Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan lebih rendah dari standar usia dan jenis kelamin, yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, atau faktor lingkungan yang buruk. Stunting biasanya terjadi dalam 1.000 hari pertama kehidupan (dari kehamilan hingga usia 2 tahun), periode penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Kasus stunting di Kabupaten Gresik sebagian besar terkonsentrasi di desa-desa pesisir. Di antara 23 desa di 9 kecamatan di daerah pesisir memiliki angka stunting lebih tinggi dibandingkan dengan desa di daerah perkotaan.
Dilakukan studi cross sectional untuk menganalisis faktor risiko stunting pada anak usia 0-24 bulan yang tinggal di daerah pesisir. Populasi adalah ibu-ibu dari anak-anak berusia 0-24 bulan yang tinggal di daerah pesisir Gresik. Sebanyak 140 ibu dipilih sebagai partisipan dari desa-desa tersebut menggunakan metode pengambilan sampel acak sederhana. Kriteria inklusi yaitu ibu yang memiliki anak dalam rentang usia 0-24 bulan yang tinggal di wilayah pesisir Gresik.
Hasil studi menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan berhubungan dengan stunting meliputi penyakit menular (p = 0,037, Rasio Odds [OR]: 1,751, 95% CI: 1,039-4,118), asupan protein (p < 0,001, OR: 3,395, 95% CI: 1,789-7,623), pengetahuan ibu tentang nutrisi (p = 0,001, OR: 0,919, 95% CI: 1,616-6,612), dan sanitasi air (p = 0,036, OR: 2,897, 95% CI: 0,239-0,959). Hasil studi menunjukkan bahwa risiko stunting pada anak yang diberikan ASI sebesar 3,637 kali lebih besar dibandingkan anak yang mendapatkan ASI. Perilaku preventif. Keluarga untuk mencegah stunting adalah melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk balita di pusat layanan kesehatan, memastikan perawatan segera ketika mereka sakit, memberikan nutrisi yang sesuai usia, dan mendukung kesehatan ibu selama kehamilan. Studi ini mengungkapkan bahwa keluarga di daerah pesisir sering menghadapi tantangan dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan ini karena keterbatasan waktu dan kurangnya pengetahuan tentang perawatan anak yang sakit. Banyak dari keluarga ini menganggap balita yang menolak makan dan gagal menambah berat badan sebagai hal yang biasa. Mereka biasanya baru menyadari bahwa anak mereka sakit ketika petugas kesehatan memberi tahu mereka tentang masalah perkembangan.
Hasil penelitian ini dapat digunakan dalam pengembangan model bantuan perilaku gizi bagi keluarga berisiko stunting yang dilakukan oleh kader-kader efektif yang diharapkan dapat mencegah terjadinya stunting di daerah pesisir Kabupaten Gresik.
Penulis : Dwi Faqihatus S. Has, Fariani Syahrul, Annis Catur Adi, Rahmad Bin Dapari
Dimuat di       : Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences 21(SUPP7): 110-116, September 2025 https://medic.upm.edu.my/our_journal/volume_21_2025/mjmhs_vol21_supp_7_september_2025-88490  Â





