Perkembangan folikel ovarium dan kematangan oosit pada sapi sangat dipengaruhi oleh growth differentiation factor‑9 (GDF‑9), gen yang berperan penting dalam proses reproduksi, sehingga intensitas ekspresi gen ini patut dikaji lebih dalam untuk memahami mekanisme kesuburan pada sapi Madrasin. Pemahaman ini membuka jalan bagi penelitian hubungan intensitas ekspresi GDF‑9 dengan parameter reproduksi yang lebih luas.
Penelitian ini mengukur hubungan intensitas pita PCR GDF‑9—dikelompokkan menjadi “Strong Expression” (G1, n=12) dan “Dimmed Expression” (G2, n=8)—dengan tiga variabel kesuburan utama: diameter tuba uterina dan tinggi ovarium (melalui palpasi rektal saat birahi), karakter lendir serviks (penampilan, viskositas, spinnbarkeit, pH, dan pola ‘fern’), serta non‑return rate (NRR) sebagai indikator keberhasilan inseminasi buatan dalam 21 hari pasca‑Inseminasi buatan (IB). Prosedur meliputi duplex PCR pada gel agarosa 1,5% dengan kuantifikasi intensitas pita menggunakan ImageJ, pengukuran ukuran reproduksi saat birahi, pengambilan lendir serviks sebelum IB untuk penilaian skala 0–3, dan perhitungan NRR. Analisis statistik menggunakan ANOVA satu arah (p=0,05) diikuti uji Duncan untuk memastikan validitas perbedaan. Desain penelitian ini memungkinkan penilaian menyeluruh terhadap dampak ekspresi GDF‑9 pada variabel reproduksi yang diuji.
Hasil menunjukkan sapi G1 memiliki diameter tuba uterina yang signifikan lebih besar dibanding G2 (p<0,05) dan tinggi ovarium yang juga lebih tinggi bermakna, sedangkan panjang dan lebar ovarium tidak berbeda nyata. Karakter lendir serviks pada G1 cenderung lebih cair dan transparan dengan skor lebih tinggi (p<0,05), meski perbedaan viskositas, spinnbarkeit, pH, dan pola ‘fern’ tidak mencapai signifikansi. NRR pada G1 jauh lebih tinggi secara signifikan daripada G2 (p<0,05), menandakan keberhasilan AI yang lebih baik pada sapi dengan ekspresi GDF‑9 kuat. Hasil-hasil ini memberikan dasar empiris untuk menilai potensi GDF‑9 sebagai penanda kesuburan pada sapi Madrasin.
Ekspresi gen GDF‑9 yang kuat berkorelasi positif dengan peningkatan ukuran saluran reproduksi, kualitas lendir serviks, dan tingkat keberhasilan inseminasi buatan, sehingga GDF‑9 dapat dipertimbangkan sebagai marker assisted selection dalam program pemuliaan sapi persilangan. Dengan demikian, implementasi skrining ekspresi GDF‑9 diharapkan mempercepat peningkatan efisiensi reproduksi dan mengurangi interval kelahiran. Langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar serta memasukkan variabel lingkungan dan nutrisi agar penerapan gen ini dalam praktek seleksi bibit semakin terukur dan berkelanjutan.
Penulis berterima kasih kepada Universitas Airlangga, melalui program Research Scheme International Research collaboration TOP #300 Universitas Airlangga 2024 (No.: 430/UN3.LPPM/PT.01.03/2024). Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Indonesia, atas fasilitas yang disediakan untuk penelitian ini.
Artikel ilmiah hasil penelitian ini sudah terbit pada Veterinary World (ISSN: 0972-8988; https://www.veterinaryworld.org/), suatu junal bereputasi terindeks Scopus Q1 (https://www.scopus.com/sourceid/21100201717). Artikel dapat di akses melalui tautan https://www.veterinaryworld.org/Vol.18/July-2025/1.php.
Penulis: Prof. Dr. Budi Utomo, drh., M.Si (First Author)
Disarikan dari Research article: Utomo B, Rimayanti R, Kurnijasanti R, Degu NY, Diansyah AM, and Amrullah MF (2025) Reproductive performance and fertility traits in Madrasin cattle: The influence of growth differentiation factor-9 gene expression on reproductive tract size, cervical mucus characteristics, and fertility rate, Veterinary World, 18(7): 1799–1806. https://doi.org/10.14202/vetworld.2025.1799-1806.





