Tim mahasiswa Akuakultur FPK UNAIR (dari kiri ke kanan: Regita Aurelia Azzahra, Moch. Birr Bik Maylandry, dan Rizka Aulya Ramadhani) mengabadikan momen dengan piagam Bronze Medal usai penganugerahan Mandalika Essay Competition (MEC) 9 di Auditorium Universitas Mataram, Lombok. (Foto: Dok. Istimewa)

Gagas Pakan Fungsional Berbasis Sumber Daya Laut, Tim Akuakultur UNAIR Sabet Medali di MEC 9

43 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Memadukan potensi rumput laut cokelat (Sargassum) dan limbah tinta cumi menjadi pakan fungsional pencegah penyakit ikan mengantarkan tiga mahasiswa Akuakultur FPK UNAIR mengukir prestasi nasional. Inovasi besutan Regita Aurelia Azzahra, Moch. Birr Bik Maylandry, dan Rizka Aulya Ramadhani ini berhasil mengamankan Bronze Medal subtema pangan pada perhelatan Mandalika Essay Competition (MEC) 9 di Auditorium Universitas Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (24–26/10/2026).

Capaian membanggakan tersebut diraih melalui karya esai bertajuk From Cure to Prevention: Generasi Muda Membangun Akuakultur sebagai Pilar Ketahanan Pangan Masa Depan. Gagasan ini hadir sebagai jawaban dalam merespons ancaman serangan penyakit pada komoditas perikanan yang kerap memicu kerugian ekonomi bagi pembudidaya.

Fokus utama karya ini menekankan pentingnya menggeser paradigma manajemen kesehatan perikanan. Tim mendorong pergeseran dari pendekatan yang berfokus pada pengobatan setelah timbul penyakit (treatment-oriented) menjadi tindakan pencegahan sejak dini (prevention-oriented).

Langkah ini krusial mengingat penanganan yang baru dilakukan saat timbul gejala klinis acap kali sudah terlambat. Selain itu, penggunaan antimikroba yang kurang bijak berisiko memicu fenomena resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) pada organisme budidaya.

“Ketahanan pangan tidak hanya tentang menyediakan makanan yang cukup, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksinya. Ikan yang sehat dan kelangsungan hidup yang tinggi menjadi bagian penting menjaga pasokan protein masyarakat,” ujar Regita mewakili tim.

Lebih lanjut, untuk mengimplementasikan konsep pencegahan tersebut, tim merancang formulasi pakan fungsional berbasis sumber daya laut lokal. Mereka menggabungkan Sargassum (rumput laut coklat) yang kaya akan polisakarida dan senyawa bioaktif guna memperkuat sistem imun serta pertahanan antioksidan organisme budidaya.

Tak hanya itu, tim juga memanfaatkan tinta cumi yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah perikanan. Kandungan melanin dan peptida di dalamnya dinilai ampuh memicu respons antimikroba. “Kami ingin mengubah limbah menjadi bahan bernilai tambah yang mampu memberikan perlindungan ganda bagi ikan dan udang,” ungkap Regita.

Kebaruan dari gagasan ini terletak pada penggabungan kedua bahan fungsional tersebut agar menghasilkan efek yang saling melengkapi. “Pemanfaatan kombinasi ini bertujuan untuk mendukung pertahanan internal organisme sekaligus mengelola tekanan patogen dari luar. Keduanya diposisikan sebagai pelengkap sistem pencegahan, bukan pengganti mutlak obat, antibiotik, atau manajemen kualitas air,” tambah Regita.

Meski berbasis kajian literatur, gagasan yang dirancang sejak pertengahan Agustus ini, siap dilanjutkan ke tahap eksperimen. “Selanjutnya kami akan menentukan dosis optimal dan melakukan uji tantang patogen di laboratorium agar inovasi ini benar-benar berdampak bagi pembudidaya,” tutup Regita.

Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy

Editor: Khefti Al Mawalia

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top