UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan SAGAVET 2026 dengan tema “Dampak Penyakit Newcastle dan Kualitas Pakan terhadap Ketersediaan Pangan, serta Peningkatan Kesehatan bagi Pemilik Hewan Kesayangan”. Pada kesempatan ini, FKH sekaligus gelar “Peluncuran Buku 55 Tahun FKH UNAIR”. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (23/05/2026) di Rama Ballroom Lt.1, Hotel Wyndham Surabaya. Salah satu narasumber, Drh. Henri E. Prasetyo, M.VSc memaparkan materi bertajuk Design Functional Feed for Functional Food: Precision Nutrition to Improve Egg and Poultry Meat Quality.
Dalam pemaparannya, Henri menjelaskan bahwa perkembangan pangan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada rasa dan nilai gizi dasar. Perkembangan pangan saat ini berfokus pada manfaat kesehatan yang ada dalam suatu produk pangan. Menurutnya, telur dan daging unggas kini mulai berkembang sebagai functional food yang memiliki nilai tambah bagi kesehatan konsumen.
Functional Feed dan Perkembangan Functional Food
Henri menjelaskan bahwa konsep functional feed merupakan strategi pemberian pakan dengan formulasi khusus untuk menghasilkan produk pangan hewani yang memiliki manfaat kesehatan lebih baik. Menurutnya, saat ini masyarakat memilih telur tidak hanya karena rasa atau kandungan nutrisi dasarnya. Masyarakat kini sadar akan potensi telur sebagai functional food yang dapat mendukung kesehatan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa pengembangan precision nutrition menjadi salah satu pendekatan penting dalam meningkatkan kualitas telur dan daging unggas. Melalui formulasi pakan yang tepat, produk unggas dapat memiliki kandungan nutrisi tertentu yang lebih optimal dan sesuai dengan kebutuhan konsumen modern.
Selain itu, Henri juga menyoroti adanya perbedaan kandungan nutrisi antara telur fungsional dan telur komoditas biasa. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kualitas produk unggas sangat dipengaruhi oleh komposisi pakan yang diberikan selama proses produksi. Menurutnya, inovasi dalam formulasi pakan menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan produk pangan hewani yang lebih sehat dan berkualitas tinggi.
“Optimizing feed formulation is no longer about choosing cheaper ingredients, but about making smarter nutritional decisions,” ujar Henri saat menjelaskan pentingnya strategi nutrisi dalam pengembangan functional feed.
Tantangan Pengembangan Functional Feed di Indonesia
Dalam sesi berikutnya, Henri menjelaskan bahwa pengembangan functional feed masih menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut dari sisi teknologi, biaya produksi, maupun edukasi masyarakat terhadap produk functional food. Menurutnya, inovasi dalam bidang pakan ternak perlu terus dikembangkan agar mampu menghasilkan produk pangan hewani yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi di pasar global.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan industri peternakan dalam mendukung pengembangan functional feed di Indonesia. Menurut Henri, pengembangan pakan berkualitas tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas pangan yang masyarakat konsumsi sehari-hari.
Selain itu, Henri menilai bahwa perkembangan teknologi nutrisi ternak dapat menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas produk unggas nasional. Dengan formulasi pakan yang lebih tepat, produk peternakan Indonesia dinilai memiliki potensi untuk bersaing di tingkat internasional. Selain itu, terlebih lanjut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pangan sehat.
Melalui kegiatan SAGAVET 2026, FKH UNAIR berharap pembahasan terkait functional feed dapat meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya inovasi nutrisi dalam dunia peternakan. Terlebih lagi, mendorong pengembangan pangan hewani yang lebih sehat, berkualitas, dan berkelanjutan.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





