Kusta adalah infeksi granulomatosa kronis dan merupakan salah satu penyakit tropis terabaikan yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yang menginfeksi jaringan kulit mukosa dan saraf perifer, menyebabkan hilangnya sensasi pada kulit dan peningkatan disabilitas selama perkembangan penyakit. Tahun 2011, Kementerian Kesehatan Indonesia melaporkan 23.000 kasus kusta baru, dan lebih dari 200.000 kasus baru dilaporkan tiap tahun dari lebih dari 120 negara.
Sebanyak 30-40% pasien kusta mengalami episode inflamasi yang diperantarai imunitas yaitu reaksi tipe 1 dan reaksi tipe 2, yang disebut juga eritema nodosum leprosum (ENL). ENL adalah gangguan sistemik karena respon imun inflamasi terhadap antigen Mycobacterium leprae, dan merupakan sindrom kompleks imun (reaksi antigen-antibodi yang melibatkan komplemen), menyebabkan peradangan pada kulit, saraf dan organ lain, dan umumnya malaise. ENL akut didefinisikan sebagai episode pertama ENL dengan durasi kurang dari 24 minggu dan ENL kronis terjadi selama lebih dari 24 minggu. Jenis ENL ini dapat memiliki faktor risiko yang berbeda dan memerlukan intervensi terapeutik yang berbeda.
Onset ENL bersifat akut, tetapi dapat berkembang menjadi fase kronis atau berulang dan membutuhkan terapi jangka panjang. Deteksi dini kusta sangat penting, karena infeksinya dapat disembuhkan dan pengobatan yang cepat dapat mengurangi kerusakan saraf dan stigma yang terkait. Pasien ENL kronis membutuhkan kortikosteroid dosis tinggi yang berkepanjangan untuk mengendalikan peradangan pada ENL dan menyebabkan komplikasi parah dan efek samping yang terkait dengan morbiditas dan mortalitas.
Penelitian retrospektif kami lakukan bertujuan untuk menganalisis faktor risiko pasien kusta dengan ENL akut dan ENL kronis di Divisi Kusta Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada 2015-2020 dengan data sekunder dari rekam medis. Hasil penelitian didapatkan pasien kusta dengan ENL sebanyak 234 pasien, 56 pasien (24%) dengan ENL akut dan 89 pasien (38%) dengan ENL kronis.
Hasil uji analisis bivariat didapatkan hubungan antara faktor risiko koinfeksi, durasi MDT, terapi steroid dengan kejadian ENL akut dan kronis. Adanya koinfeksi dan terapi steroid menunjukkan bahwa pasien cenderung menjadi ENL kronis, sebaliknya dengan tidak adanya koinfeksi dan tanpa terapi steroid maka pasien cenderung menjadi ENL akut. Pada pasien RFT atau sebelum MDT lebih cenderung menjadi ENL kronis, dan pasien yang mendapat terapi MDT cenderung menjadi ENL akut. Dari hasil uji analisis multivariat regresi logistik menunjukkan hubungan antara faktor risiko onset ENL sebelum pengobatan MDT dan adanya koinfeksi dengan ENL kronis, sebaliknya onset ENL setelah MDT dan tidak adanya koinfeksi berhubungan dengan ENL akut.
Penulis: Dr.M.Yulianto Listiawan,dr.,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://phcogj.com/article/1906
Risk Factors of Acute and Chronic Erythema Nodosum Leprosum in Dr. Soetomo General Academic Hospital
Ditya Indrawati, Linda Astari, Afif Nurul Hidayati, Sawitri, Damayanti, Budidi Utomo, Bagus Haryo Kusumaputra, Medhi Denisa Alinda, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, M. Yulianto Listiawan





