Berdasarkan data Global Cancer Observatory tahun 2020, terdapat 14.896 kasus baru dan 9.581 kasus kematian akibat kanker ovarium di Indonesia. Kanker ovarium dibedakan dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu kanker epithelial dan non-epitelial. Sel non-epitelial ditemukan pada 10% dari total kasus kanker ovarium. Dua jenis tumor yang paling banyak terdiagnosa adalah malignant ovarian germ cell tumors (MOGCTs) dan sex cord-stromal tumors (SCSTs). Umumnya, pasien terdiagnosis MOGCTs pada 30 tahun pertama usia mereka. Berkebalikan dengan SCSTs yang lebih banyak ditemukan pada pasien yang berusia 40-an dan 50-an.
MOGCTs adalah jenis tumor dengan keganasan tinggi dan pertumbuhan yang cepat, namun bersifat kemo-sensitif. Terapi utama MOGCTs adalah operasi (surgical staging dan debulking), diikuti dengan kemoterapi, kecuali immature teratoma stadium IA grade I dan dysgerminoma stadium I. Kemoterapi lini pertama adalah bleomycin, etoposide, dan cisplatin (BEP). Pilihan terapi untuk SCSTs juga operasi, tetapi pada beberapa kasus dengan residu, dapat dilanjutkan dengan kemoterapi BEP.
Studi di RSUD Dr.Seotomo menunjukkan tingkat kematian paling tinggi pada pasien yang belum teridentifikasi stadiumnya (unstage disease), sedangkan tingkat kematian terendah ditemukan pada pasien stadium I. Jika ditinjau dari ukurannya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara ukuran tumor dengan tingkat kekambuhan dan kemampuan pasien bertahan hidup dalam tahun (3-year survival) antara dua kelompok (MOGCTs dan SCSTs). Tetapi, tumor yang berukuran >10cm memiliki rasio kematian yang lebih tinggi.
Sisa tumor diketahui merupakan faktor prognosis yang signifikan untuk tingkat kematian pasien. Pasien tanpa sisa tumor, diketahui dapat bertahan hidup lebih lama dan tingkat kekambuhan yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan sisa tumor. Kemoterapi yang dijalani pasien juga terbukti sangat memengaruhi tingkat kekambuhan dan kematian pasien. Pasien yang menjalani kemoterapi sesuai rekomendasi, memiliki risiko lebih kecil mengalami kekambuhan di kemudian hari, serta memiliki harapan untuk bertahan hidup lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mendaptkan kemoterapi sesuai rekomendasi.
Stadium, sisa tumor, dan kemoterapi berpengaruh terhadap tingkat survival pasien dengan kanker ovarium non-epitelial. Prognosis yang baik dengan tingkat kekambuhan dan kematian yang rendah, ditemukan pada pasien dengan stadium I, tanpa sisa tumor, dan yang mendapatkan kemoterapi adekuat. Sementara itu, usia pasien, ukuran tumor, dan tipe histopatologi, tidak dapat menjadi faktor prognosis tingkat kematian dan survival pasien.
Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro
Artikel lengkapnya dapat dibaca melalui link berikut
https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2023032215572031_MJMHS_1361.pdf





