Kesehatan reproduksi sapi potong erat kaitannya dengan faktor manajemen peternakan seperti menajemen nutrisi, manajemen kandang, manajemen lingkungan dan manajemen indukan, jika manajemen ternak baik maka reproduksi sapi potong juga berjalan dengan baik. Kekurangan nutrisi dalam tubuh dalam jangka waktu yang lama akan mempengaruhi fungsi reproduksi, efisiensi reproduksi yang rendah, dan akhirnya produktivitas yang rendah. Kekurangan nutrisi juga akan mempengaruhi fungsi hipofisis anterior sehingga produksi dan sekresi hormon FSH dan LH yang lebih rendah, akibatnya ovarium tidak berkembang dan gangguan reproduksi terjadi. Umur dapat berhubungan langsung dengan adanya gangguan reproduksi, jika usia sapi potong semakin tua maka kualitas produksi dan reproduksi sapi potong akan menurun dan ternak menjadi rentan terhadap gangguan reproduksi.
Lingkungan merupakan salah satu faktor terjadinya kasus gangguan reproduksi. Ketika sanitasi kandang yang buruk dapat diindikasikan manajemen pemeliharaan ternak buruk. Banyaknya gangguan reproduksi sapi potong di Kabupaten Kerek Tuban perlu dibuat program kesehatan reproduksi yang efektif pada peternakan agar menghasilkan efisiensi reproduksi yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak yang berlipat ganda sebelum dan dalam menanggulangi kasus gangguan reproduksi pada ternak, maka upaya yang perlu dilakukan adalah melaksanakan program kesehatan reproduksi, yang disiapkan dengan data ternak tentang gangguan reproduksi.
Mendukung kesehatan reproduksi yang efektif program pada ternak untuk meminimalkan kejadian kasus gangguan reproduksi, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebab reproduksi gangguan di antara beberapa faktor termasuk pakan, pengetahuan tentang usia, dan kondisi lingkungan kandang yang ada di Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban. Sampel yang telah diidentifikasi dari 131 sapi potong teridentifikasi memiliki gangguan reproduksi, dimana 86 sapi potong mengalami hipofungsi ovarium, 21 sapi potong mengalami Persistent Corpus Luteum (CLP) dan 24 sapi potong mengalami endometritis. Semua peternak (100%) juga tahu jika pemberian pakan tambahan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Dalam hasil pengamatan dari sampel peternak, hanya ada 24 peternak yang memberikan pakan tambahan berupa dedak yang dicampur dengan air minum. Pemberian pakan tambahan kepada sapi potong tidak dilakukan setiap hari dan jumlah yang diberikan tidak terukur. Pemberian air minum kepada ternak oleh peternak dilakukan dengan cara yang sama yaitu diberikan dalam satu wadah setiap hari, tidak diberikan adlibitum.
Kandang semua peternak di Kabupaten Kerek hanya tersedia untuk pakan, sisa pakan dan kotoran ternak dibuang di tempat penampungan yang tidak jauh dari kandang. Pembersihan kandang secara teratur dilakukan 2 kali sehari tanpa disinfektan. Jenis lantai kandang yang digunakan hanya ada dua jenis, yaitu lantai dasar dan lantai semen. Petani yang menggunakan lantai dasar 48 responden dan 22 petani menggunakan lantai semen. Hanya ada 35 kandang yang memiliki saluran pembuangan dan 35 kandang sisanya tidak memilikinya, saluran pembuangan tidak dapat berfungsi secara optimal karena pembuatanny tidak terlalu baik hanya sehingga terkadang ada genangan air atau sisa kotoran di lantai. Jenis kandang yang digunakan hanya ada satu jenis yaitu open cage system, sehingga open cage jenis ini memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam kandang dengan baik, dan pertukaran udara di kandang yang baik.
Faktor risiko terjadinya kasus gangguan reproduksi pada sapi potong di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban bisa disebabkan oleh factor pakan/nutrisi, usia, dan lingkungan kandang sehingga diperlukan untuk melakukan program ekstensi untuk peternak tentang cara mengelola ternak yang baik dan penanganan gangguan reproduksi.
Penulis: Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si.
https://ojs.uho.ac.id/index.php/peternakan-tropis/article/view/23743





