Ibadah haji merupakan ritual keagamaan yang menuntut kebugaran fisik yang cukup bagi para jamaah. Jamaah haji harus bertahan dalam suhu ekstrem dan kondisi padat penduduk. Fiqih Islam, istitha’ah (keteguhan), meliputi kebugaran medis dan keagamaan dan wajib untuk ikut serta dalam ibadah haji. Istitha’ah menentukan kemampuan jamaah untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pada rukun haji. Hasil pemeriksaan kesehatan selama persiapan istitha’ah jamaah digunakan sebagai dasar untuk pembinaan kesehatan. Bentuk pembinaan meliputi konseling, posko pembinaan terpadu, penyebaran informasi melalui berbagai media, kunjungan rumah, dan ritual haji. Dampak tidak langsung dari pengendalian istitha’ah adalah penurunan angka kesakitan dan kematian di antara jamaah haji. Kesalahpahaman yang umum di antara jamaah adalah bahwa meninggal saat berpartisipasi dalam haji di kota suci Mekkah merupakan berkah dari Tuhan. Akibatnya, banyak jamaah gagal untuk mengenali pentingnya kebugaran sebelum haji. Masalah ini dapat dihindari dengan menjadikan istitha’ah sebagai syarat ritual haji daripada menggunakannya untuk mengurangi kematian. Kebugaran fisik sangat penting untuk berpartisipasi dalam ibadah haji, karena memerlukan kondisi fisik yang baik untuk berpartisipasi penuh dalam semua aktivitas. Kebugaran fisik sebagai aktivitas sehari-hari dipengaruhi oleh kekuatan otot, fleksibilitas, keseimbangan, kelincahan, kecepatan berjalan, dan kebugaran kardiorespirasi.
Pengukuran kardiorespirasi adalah komponen kebugaran fisik yang berhubungan dengan kesehatan yang mengukur konsumsi oksigen maksimum selama aktivitas. Tes jalan enam menit atau six-minute walk test (6-MWT) yang dilakukan selama istitha’ah adalah tes upaya submaksimal yang murah, mudah diterapkan, dan mencerminkan aktivitas kehidupan sehari-hari. Hasilnya dapat memprediksi kemampuan jarak tempuh dan konsumsi oksigen maksimal. 6-MWT telah divalidasi secara luas dan memberikan wawasan berharga tentang dampak kondisi patologis terhadap fungsi dan prognosis. Selain itu, dapat mengevaluasi efektivitas intervensi. Usia, indeks massa tubuh (IMT), komposisi tubuh, dan kekuatan memengaruhi temuan 6-MWT pada orang dengan obesitas. 6-MWT dapat memprediksi kejadian kardiovaskular pada pasien dengan penyakit jantung koroner yang stabil. Jarak yang ditempuh dalam 6-MWT oleh pasien yang menjalani hemodialisis dipengaruhi oleh kekuatan otot, anemia defisiensi besi, dan penyakit arteri koroner sebelumnya. Pasien yang menjalani hemodialisis sering kali memiliki penyakit ginjal stadium akhir, yang dikaitkan dengan kadar kreatinin serum yang tinggi karena filtrasi bebas melalui glomerulus ginjal. Nilai kreatinin serum dapat memprediksi mortalitas karena semua penyebab pada orang dengan hipertensi dan pada mereka yang berusia lanjut. Studi cross-sectional ini bertujuan untuk mengurangi tingkat penyakit dan mortalitas di antara orang yang melakukan ibadah haji dengan menganalisis data kesehatan klinis diperoleh dari jamaah haji. Hasil pemeriksaan kesehatan akan menjadi data primer untuk memperkirakan kemampuan fungsional jamaah haji.
Studi cross-sectional ini menganalisis data haji Indonesia yang diperoleh dari 2.933 peserta sebelum keberangkatan haji tahun 2022. Data tersebut meliputi karakteristik peserta, hasil laboratorium, dan temuan jalan kaki enam menit. Agregat yang dihasilkan dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Kreatinin serum berkorelasi signifikan dengan temuan 6-MWT. Nilai kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL-C) dan jumlah trombosit berkorelasi signifikan dengan hasil 6-MWT. Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko untuk kebugaran kardiorespirasi yang rendah dan ditunjukkan dengan berjalan kaki dalam jarak pendek selama 6-MWT; hal ini dapat memfasilitasi perkembangan aterosklerosis pada pembuluh darah. Kadar LDL dan trombosit mencerminkan aterosklerosis pada pembuluh darah. Hal ini relevan dengan penelitian terkini yang mengamati korelasi signifikan antara kadar 6-MWT, LDL, dan trombosit pada jamaah haji.
Kebugaran fisik penting bagi jamaah haji untuk berpartisipasi dan menyelesaikan semua kegiatan yang terkait dengan haji. 6-MWT merupakan pengukuran kinerja fisik yang ekonomis dan sederhana yang dapat diselesaikan selama istitha’ah. Nilai kreatinin serum, LDL-C, dan trombosit memengaruhi 6-MWT, yang menunjukkan adanya korelasi dengan kapasitas fungsional di antara jamaah haji. Temuan ini menunjukkan pentingnya penilaian kebugaran fisik sebelum keberangkatan bagi jamaah haji. Ini akan membantu meningkatkan daya tahan fisik mereka selama istitha’ah dan memastikan partisipasi penuh mereka dalam semua kegiatan haji. Studi lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar diperlukan untuk menentukan faktor tambahan yang mungkin memengaruhi kapasitas fungsional jamaah haji.
Penulis : Meity Ardiana ,A’rofah Nurlina Puspitasari ,Primasitha Maharani Harsoyo , Cornelia Ghea, Ovin Nada Saputri
Link: https://he01.tci-thaijo.org/index.php/AIHD-MU/article/view/270315/184101
Baca juga: Olahraga Intensitas Tinggi Interval (HIIT) Meningkatkan Kebugaran Fisik dan Status Sosial





