Universitas Airlangga Official Website

Faktor-faktor Prognosis Kehilangan Pendengaran yang Muncul kemudian pada Bayi dengan Infeksi Cytomegalovirus Kongenital dan Penilaian Audiologi Normal pada Saat Lahir

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Infeksi Cytomegalovirus atau CMV adalah infeksi virus yang bisa menular dari ibu ke bayi saat ibu sedang hamil. Infeksi ini merupakan salah satu penyebab paling sering gangguan pendengaran pada anak. Yang perlu diketahui, meskipun saat lahir pendengaran bayi terlihat normal, gangguan pendengaran tetap bisa muncul beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian.

Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang bisa memprediksi bayi dengan infeksi CMV sejak lahir yang awalnya pendengarannya normal, tetapi kemudian mengalami gangguan pendengaran. Penelitian ini menggunakan data dari 721 anak dari berbagai negara yang tercatat dalam European Registry Children with Congenital CMV. Semua anak tersebut terinfeksi CMV sejak lahir, namun hasil pemeriksaan pendengaran saat lahir dinyatakan normal.

Pendengaran anak-anak ini diperiksa secara berkala, yaitu sejak lahir, kemudian pada usia 6 bulan, dan dilanjutkan setiap tahun hingga usia 6 tahun. Dari pemantauan ini, peneliti melihat anak mana saja yang kemudian mengalami gangguan pendengaran serta faktor-faktor yang mungkin berhubungan dengan kondisi tersebut.

Hasil Penelitian

Dari 721 anak yang awalnya memiliki pendengaran normal, 47 anak (sekitar 6–7 dari 100 anak) akhirnya mengalami gangguan pendengaran. Gangguan ini muncul pada usia yang berbeda-beda, mulai dari usia 4 bulan hingga sekitar 5 tahun, dengan rata-rata muncul saat anak berusia sekitar 3 tahun.

Risiko gangguan pendengaran ternyata lebih tinggi pada bayi yang saat lahir sudah menunjukkan tanda-tanda infeksi CMV, seperti:

  • Muncul bintik-bintik merah kecil di kulit
  • Pembesaran hati atau limpa
  • Ukuran kepala lebih kecil dari normal
  • Berat badan lahir lebih kecil dari seharusnya

Bayi yang memiliki tanda-tanda tersebut saat lahir lebih sering mengalami gangguan pendengaran di kemudian hari dibandingkan bayi yang tampak sehat tanpa gejala CMV saat lahir.

Selain itu, hasil pemeriksaan otak (misalnya melalui USG atau MRI) yang menunjukkan ruang cairan otak lebih besar dari normal atau adanya gangguan pada jaringan otak juga berhubungan dengan risiko gangguan pendengaran yang lebih tinggi.

Walaupun bayi dengan infeksi CMV terlihat memiliki pendengaran normal saat lahir, risiko gangguan pendengaran tetap ada dan bisa muncul belakangan. Risiko ini lebih besar jika bayi menunjukkan gejala CMV sejak lahir atau memiliki kelainan tertentu pada pemeriksaan tubuh maupun otak. Oleh karena itu, pemeriksaan pendengaran secara rutin sangat penting bagi anak yang terinfeksi CMV sejak lahir. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara berkala hingga usia 5–6 tahun, agar bila terjadi gangguan pendengaran dapat diketahui lebih awal dan segera ditangan.

Infeksi CMV sejak lahir dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang muncul belakangan, meskipun tes pendengaran awal normal. Pemantauan pendengaran jangka panjang sangat dianjurkan untuk memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal.

Penulis: Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,Sp.A(K)

Link artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/prognostic-factors-of-late-onset-hearing-loss-in-infants-with-con/