Universitas Airlangga Official Website

Faktor-Faktor Penentu Stunting pada Anak Usia 24–60 Bulan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang besar, terutama di negara berkembang, dengan prevalensi tertinggi di Asia dan Afrika. Di Indonesia, angka stunting masih tinggi yaitu 21,6%, gagal mencapai target pengurangan tahun 2024 sebesar 14%. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,5%. Angka ini turun 0,1% dari tahun sebelumnya yang sebesar 21,6%.ProvinsiNusa Tenggara Timur adalah provinsi dengan angka kejadian stunting tertinggi di Indonesia sebesar 37,8%. Stunting adalah masalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Stunting merupakan salah satu malnutrisi yang termasuk kekurangan nutrisi (under nutrition), dimana pertumbuhan liner seorang anak mengalami hambatan atau berhenti. Menurut WHO, stunting adalah keadaan panjang/tinggi badan seorang anak pada usia tertentu berada dibawah -2 SD dari median standar pertumbuhan WHO. Stunting menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan kronis dimana seorang anak tidak dapat mencapai tinggi badan potensialnya karena terdapat gangguan gizi dan kesehatan. Proses terjadimya stunting dimulai dengan adanya penurunan berat badan terutama pada usia 2 tahun. Penurunan berat badan yang berlanjut akan menyebabkan panjang badan tidak optimal. Secara umum penyebab stunting diklasifikasikan menjadi penyebab langsung dan tidak langsung. Beberapa penelitian epidemiologis menunjukan bahwa penyebab langsung adalah asupan nutrisi yang tidak adekuat secara kuantitas, kualitas dan varian makanan. Selain hal tersebut, infeksi berulang serta asuhan kesehatan yang kurang memadai menjadi penyebab stunting. Sebagai penyebab tidak langsung adalah kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi, norma sosial, pendidikan ibu serta status sosial perempuan. Teori lain mengenai faktor determinan yang menyebabkan stunting menurut WHO meliputi faktor keluarga dan rumah tangga, faktor nutrisi (inadekuat intake), faktor konsumsi air susu ibu (ASI), infeksi dan faktor sosial dan komunitas. Kami melakukan penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor determinan stunting pada anak usia 24–60 bulan di wilayah Nusa Tenggara Timur, di Kabupaten Manggarai, untuk mendukung pengembangan program intervensi yang efektif di tingkat layanan kesehatan primer. Sebanyak 80 anak usia 24-60 bulan berpartisipasi pada peneltian ini, yang terdiri dari 40 anak stunting dan 40 anak normal. Didapatkan hasil sanitasi rumah tangga yang tidak memadai, tingkat pendidikan ibu yang rendah, berat badan lahir rendah, ibu dengan defisiensi energi kronis, penyakit menular, asupan karbohidrat yang tidak memadai dan asupan lemak adalah merupakan factor determinan stunting. Pemenuhan zat gizi makro maupun mikro yang adekuat, baik saat ibu hamil maupun bayi dan anak sangat dibutuhkan untuk menghindari atau memperkecil risiko terjadinya stunting. Kualitas dan kuantitas MP-ASI yang baik merupakan komponen penting dalam makanan karena mengandung sumber gizi makro dan mikro yang berperan dalam pertumbuhan linear. Pemantauan berat badan bayi sejak lahir sampai terutama usia 2 tahun sangat penting untuk mencegah terjadinya stunting, demikian pula dengan pemantauan Indeks Massa Tubuh (IMT) selama ibu hamil. Pemantauan keduanya bisa menggunakan buku KIA.     

Disarikan dari artikel dengan judul: “Determinants of stunting among children aged 24–60 months: a case-control study on maternal nutrition, birth outcomes, and infection exposure” yang diterbitkan di Child Health, bulan Desember 2025, Vol. 20, No 8, Halaman: 593-9. Link: https://childshealth-journal.com/index.php/journal/article/view/1930

Penulis:

Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Scopus ID 56705347700

Departemen Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga