Universitas Airlangga Official Website

Faktor yang Berperan Penting dalam Pemilihan Jenis Alas Kontrasepsi di Jawa Timur

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk cukup tinggi di dunia. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) tahun 2021 sebesar1,07%. Hal ini sejalan dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan  terdapat pertambahan penduduk Indonesia sebesar 32,56 juta jiwa jika dibandingkan dengan sensus penduduk pada tahun 2010.

Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi ancaman apabila sebuah negara tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penduduk adalah menggalakkan program Keluarga Berencana (KB). Salah satu pelaksanaan dari program KB adalah kaitannya dengan ketercapaian pengguna Alat Kontrasepsi.

Program sasaran dari BBKBN Provinsi Jawa Timur adalah meningkatkan presentase pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate) atau disingkat CRR dan meningkatkan jumlah peserta aktif KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (KB MJKP). Metode Kontrasepsi secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, implant dan steril (vasektomi pria dan tubektomi wanita). Sedangkan kontrasepsi tradisional diantaranya terdiri dari penggunaan kalender, senggama terputus, minum jamu dan lain sebagainya.

Dari hasil laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2018 target pengguna KB jenis MKJP hanya 21 persen, masih jauh dari targer Renstra dari Pemerintah. Kondisi ini juga dialami di Jawa Timur, tren pengguna kontrasepsi tradisional mengalami kenaikan, padahal apabila dilihat dari segi efektivitasnya pengguna kontrasepsi tradisional memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi. Oleh karena itu dilakukan riset dengan analisis decision tree untuk mendapatkan variabel atau faktor apa saja yang berperan penting dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi di Jawa Timur.

Adanya perkembangan teknologi memfasilitasi BKKBN untuk mengoptimalisasikan upaya promosi melalui salah satunya melakukan klasifikasi Analisis klasifikasi dengan metode decision tree perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana klasifikasi atau model terbaik untuk mengoptimalkan promosi program keluarga berencana melalui kegiatan non tatap muka.

Riset ini tergolong non reaktif atau unobstrusive, dimana tidak memerlukan respon dari subyek yang diteliti. Data yang digunakan adalah data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2018 di Provinsi Jawa Timur dengan sasaran unit analisis Wanita Usia Subur (WUS) yang berusia 15 hingga 49 tahun.

Data di lapangan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang cukup tinggi dari method information index dalam kepemilihan alat kontrasepsi pada pasangan usia subur. Pasangan usia subur yang memiliki akses informasi yang baik lebih cenderung untuk memilih alat kontrasepsi modern. Faktor lain yang memiliki kaitan pada model decision tree adalah domisili tinggal pada pasangan usia subur.

Pada domisili pedesaan, pasangan usia subur memiliki karakteristik pendidikan rendah dengan pengetahuan masa subur yang rendah. Sedangkan pada pasangan usia subur yang tinggal diperkotaan memiliki karakteristik pendidikan tinggi dengan pengetahuan masa subur yang baik.

Riset menunjukkan bahwa Pasangan Usia Subur memiliki akses yang kurang untuk mendapatkan MII. Padahal, Informasi merupakan bahan dasar penting dalam proses pengambilan keputusan. Semakin lengkap informasi yang diperoleh atau dimiliki seseorang memudahkan yang bersangkut untuk mengambil keputusan dengan cepat dan benar. Hasil SDKI 2017 untuk provinsi Jawa Timur memberikan gambaran bahwa dari 6,7 persen wanita kawin usia 15-49 tahun yang menggunakan Alat kontrasepsi tradisional semuanya tidak memperolah 3 informasi dengan baik.

Informasi tersebut diantaranya berkaitan dengan alat kontrasepsi, efek sampingnya dan alternatif alat kontrasepsi yang digunakan. Hal tesebut sesuai dengan kenyataan bahwa ketika wanita tidak terpapar dengan informasi berkaitan dengan KB dengan baik maka kemungkinan memiliki kemampuan untuk memilih penggunaan alat kontrasepsi KB yang kurang tepat. Hal tersebut diperparah dengan WUS tidak pernah mendapatkan kunjungan dari Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) sehingga tidak memiliki KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) yang memadai terkait metode kontrasepsi.

Pentingnya seorang PUS (Pasangan Usia Subur) mendapatkan informasi yang tepat akan meningkatkan pengetahuan dalam pengambilan keputusan untuk memilih alat kontrasepsi yang lebih efektif seperti jenis MKJP. Secara tidak langsung kondisi ini akan meningkatkan target ketercapaian pengguna kontrasepsi modern yang berdampak pada keberhasilan dari BKKBN dalam mengendalikan laju penduduk.

Penulis: Indah Lutfiya

Artikel lengkapnya dapat dilihat di:

https://pubs.aip.org/aip/acp/article-abstract/2595/1/090011/2890716/Classification-analysis-using-decision-tree-on?redirectedFrom=fulltext