bdullah Muhammad Irsyad Syaifudin, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) selepas menonton film FOUFO yang menginspirasinya menulis esai film dalam Kompetisi Esai Film UI Film Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (UI) pada Minggu (23/8/2026) hingga Senin (12/10/2026). (foto: Abdullah Muhammad Irsyad Syaifudin)

Film FOUFO Bawa Mahasiswa UNAIR Juara 1 Esai Film Nasional

28 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Berangkat dari keresahan atas sinema arus utama Indonesia yang kerap mengangkat keseragaman formal bahasa maupun model penceritaannya, membawa Abdullah Muhammad Irsyad Syaifudin, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) meraih juara satu dalam Kompetisi Esai Film UI Film Festival 2026. Kompetisi persembahan Universitas Indonesia (UI) ini pada Minggu (23/8/2026) hingga Senin (12/10/2026). Selain membedah film FOUFO lewat tema Sandiwara Anuraga, Irsyad juga menyoroti bagaimana film ini membongkar realitas sosial mengenai stigma dan stereotip yang melekat pada masyarakat madura.

“Arus utama sinema Indonesia biasanya berbahasa nasional, dan kalaupun ada bahasa lokal, itu sekadar pengisi. Namun, di film FOUFO ini, 90 persen menggunakan bahasa Madura. Terlebih, jika kita tahu bahwa sekarang stigma atau stereotip terhadap orang Madura masih tinggi,” ungkapnya. 

Dobrak Eksploitasi Kemiskinan 

Lewat esainya, dekonstruksi terhadap visualisasi kemiskinan pada film FOUFO menjadi poin krusial. Di saat sinema arus utama (mainstream) menarik minat penonton dengan eksploitasi dan adegan melodramatis penderitaan kaum marjinal hanya untuk mengundang rasa iba, film FOUFO justru mengusung pendekatan sebaliknya. “Memang kalau melihat sinema arus utama itu kemiskinan sering dijadikan bahan eksploitasi. Sekaligus, didramatisir supaya bisa memancing rasa sedih dan iba penonton,” tuturnya. 

Tuntutan sosial dan kasih sayang dalam keluarga menjadi konflik film. Melalui interaksi antartokoh, Irsyad berupaya mengajak pembaca untuk mempertanyakan ulang tolok ukur nilai kemanusiaan sejati. Lebih jauh, ia turut mendorong pembaca untuk melihat kemiskinan dari kacamata struktural. 

“Kemiskinan tidak boleh hanya dipahami sebagai akibat dari kurangnya usaha individu. Sebab ada persoalan akses, ketimpangan ekonomi, dan kerentanan pekerjaan yang turut membentuk kehidupan seseorang,” imbuhnya. 

Tekankan Tanggung Jawab Sivitas Akademika

Tidak sekadar berbicara mengenai ulasan estetika film, karya tulis milik Irsyad menjadi bingkai kritik sosial yang tajam sekaligus merefleksikan peran penting sivitas akademika. Perspektif struktural yang melekat dalam karya menjadi jembatan bagi sivitas akademika agar tidak menjauh dari realitas sosial. 

Sejalan dengan semangat Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pilar pengabdian kepada masyarakat, karya ini menjadi seruan agar para akademisi senantiasa membuka mata terhadap realitas sosial dengan berpihak pada kemaslahatan masyarakat luas. “Kita di sini sebagai akademisi tentu saja yang menjadi fokus dan yang kita kejar adalah kemaslahatan masyarakat,” pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Ragil Kukuh Imanto 

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top