Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Formulasi film pelarut mukoadhesif yang mengandung sinamaldehida dan kitosan yang menggabungkan enzim papain untuk menghambat kandidiasis oral: studi in vitro

8 Views•3 minutes read
Pendahuluan

Oral kandidiasis merupakan infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida albicans dan sering terjadi pada pasien diabetes mellitus akibat melemahnya sistem imun. Pengobatan konvensional seperti tablet, kapsul, gel, dan suspensi oral memiliki berbagai keterbatasan, mulai dari kesulitan menelan, ketidakstabilan terhadap panas dan cahaya, hingga efek samping pada fungsi hati. Sebagai solusi inovatif, formulasi film mukoadhesif terlarut dikembangkan karena sifatnya yang larut dalam air, elastis, dan tidak mengiritasi mukosa mulut.

Penelitian ini mengembangkan film mukoadhesif berbahan aktif cinnamaldehyde yang diekstrak dari kayu manis (Cinnamomum burmannii), dikombinasikan dengan kitosan kulit udang (Litopenaeus vannamei) yang dimodifikasi menggunakan enzim papain dari getah pepaya (Carica papaya L.). Inovasi ini bertujuan menghasilkan sediaan topikal oral yang efektif menghambat pertumbuhan C. albicans pada pasien dengan kondisi imunosupresi.

Metode Penelitian

Penelitian eksperimental laboratoris ini dilaksanakan pada Mei-Juni 2024 di tujuh laboratorium Universitas Hasanuddin (UH), Universitas Muslim Indonesia (UMI), dan Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP). Telah mendapat persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan No. 0100/PL.09/KEPK FKG-RSGM UNHAS/2024.

Cinnamaldehyde diisolasi dari minyak esensial kayu manis melalui metode distilasi uap, sementara kitosan diperoleh melalui empat tahapan: deproteinasi, demineralisasi, depigmentasi, dan deasetilasi kitin dari kulit udang (derajat deasetilasi 93,47%). Enzim papain diisolasi dari getah pepaya segar, lalu digunakan untuk mendepolimerisasi kitosan agar dapat larut pada pH netral. Delapan formula film (F1-F8) dibuat dengan variasi konsentrasi cinnamaldehyde (1-3%), kitosan (2-4%), PVP (0/50%), dan PEG 400 (0,2-0,5%) menggunakan metode solvent casting. Uji yang dilakukan meliputi: aktivitas antijamur (difusi cakram SDA terhadap C. albicans), toksisitas (BSLT), organoleptis, waktu larut, ketebalan, pH, absorpsi, kekuatan tarik, durabilitas pelipatan, FTIR, dan SEM.

Hasil dan Pembahasan

Dari delapan formula yang dikembangkan, Formula F8 (cinnamaldehyde 3% + kitosan 4% + PEG 400 0,4%) terbukti paling optimal. Aktivitas antijamur terhadap C. albicans menunjukkan zona hambat rata-rata 25,3 mm, yang termasuk kategori sangat kuat (>20 mm). Uji toksisitas menggunakan BSLT menghasilkan nilai LC50 sebesar 2.661,83 ppm, jauh di atas ambang batas 1.000 ppm, sehingga sediaan dikategorikan tidak toksik dan aman digunakan.

Karakteristik fisikokimia F8 memenuhi semua persyaratan standar: waktu larut 5 menit dalam saliva buatan (pH 6,8), ketebalan 0,24 mm, pH 7,39 (sesuai pH rongga mulut normal 6,2-7,45), kekuatan tarik 7,482 MPa (jauh melampaui batas minimum 0,392 MPa), durabilitas pelipatan 310 kali, dan kapasitas absorpsi 2,2203 mg/g. Analisis FTIR mengonfirmasi keberadaan gugus fungsi utama cinnamaldehyde dan kitosan dalam komposisi film, sedangkan hasil SEM memperlihatkan permukaan film F8 yang halus, padat, dan merata tanpa pori maupun retakan, menandakan struktur yang optimal untuk mengontrol hidrasi dan pelepasan obat.

Keunggulan F8 dibandingkan formula lain disebabkan oleh kombinasi yang tepat tanpa penambahan PVP, yang memberikan kekuatan tarik dan durabilitas lipat tertinggi. Cinnamaldehyde bekerja sebagai antijamur melalui penghambatan enzim secreted aspartic proteases (SAP) 4-6 pada C. albicans serta merusak sintesis (1,3)-β-D-glukan pada dinding sel jamur. Enzim papain berhasil meningkatkan kelarutan kitosan pada pH netral melalui depolimerisasi ikatan glikosidik β(1,4), sehingga kitosan yang secara alami hanya larut dalam kondisi asam dapat berfungsi sebagai polimer pembentuk film di lingkungan rongga mulut.

Kesimpulan

Penelitian ini berhasil memformulasikan film mukoadhesif terlarut berbahan cinnamaldehyde dan kitosan kulit udang yang diinkorporasikan dengan enzim papain. Formula F8 menunjukkan karakteristik paling optimal, dengan aktivitas antijamur kuat terhadap C. albicans, profil toksisitas yang aman, serta sifat fisikomekanik yang memenuhi standar sediaan film oral. Inovasi ini berpotensi menjadi alternatif terapi oral kandidiasis yang lebih efektif dan nyaman, khususnya bagi pasien diabetes mellitus. Peneliti merekomendasikan uji lanjutan berupa uji klinis pada mukosa mulut manusia untuk memvalidasi efektivitas sediaan ini secara in vivo.

Sumber: Akhriani AA, et al. Formulation of mucoadhesive dissolving film containing cinnamaldehyde and chitosan incorporating papain enzyme for inhibit oral candidiasis: in vitro study. Scientific Reports. 2026;16:16715. https://doi.org/10.1038/s41598-026-45154-4

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .