Universitas Airlangga Official Website

Faktor Risiko Celah Bibir dan Langit-langit

Sumber: Tribun Health
Sumber: Tribun Health

Celah bibir dan langit-langit (cleft lip and palate/CLP) merupakan salah satu kelainan bawaan yang umum terjadi di Indonesia, dengan dampak yang signifikan terhadap kesehatan, perkembangan bicara, dan kualitas hidup penderitanya. Celah bibir dan langit-langit (CLP) merupakan kelainan bawaan yang lebih kompleks dibandingkan dengan celah bibir saja (cleft lip only/CLO) atau celah langit-langit saja (cleft palate only/CPO). CLP tidak hanya memengaruhi estetika wajah tetapi juga berdampak pada fungsi oral, kemampuan berbicara, serta kesehatan gizi dan psikososial penderitanya. Karena itu, memahami faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan CLP menjadi sangat penting untuk meningkatkan pencegahan dan intervensi lebih dini.

Sejauh ini, penyebab pasti CLP masih menjadi perdebatan, tetapi berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetik dan lingkungan memainkan peran penting. Di Indonesia, eksplorasi faktor lingkungan dan gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko CLP masih terbatas, padahal informasi ini sangat diperlukan bagi tenaga medis, pembuat kebijakan, serta masyarakat luas untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperbaiki kondisi lingkungan demi kesehatan generasi mendatang. Studi terbaru ini berusaha menjawab kesenjangan tersebut dengan meneliti faktor-faktor spesifik yang dapat memperbesar risiko CLP, serta bagaimana hasilnya dapat digunakan dalam pencegahan kasus serupa di masa depan.

Sebuah penelitian terbaru di Indonesia mengidentifikasi berbagai faktor yang berkontribusi terhadap risiko CLP. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan utama: apakah faktor lingkungan atau gaya hidup orang tua memiliki pengaruh terhadap tingkat keparahan celah wajah, yaitu CLP dibandingkan CLO atau CPO saja? Dengan kata lain, faktor-faktor apa yang dapat meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan CLP, bukan hanya CLO atau CPO? Mengingat bahwa CLP merupakan bentuk yang lebih berat dibandingkan keduanya, memahami faktor risikonya akan memberikan wawasan lebih luas dalam upaya pencegahan serta perlindungan kesehatan ibu dan anak.

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus-kontrol dengan melibatkan 213 responden dari 14 provinsi di Indonesia. Kelompok kontrol terdiri dari orang tua anak dengan celah bibir saja (cleft lip only/CLO) atau celah langit-langit saja (cleft palate only/CPO). Data diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner, dengan metode sampling acak berstrata untuk memastikan representasi yang lebih akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor lingkungan memiliki kaitan kuat dengan peningkatan risiko CLP. Orangtua yang tinggal di dekat kawasan industri memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan CLP dibandingkan dengan mereka yang tinggal jauh dari kawasan industri. Hal ini dapat dikaitkan dengan kemungkinan paparan polutan udara atau zat kimia berbahaya yang lebih tinggi di daerah industri. Selain itu, keluarga yang menggunakan air minum yang tidak terolah dan mengeluhkan kualitas sumber air juga memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi melahirkan anak dengan CLP dibandingkan dengan keluarga yang mengonsumsi air minum yang diolah dan tidak memiliki keluhan tentang kualitas air. Temuan ini menyoroti pentingnya akses terhadap air bersih bagi kesehatan ibu dan anak.

Paparan terhadap asap rokok pasif merupakan salah satu faktor risiko utama dalam penelitian ini. Anak yang ayahnya terpapar asap rokok pasif memiliki risiko lebih dari dua kali lipat mengalami CLP dibandingkan anak dari ayah yang tidak terpapar. Faktor lain yang berkontribusi adalah konsumsi kafein berlebihan oleh ayah, yang meningkatkan risiko lebih dari dua kali lipat, serta paparan terhadap pelarut kimia oleh ayah yang meningkatkan risiko hingga enam kali lipat. Selain itu, paparan radiasi pada kedua orang tua juga berhubungan dengan peningkatan risiko yang signifikan, dengan risiko sekitar tiga kali lebih tinggi pada ayah dan dua kali lebih tinggi pada ibu.

Penelitian ini memberikan wawasan mengenai faktor lingkungan dan gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko CLP di Indonesia. Hasil ini menegaskan perlunya upaya pencegahan yang lebih sistematis, termasuk pengendalian polusi udara, peningkatan akses terhadap air bersih, serta edukasi mengenai bahaya paparan asap rokok dan bahan kimia selama kehamilan. Selain itu, temuan terkait faktor perlindungan menunjukkan bahwa ada aspek lingkungan yang masih perlu diteliti lebih lanjut untuk memahami bagaimana faktor-faktor ini dapat dimanfaatkan dalam strategi pencegahan.

Dengan meningkatnya pemahaman terhadap faktor risiko CLP, diharapkan dapat dilakukan intervensi yang lebih efektif untuk menurunkan angka kejadian kelainan ini. Penelitian lebih lanjut juga dibutuhkan untuk memperjelas hubungan antara faktor-faktor yang telah ditemukan serta mengembangkan strategi mitigasi yang lebih baik demi kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

Penulis: Rinaldy Jose Nathanael

Sumber: https://doi.org/10.47352/jmans.2774-3047.232