkan. Jung menyebut Kompleks (Complex) sebagai kumpulan pengalaman (emosional, perpetual, sensual) yang tersimpan dalam ketidaksadaran tersebut dan punya pengaruh besar terhadap ego sehingga membentuk pola perilaku spontan. Pengembaraan yang dilakukan Aku narator dilakukan secara spontan dan impulsif.
Rasa sedih yang dialami Aku narator menjadi alasan yang mampu menjelaskan pola perilakunya yang impulsif. Aku narator ingin terus mengembara dengan tujuan menghilangkan kesedihan yang dirasakannya, namun ia menyadari bahwa selama ia masih menganggapnya sebagai kesedihan, maka kesedihan itu akan terus dibawanya meskipun ia telah mengembara ke mana-mana. Hal ini mulai menunjukkan kesadaran (ego) pribadi berupa pengalaman perasaan Aku narator, seperti yang dikemukakan oleh Jung, cakupan ego adalah nalar, logika, perasaan, dan ingatan. Hal ini sekaligus menunjukkan orientasi Aku narator yang dominan mengarah pada dunia luar dan orang lain atau extrovert.
Pengembaraan Aku narator hingga ketika akhirnya ia sampai di Negeri Senja, merupakan eskapisme sesaat karena ia berhasil melihat sebuah negeri yang matahari senjanya tidak pernah tenggelam. Aku narator sangat menyukai keindahan berupa senja yang selalu diburunya setiap mengembara. Senja-senja indah yang telah dilaluinya itu selalu kemudian tenggelam dan hari berganti menjadi malam. Namun ketika ia berada di Negeri Senja, senja dengan warna keemasan itu tidak akan pernah tenggelam. Ketidaksadaran pribadinya telah membuat Aku narator tinggal lama di negeri itu.
Mungkin aku tidak akan pernah kembali meskipun kesedihanku suatu hari akan hilang. Aku sudah terlanjur tidak pernah merasa punya rumah, dan tidak pernah merasa harus pulang ke mana pun dan aku menyukainya. (Ajidarma, 2003: 3).
Ada ketidaksadaran kolektif yang terpicu dari kondisi psikologis Aku narator yang merasakan kesedihan di kampung halamannya. Ketidaksadaran kolektif ini berwujud naluri seksualitas. Hal ini kemudian menjadi interpretasi makna Negeri Senja yang sureal sebagai suatu pencapaian atau aktualisasi diri dari Aku narator.
Keseluruhan cerita dari novel ini menimbulkan kesan mengambang, apalagi ditambah akhir cerita Aku narator yang melepaskan begitu saja benda Negeri Senja yang sudah diperjuangkan mati-matian oleh kaum Pemberontak. Hal ini menyiratkan bahwa cerita ini bukan tentang Negeri Senja, melainkan tentang Aku narator sendiri. Negeri Senja adalah alegori yang menandakan sebuah titik pencapaian, titik balik yang menentukan masa depan. Negeri Senja adalah tempat Aku narator bisa menentukan apakah masa lalunya yang menyedihkan, entah semenyedihkan apa itu, bisa berubah menjadi kebahagiaan.
Dapat disimpulkan bahwa novel Negeri Senja terasa mengambang karena adanya konflik psikologis yang dibingkai dalam arena sureal berupa fakta tekstual. Senja merupakan simbol kebahagiaan Aku narator. Ia menganggap bahwa senja yang mampu menggetarkan perasaan dihadirkan untuk segera lenyap kembali. Hal ini menyiratkan bahwa semua manusia pasti akan merasakan kebahagiaan dan kesedihan secara bergantian, setelah kebahagiaan ada kesedihan, setelah kesulitan ada kemudahan, dan itu memang sudah sewajarnya.
Penulis: Nina Dwi Hapsari Putri1, Edi Dwi Riyanto2
Judul Artikel: Escapism Towards the Surreal Arena in Negeri Senja: A Literary Psychology Approach
Nama Jurnal: ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities (ELS-JISH)
Link: https://journal.unhas.ac.id/index.php/jish/article/view/20462/7994





