UNAIR NEWS – Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual (LPJPHKI) Universitas Airlangga (UNAIR) mempertegas posisinya dalam menjaga kredibilitas publikasi ilmiah di tengah maraknya arus teknologi. Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi bersama Enago dalam webinar bertajuk RESPONSIBLE USE OF AI IN ACADEMIC RESEARCH AND WRITING yang dilaksanakan secara daring via zoom meeting pada Senin (16/3/2026).
Acara itu dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development (RICD) UNAIR, Prof dr Muhammad Miftahussurur M Kes Sp PD KGEH Ph D FINASIM. Sinergi internasional itu menghadirkan narasumber utama Radwa El-Khatib, seorang trainer profesional dari Scholarly Publishing & AI for Research di Enago.
Membedakan Asisten Penulisan dan Generator Konten
Dalam sambutannya, Prof. Miftahussurur menekankan bahwa teknologi AI harus disikapi secara proporsional. Ia menggarisbawahi bahwa efisiensi yang ditawarkan AI jangan sampai menggerus nilai-nilai kejujuran dalam berilmu. Radwa El-Khatib, dalam pemaparannya juga mengupas tuntas batasan antara penggunaan AI yang bersifat akseptabel dengan yang tergolong pelanggaran akademik (academic misconduct). Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah perbedaan mendasar antara AI sebagai asisten penulisan (writing assistant) dan AI sebagai generator konten (content generator).
“Penting bagi para peneliti untuk memahami bahwa AI dapat digunakan secara bijak untuk membantu memperbaiki struktur kalimat atau menyempurnakan tata bahasa. Namun, AI tidak dibenarkan untuk menciptakan konten atau ide orisinal secara otomatis dalam sebuah manuskrip,” jelasnya. Penggunaan AI untuk menghasilkan bagian atau keseluruhan teks tanpa proses berpikir manusia dapat merusak orisinalitas riset yang tengah dijalankan.
Menjaga Orisinalitas dan Kualitas Publikasi
Lebih lanjut, webinar kolaboratif itu juga menggarisbawahi bahwa kecanggihan algoritma AI tidak akan pernah bisa menggantikan peran keahlian manusia (human expertise). Pemikiran kritis dan kedalaman disiplin ilmu yang dimiliki oleh seorang peneliti tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas sebuah karya ilmiah. Menurut Radwa, tinjauan manusia (human review) tetap bersifat mutlak. Hal itu dikarenakan AI memiliki keterbatasan dalam memahami konteks budaya, etika, dan nuansa keilmuan yang spesifik.
“AI hanyalah alat pendukung. Keputusan akhir, interpretasi data, serta pertanggungjawaban ilmiah sepenuhnya berada di tangan penulis,” imbuhnya.
Poin terakhir yang dibahas dalam webinar tersebut adalah mengenai transparansi. Peserta diajak untuk memahami kebijakan jurnal dan praktik terbaik (best practices) dalam mendokumentasikan setiap bantuan yang diterima dari perangkat AI. Transparansi ini dianggap sebagai bentuk kejujuran akademik untuk memastikan bahwa pembaca dan editor mengetahui secara jelas mana bagian yang didukung oleh teknologi dan mana yang merupakan hasil pemikiran mandiri penulis.
Melalui webinar yang diinisiasi oleh LPJPHKI ini, harapannya sivitas akademika UNAIR dapat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi AI. Sehingga, reputasi publikasi ilmiah kampus tetap terjaga di kancah global.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia





