Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di dunia, dengan serangan jantung dan stroke mendominasi jumlah kasus. Di Indonesia, angka prevalensi penyakit jantung cukup tinggi, terutama di Jawa Timur. Salah satu kondisi serius adalah sindrom koroner akut tanpa elevasi segmen ST (NSTE-ACS), yang disebabkan oleh ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen pada otot jantung.
Selama ini, penilaian risiko pasien NSTE-ACS dilakukan menggunakan Global Registry of Acute Coronary Events (GRACE) Score. Namun, GRACE Score memiliki keterbatasan, seperti kurangnya kemampuan memprediksi kejadian peradangan yang terkait dengan NSTE-ACS. Penelitian terbaru mencoba menjembatani kekurangan ini dengan memperkenalkan biomarker bernama Growth Differentiation Factor-15 (GDF-15).
GDF-15 adalah protein yang dilepaskan tubuh saat mengalami stres atau kerusakan organ, termasuk jantung. Tingginya kadar GDF-15 dalam darah sering dikaitkan dengan prognosis buruk pada banyak kondisi akut maupun kronis. Dalam konteks NSTE-ACS, GDF-15 dianggap dapat menjadi indikator tambahan dalam penilaian risiko pasien.
Dalam sebuah studi di Rumah Sakit Universitas Airlangga, Surabaya, dilakukan pengukuran kadar GDF-15 pada 40 pasien NSTE-ACS. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar GDF-15, semakin besar pula GRACE Score pasien. Hubungan ini memiliki nilai statistik yang signifikan (p
Rata-rata kadar GDF-15 pasien adalah 574,53 ng/L, dengan rentang 77–2913 ng/L. Pasien dengan skor GRACE tinggi juga memiliki risiko mortalitas yang lebih besar dibandingkan mereka dengan skor lebih rendah. Fakta ini menjadikan GDF-15 sebagai salah satu biomarker potensial dalam memperbaiki akurasi penilaian risiko.
Penggunaan GDF-15 dapat memberikan wawasan tambahan bagi dokter dalam menentukan rencana pengobatan pasien NSTE-ACS. Kombinasi GDF-15 dengan GRACE Score diharapkan mampu memberikan prediksi lebih baik mengenai kondisi jangka pendek maupun jangka panjang pasien. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko kematian akibat kondisi yang sangat mengancam ini.
Penelitian ini membuka jalan bagi pengembangan metode evaluasi risiko yang lebih komprehensif untuk pasien NSTE-ACS. GDF-15 menunjukkan potensi besar sebagai marker tambahan untuk melengkapi GRACE Score, menciptakan pendekatan medis yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasien.
Dengan temuan ini, harapan baru hadir untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien jantung di Indonesia, sekaligus mengurangi angka kematian akibat sindrom koroner akut.
Penulis : Dr. Puspa Wardhani, dr., Sp.PK.
Jurnal ini dapat di akses melalui situs :https://sct.ageditor.ar/index.php/sct/article/view/1403/2273





