Imunisasi merupakan satu dari dua hal yang paling berhasil dalam dunia kesehatan masyarakat. Manfaat besar imunisasi telah dirasakan di berbagai negara di seluruh dunia. Salah satu tantangan utama dalam imunisasi adalah pencapaian cakupan yang memuaskan. Apabila imunisasi hanya menjangkau sebagian kecil orang tentu manfaat tidak akan besar. Selama pandemic Covid-19 tantangan tersebut semakin terasa.
Dari semua anggota masyarakat, tenaga kesehatan adalah salah satu yang paling berpengaruh. Banyak anggota masyarakat menjadikan tenaga kesehatan sebagai contoh atau panutan, termasuk dalam hal imunisasi. Apabila tenaga kesehatan mempunyai anak namun status imunisasi anak yang bersangkutan tidak lengkap, boleh jadi akan ada beberapa orng lain yang mengikuti jejek mereka, dan sebaliknya. Hingga saat ini belum banyak diketahui factor apa saja yang mempengaruhi sehingga status imunisasi dari anak seorang tenaga Kesehatan tidak lengkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa faktor risiko imunisasi yang tidak lengkap pada anak tenaga kesehatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Penelitian ini mengandalkan kuesioner yang harus diisi oleh tenaga kesehatan sebagai orang tua. Periode pengumpulan data adalah mulai Desember 2021 hingga April 2022. Ada 148 tenaga kesehatan yang dilibatkan namun 33 di antaranya kembali dalam kondisi tidak lengkap sehingga hanya 115 yang bisa dianalisis. Partisipan terbagi atas kelompok kasus sejumlah 62 (yang imunisasi anaknya tidak lengkap) dan sisanya sebagai kontrol.
Dari analisis terhadap isian kuesioner diketahui rerata umur anak adalah 12,5 bulan. Jumlah laki-laki sedikit melebihi perempuan (51,3 vs 48,7%). Pengetahuan orang tua, pendidikan ibu, dan situasi pandemi Covid-19 berhubungan secara bermakna dengan status imunisasi anak. Pengetahuan orang tua memegang peran penting. Anak dari orang tua dengan pendidikan yang relatif terbatas berisiko 4,8 kali lebih besar untuk mempunyai status imunisasi tidak lengkap. Lebih dari angka itu, anak dari keluarga tenaga kesehatan yang berpenghasilan rendah mempunyai risiko status imunisasi tidak lengkap 8 kali lebih besar.
Pengetahuan orang tua memang merupakan salah satu landasan utama. Kekurangtahuan adalah salah satu alasan terbesar mengapa orang tua tidak melakukan imunisasi pada anak. Cukup banyak tenaga kesehatan yang belum memiliki pengetahuan yang memadai, termasuk tentang imunisasi. Pengetahuan yang rendah juga mempertinggi ketakutan akan munculnya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Sekalipun KIPI yang berhubungan dengan vaksin relatif jarang, apalagi yang bertaraf serius, banyak orang yang berpengetahuan rendah ketakutan untuk melakukan imunisasi.
Pendapatan yang rendah juga berkaitan dengan pengetahuan yang rendah. Pendapatan rendah membuat orang tua tidak mempunyai cukup waktu untuk menghabiskan waktu bersama anak. Sebagian besar orang tua berpenghasilan rendah cenderung mencari pekerjaan sampingan yang akan menghabiskan lebih banyak kesempatan dan peluang bagi keluarga tersebut untuk bersama-sama.
Sekalipun peran ibu sangat penting, ada cukup banyak literatur yang juga mengangkat peran ayah. Dalam beberapa penelitian ayah bahkan lebih berperan besar dibandingkan sang ibu namun dalam penelitian ini hal tersebut tidak terbukti. Dominasi ayah sebagai pemegang keputusan tertnggi dalam keluarga sering meminimalkan pengaruh ibu sekalipun si ibu berpendidikan lebih tinggi dan berpengetahuan lebih banyak disbanding ayah.
Situasi pandemi Covid-19 membuat seluruh kegiatan imunisasi terganggu. Hal ini dirasakan di seluruh dunia. Selama pandemi banyak kegiatan ditiadakan, orang dilarang berkumpul, dan berbagai program kesehatan berhenti. Imunisasi, baik di puskesmas, posyandu, maupun di sarana lain, menjadi salah satu yang paling terdampak.
Imunisasi di sektor swasta pun hampir menghilang. Mengingat penelitian dilakukan selama situasi pandemi, jelas pengaruh Covid-19 dominan. Hal ini mungkin akan berbeda jika penelitian dilakukan di penghujung atau setelah pandemi berakhir. Beberapa lembaga dunia memperkirakan tiga tahun situasi pandemi telah membawa dunia mundur ke tahap 10 tahun yang lalu. Jelas ini menjadi beban yang sangat berat.
Sebagai kesimpulan, pengetahuan keluarga dan pendapatan yang rendah menjadi faktor utama yang berhubungan dengan status imunisasi anak tenaga kesehatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Intervensi perlu dilakukan untuk menaikkan derajat pengetahuan seluruh anggota keluarga serta membantu keluarga tersebut untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Tanpa upaya tersebut akan sulit mengharap status imunisasi anak akan membaik secara bermakna, bahkan ketika situasi pandemi sudah berakhir.
Penulis : Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MSc (CTM);Sp.A(K)





