Stunting pada balita masih menjadi beban kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Meskipun persentase stunting cenderung menurun sebesar 27,7% pada tahun 2019 dan 24,4% pada tahun 2021, rata-rata kasus tahunan menurun terlalu lambat (hanya 2,13%). Tidak sesuai dengan pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 yang menargetkan rata-rata kasus per tahun turun menjadi 2,5%. Prevalensi stunting tertinggi tercatat di Nusa Tenggara Timur sebesar 42,6% pada tahun 2018, sedikit meningkat menjadi 43,8% pada tahun 2019, dan menurun menjadi 37,8% pada tahun 2021. Prevalensi stunting di provinsi ini bahkan lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.
Pencegahan stunting pada anak dengan pendekatan keluarga terdiri dari tiga strategi: pemberian makan yang tepat, pola asuh, dan praktik higiene-sanitasi yang benar. Anggota keluarga memainkan berbagai peran dalam pengasuhan anak untuk mencegah stunting pada masa kanak-kanak. Di sebagian besar keluarga Indonesia, ayah mendominasi pengambilan keputusan rumah tangga, termasuk mengasuh anak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan balita dapat meningkatkan kesehatan balita dan membantu mencegah stunting. Seperti halnya ibu, ayah harus dipandang sebagai agen potensial untuk menerapkan praktik pengasuhan anak yang positif dalam keluarga. Program promosi kesehatan harus dikembangkan untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam perawatan anak untuk mencegah stunting pada anak.
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ayah dalam mencegah stunting pada balita berdasarkan Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian melibatkan ayah dengan anak balita, yang tercatat di Puskesmas Maronggela, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Variabel independen adalah kerentanan yang dirasakan ayah, keparahan yang dirasakan, manfaat yang dirasakan, hambatan yang dirasakan, isyarat untuk bertindak, dan self-efficacy berkaitan dengan perilaku pencegahan stunting pada balita. Variabel terikat adalah perilaku ayah dalam mencegah stunting pada balita. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data. Uji Statistik dilakukan menggunakan Spearman Rho.
Analisis statistik menunjukkan bahwa persepsi dan isyarat untuk bertindak berkorelasi dengan perilaku ayah dalam mencegah stunting pada masa kanak-kanak, sedangkan persepsi keparahan, manfaat yang dirasakan, hambatan yang dirasakan, dan efikasi diri tidak berkorelasi. Studi saat ini menunjukkan bahwa perilaku ayah untuk mencegah stunting pada balita terkait dengan persepsi mereka tentang suatu penyakit dan isyarat yang dapat memicu proses pengambilan keputusan mereka. Temuan ini dapat digunakan untuk menyusun program promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan balita untuk mencegah stunting.
Penulis: Eka Mishbahatul Mar’ah Has, S.Kep., Ns., M.Kep.
Jurnal: https://jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/view/847





