Universitas Airlangga Official Website

FST UNAIR Bahas Dampak Lingkungan Produk Lewat LCA

Pemaparan materi oleh Chendra Ainun Naufal S T mengenai penerapan life cycle assessment dalam mengukur dampak lingkungan produk dan proses. (Foto: Istimewa).
Pemaparan materi oleh Chendra Ainun Naufal S T mengenai penerapan life cycle assessment dalam mengukur dampak lingkungan produk dan proses. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Dibalik setiap produk yang digunakan memiliki sebuah cerita yang dipendam, seperti dampak yang ditimbulkan oleh produk. Pada Sabtu (23/5/2026) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan seminar Green Impact Talk (GRIT): Life Cycle Assessment (LCA) Insight di GKB Kampus C Universitas Airlangga dalam mengukur dampak lingkungan produk dan prosesnya. 

Menghadirkan praktisi Chendra Ainun Naufal S T sebagai narasumber berpengalaman dalam mengelola proses LCA di beberapa perusahaan besar. Seminar ini membahas mengenai evaluasi dampak menyeluruh dengan prinsip LCA serta Focus Group Discussion menganalisis dampak lingkungan yang juga turut dilakukan. 

Chendra Ainun Naufal S T mengatakan Life Cycle Thinking merupakan pendekatan menyeluruh yang tidak hanya melihat proses produksi di pabrik, melainkan juga mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari suatu  produk. LCA diterapkan di berbagai sektor seperti industri, pertanian, pangan, hingga pembangkit energi.

“Fokus pembahasan kali ini pada implementasi LCA di bidang industri dan perusahaan. Berpikir berkelanjutan yang berarti suatu proses mulai dari bahan baku, proses produksi, penggunaan, hingga saat dibuang dan didaur ulang. Tidak semata-mata diproduksi, tetapi limbah yang dihasilkan seperti emisi, sampah, dan lainnya bisa berkurang” ujar Chendra. 

Selain itu, Life Cycle Management dan LCA merupakan implementasi serta analisis menyeluruh yang dilakukan secara mendalam untuk praktik bisnis modern, dengan mengelola siklus hidup secara total produk dan jasa menuju konsumen. “LCA ini penting dilakukan untuk menghasilkan produk yang lebih bersih, implementasi persyaratan regulasi, pemahaman sistem produk, peningkatan keberlanjutan, dan eco-label atau label ramah lingkungan,” ujar Chendra. 

Goal dan scope adalah tahap pertama dalam analisis LCA yang menentukan tujuan penelitian serta batasan-batasan yang akan dikaji. Tahap ini mencakup beberapa hal penting seperti sistem produk apa yang diteliti, unit fungsional sebagai tolok ukur, serta batas sistem yang akan dianalisis.

Terdapat dua pendekatan umum yang sering digunakan untuk menentukan batasan sistem, pertama adalah cradle to gate yakni dari awal produksi hingga gerbang pabrik berisi analisis yang mencakup tahap produksi. Mulai dari pengambilan bahan baku hingga produk jadi. Pendekatan kedua adalah cradle to grave  yang mencangkup analisis seluruh siklus hidup produk,  mulai dari produksi, distribusi, penggunaan oleh konsumen, hingga akhir masa pakai produk seperti proses daur ulang, pengomposan, atau pembuangan akhir.

Selain itu, untuk mengumpulkan data LCA diperlukan Life Cycle Inventory (LCI) untuk mencatat input dan output dari produk selama siklus hidupnya, seperti material, energi, dan polutan yang terlibat. 

“Setelah mengumpulkan data, terdapat Life Cycle Impact Assessment dan interpretation yang merupakan tahap pembahasan dari kategori dampak yang ditimbulkan. Kategori tersebut kemudian dikorelasikan dengan tujuan dan lingkup kajian,” ujar Chendra.

Terakhir, implementasi yang dilakukan oleh perusahaan dengan kewajiban memenuhi regulasi atau LCA in proper sebagai syarat mencapai peringkat proper yaitu hitam, merah, biru, hijau, dan emas. Peringkat minimal perusahaan di Indonesia adalah proper hijau akan berpengaruh ke segala aspek. 

Penulis: Fauziah Kandela 

Editor: Khefti Al Mawalia