Universitas Airlangga Official Website

Gagas Formulasi Trilogi untuk Pecahkan Persoalan Pendidikan, Mahasiswa UNAIR Raih Juara Nasional

Daniel Trisakusumo saat memaparkan esainya secara daring dalam babak final Gema Literasi Nasional 2026 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Melalui esai “Membebaskan Sekolah Rakyat dari Operational Gridlock: Formulasi Trilogi sebagai Manifesto Gerakan Pemuda”, Daniel Trisakusumo menawarkan solusi holistik berupa pendampingan mahasiswa, pengawasan civic-tech, hingga kurikulum vokasi untuk mengurai kebuntuan tata kelola pendidikan nasional. Gagasan tersebut mengantarkan mahasiswa Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR 2023 ini meraih Juara III Gema Literasi Nasional 2026 yang terselenggara secara daring oleh BEM Kampus II INSYA Bangkalan. 

Gagasan esai Daniel berangkat dari keprihatinannya terhadap implementasi awal program Sekolah Rakyat yang ditujukan untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Ia mengidentifikasi adanya kesenjangan antara tujuan kebijakan dengan realisasi di lapangan, yang berdampak pada ketidaksiapan sistem. 

“Dalam esai, saya menyebut kondisi tersebut sebagai operational gridlock. Yaitu kebuntuan operasional yang muncul karena implementasi program lebih cepat dibanding kesiapan tata kelola, sumber daya manusia, maupun regulasinya,” ungkap Daniel.

Guna mengatasi kebuntuan tersebut, Daniel merumuskan tiga pilar strategis yang disebut Formulasi Trilogi. Pilar pertama adalah Peer-Mentorship, yaitu pelibatan mahasiswa sebagai pendamping psikososial sekaligus sarana penguatan kaderisasi guru lokal. Pilar kedua adalah Platform Civic-Tech Kawal Sekolah Rakyat sebagai sistem pengawasan partisipatif berbasis teknologi untuk menjamin transparansi program.

“Sementara pilar ketiga berupa Rekonstruksi Kurikulum Vokasi Kontekstual yang menyelaraskan pendidikan dengan potensi ekonomi daerah agar lulusan memiliki keterampilan relevan. Ketiga pilar tersebut dirancang saling melengkapi untuk memperkuat keberlanjutan Program Sekolah Rakyat secara holistik,” jelasnya.

Proses penyusunan karya ini menyimpan cerita unik tersendiri. Awalnya, Daniel berencana mengkaji isu gerakan mahasiswa dalam menjaga demokrasi. Namun, pengamatannya terhadap isu nasional mengalihkan perhatian pada tantangan nyata program Sekolah Rakyat. Seperti fenomena pengunduran diri guru hingga adaptasi siswa di sistem asrama. Dari sana, ia menyadari bahwa peran kritis pemuda tidak melulu diwujudkan lewat aksi demonstrasi di jalanan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa gerakan pemuda pada era sekarang dapat terwujud melalui kontribusi nyata dan konstruktif sebagai problem solver. Gerakan mahasiswa bukan hanya tentang menyuarakan aspirasi, tetapi juga menghadirkan solusi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

Menyusun kritik objektif di tengah keterbatasan data sekunder menjadi tantangan utama Daniel. Namun hal itu justru semakin menegaskan pentingnya riset mendalam berbasis data. Ia berharap Formulasi Trilogi dapat menjadi rujukan kebijakan Sekolah Rakyat sekaligus pemantik semangat mahasiswa UNAIR untuk berani berkarya.

“Tantangan data mengajarkan saya pentingnya riset yang kuat. Jangan takut ikut lomba walau belum berpengalaman. Mulailah dari isu yang terdekat dan tawarkan solusi orisinal karena menulis esai adalah sarana memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.

Editor: Yulia Rohmawati