Universitas Airlangga Official Website

Waspada! E. coli Resisten Antibiotik Ditemukan pada Daging Bebek di Pasar Unggas Surabaya

Ilustrasi bebek (Foto: Majalah Infovet)

Resistensi antibiotik merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Paparan antibiotik dari berbagai golongan dapat menyebabkan resistensi silang, dan gen resistensi antibiotik dapat menyebar antar bakteri melalui transfer gen horizontal. Penggunaan antibiotik sebagai profilaksis, anabolik, dan metafilaksis menyebabkan resistensi antibiotik. Sebuah studi melaporkan bahwa penilaian resistensi antibiotik secara nasional mengungkapkan bahwa prevalensi resistensi multiobat (MDR) dengan penanda Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae yang menghasilkan extended spectrum β-laktamase (ESBL) bervariasi antara 50% dan 82%. Sumber resistensi galur E. coli patogen dapat berasal dari lingkungan, makanan, dan air yang terkontaminasi.

E. coli penghasil ESBL merupakan salah satu ancaman kesehatan dan sebagai indikator survei epidemiologi untuk resistensi antibiotik dengan pendekatan One Health. Paparan terhadap individu yang terinfeksi ESBL, memakan daging yang terkontaminasi, kotoran di lingkungan, dan penularan dari manusia ke hewan merupakan beberapa cara penyebaran bakteri E. coli penghasil ESBL. Resistensi ini disebabkan oleh transfer plasmid yang mengandung enzim ESBL, yang dapat menghidrolisis antibiotik dari kelompok sefalosporin generasi ketiga, penisilin, dan monobaktam (aztreonam). Bakteri penghasil ESBL memiliki tiga gen utama, termasuk gen blaTEM, variabel sulfhidril (SHV), dan blaCTX-M. Gen blaTEM adalah ESBL yang dapat dikodekan oleh plasmid melalui transfer. Penyebaran blaTEM di seluruh dunia terus meningkat. Gen-gen ini telah terdeteksi di lingkungan, hewan, dan manusia, dan pendekatan diperlukan untuk mengendalikan masalah ini.

Bebek merupakan salah satu produk pangan yang paling sering dikonsumsi di Surabaya, Indonesia. Meningkatnya konsumsi daging bebek di Indonesia merupakan masalah keamanan pangan. Namun, informasi mengenai keamanan pangan bebek masih terbatas di dunia, termasuk Indonesia. Selain itu, resistensi antibiotik telah meningkat pada unggas. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai resistensi antibiotik E. coli dan menentukan karakteristik molekuler bakteri E. coli penghasil ESBL.

Berdasarkan temuan studi isolasi dan identifikasi dari swab kloaka bebek didapatkan 85% (134/158) sampel positif mengandung bakteri E. coli yang diekstraksi dari usap kloaka bebek dari pasar unggas hidup di Surabaya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap bakteri E. coli yang memiliki sifat multidrug resistance (MDR) sebesar 15% (20/134). MDR memiliki kemampuan bakteri untuk berpindah secara genetik, yang membawa sifat resistensi dari satu bakteri ke bakteri lain melalui mutasi genetik, secara horizontal dalam bentuk konjugasi, transduksi, dan transformasi, sehingga menyebabkan insidensi MDR menjadi lebih parah. Hasil pengujian bakteri E. coli penghasil ESBL menunjukkan hasil sebesar 60% (12/20). Pembentukan enzim

β-laktamase merupakan proses yang menyebabkan resistensi terhadap antibiotik β-laktam berkembang, terutama pada bakteri Gram-negatif. Enzim ini dapat memecah cincin β-laktam, sehingga antibiotik tersebut tidak berguna.

Uji konfimasi fenotipik dapat menggunakan double disk synergy test (DDST) yang menggunakan beberapa antibiotik, termasuk sefotaksim (CTX-M), seftazidim (CAZ), dan Amoksisilin-Asam Klavulanat (AMC). Hasilnya menunjukkan suatu bentuk sinergi dengan penghambatan cakram antibiotik β-laktam sebagai teknik ESBL. Penularan dapat terjadi melalui sejumlah jalur, termasuk konsumsi daging yang terkontaminasi, kontak dengan pasien atau orang yang terinfeksi bakteri penghasil ESBL, dan lingkungan yang tercemar oleh kotoran yang mengandung E. coli penghasil ESBL.

Menurut penelitian yang terkait informasi terkait insidensi E. coli penghasil ESBL di peternakan unggas Indonesia masih terbatas. Gen Temoniera (blaTEM), gen SHV, dan Cefotaxime (blaCTX-M) merupakan gen utama E. coli yang menghasilkan ESBL. Escherichia coli yang dapat menghasilkan ESBL dapat menyebar di lingkungan peternakan melalui feses unggas dan kontaminasi produk pangan. Selain itu, unggas di pasaran dapat menyebarkan E. coli yang dapat menghasilkan ESBL. Gen tipe blaTEM dapat bertahan lebih baik di lingkungan karena memiliki plasmid sebagai faktor pertumbuhan. Antibiotik yang digunakan dalam pertanian, akuakultur, dan sistem pembuangan limbah merupakan penyebab lain penularan resistensi.

Pengujian PCR menggunakan gen blaTEM menunjukkan hasil dengan persentase 58,3% (7/12) sampel positif dari tujuh pasar unggas hidup di Surabaya. Konfirmasi uji genotype blaTEM di setiap pasar memiliki persentase yang berbeda, antara lain pasar Pabean sebesar 50% (1/2), pasar Wonokromo sebesar 80% (4/5), pasar Pucang dan Kapas Krampung sebesar 100% (1/1), pasar Keputran 0% (0/3), Pacar Kelling 0% (0/1), dan pasar Benowo sebesar 0% (0/0). Hasil negatif dari pasar Keputran, Gen resistensi dapat menyebar melalui pasar unggas hidup. Penemuan gen blaTEM dalam sampel unggas dari beberapa pasar unggas hidup di Surabaya, Indonesia, merupakan masalah yang memprihatinkan dan membutuhkan tindakan segera untuk mencegah perkembangan resistensi antibiotik.

Keberadaan E. coli penghasil enzim ESBL harus dipahami dan diperlakukan sebagai ancaman bagi kesehatan Masyarakat. Selain itu, hal ini bisa menjadi masalah MDR yang menyebar dan membahayakan kesehatan Masyarakat. Bakteri yang resistan terhadap berbagai obat dapat mendorong produksi daging unggas melalui sumber polutan di sekitar limbah unggas. Lingkungan yang bersih dapat dijaga untuk mencegah penyebaran kontaminasi yang meluas, dan hal ini khususnya penting di area yang dekat dengan pasar unggas hidup. Penelitian di masa mendatang sebaiknya meneliti faktor risiko lain untuk penyebaran E. coli MDR, seperti penggunaan antibiotik dan manajemen umum peternakan ayam. Teknik pengolahan air limbah yang lebih komprehensif harus segera dikembangkan

untuk mencegah penularan dan meningkatkan prevalensi E. coli MDR.

Sebagai kesimpulan, pengambilan sampel dilakukan di tujuh pasar unggas hidup di Surabaya dengan 158 sampel usap kloaka bebek yang menghasilkan 58,3% E. coli yang resistan terhadap berbagai obat, dan ditemukan isolat E. coli penghasil ESBL (7/12) yang memiliki gen pengkode virulensi blaTEM dalam penelitian ini, sehingga hasil ini dikategorikan memiliki tingkat insiden yang tinggi. Masih terbatasnya kesadaran peternak dan rendahnya kepedulian masyarakat terhadap keamanan, sanitasi, dan biosekuriti produk pangan asal hewan, serta perlunya penggunaan antibiotik yang tepat pada unggas dan pengawasan veteriner.

Penulis: Dr. Wiwiek Tyasningsih, drh., Mkes.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Irfan Alias Kendek, Aswin Rafif Khairullah, Mustofa Helmi Effendi, Freshinta Jellia Wibisono, Wiwiek Tyasningsih*, Emmanuel Nnabuike Ugbo, Budiastuti Budiastuti, Nurhusien Yimer Degu,Ikechukwu Benjamin Moses, Riza Zainuddin Ahmad, Sheila Marty Yanestria, Dea Anita Ariani Kurniasih, Ricadonna Raissa and Saifur Rehman. Detection of the blaTEM gene on multidrug-resistant Escherichia coli producing extended spectrum β-lactamase from ducks in live poultry markets in Surabaya, Indonesia.  Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(8): 3862-3870