Di tengah hiruk pikuk mesin dan padatnya aktivitas industri, kesehatan gizi pekerja sering kali terabaikan. Padahal, status gizi yang baik menjadi fondasi utama produktivitas tenaga kerja. Terutama di sektor manufaktur yang menuntut kekuatan fisik dan konsentrasi tinggi. Penelitian ini menyoroti hubungan antara status gizi, faktor individu, serta kondisi kerja di sebuah perusahaan manufaktur di Surabaya, Jawa Timur.
Temuan Utama: Obesitas Mengintai Pekerja Pabrik
Penelitian melibatkan 370 pekerja dari total 500 karyawan melalui survei dan pengukuran langsung, seperti indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar perut. Hasilnya menunjukkan lebih dari separuh responden mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas, dan hampir separuh lainnya memiliki obesitas sentral atau penumpukan lemak di perut. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas kerja.
Jenis kelamin menjadi salah satu faktor dominan. Pekerja perempuan lebih banyak mengalami obesitas dibanding laki-laki. Perubahan hormon, pola konsumsi tinggi karbohidrat, serta penggunaan kontrasepsi hormonal berperan besar dalam peningkatan berat badan. Selain itu, status pernikahan juga berpengaruh. Pekerja yang sudah menikah cenderung memiliki IMT lebih tinggi karena perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan dalam rumah tangga.
Peran Aktivitas Fisik dan Pola Kerja
Penelitian menemukan bahwa beban kerja fisik berkorelasi kuat dengan status gizi. Pekerja dengan beban kerja sedang memiliki status gizi lebih baik dibandingkan mereka yang memiliki beban kerja ringan. Aktivitas fisik selama bekerja membantu menjaga keseimbangan energi tubuh dan mencegah penumpukan lemak. Sebaliknya, pekerja yang lebih banyak duduk atau berdiri tanpa banyak bergerak berisiko mengalami peningkatan berat badan, terutama jika pola makannya tidak teratur.
Kebiasaan merokok dalam konteks ini menunjukkan hubungan sebaliknya, di mana perokok cenderung memiliki berat badan lebih rendah. Namun, hal ini bukan solusi sehat karena efek nikotin hanya menekan nafsu makan sementara dan menimbulkan risiko penyakit kronis lain. Sementara itu, tingkat pendidikan tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap status gizi, menandakan bahwa kesadaran gizi tidak semata ditentukan oleh jenjang pendidikan formal.
Perusahaan dan Tanggung Jawab Gizi Pekerja
Kondisi ini menunjukkan bahwa tanggung jawab menjaga kesehatan gizi pekerja tidak hanya berada di tangan individu, tetapi juga pihak perusahaan. Gizi yang buruk berdampak langsung pada efisiensi kerja, tingkat absensi, dan keselamatan kerja. Perusahaan perlu mengambil langkah strategis dengan menyediakan program kesehatan kerja yang berfokus pada gizi dan aktivitas fisik, seperti edukasi nutrisi, penyediaan makanan bergizi di kantin, serta pemeriksaan rutin IMT dan lingkar perut.
Melalui pendekatan berbasis data, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif. Pekerja yang memiliki status gizi baik akan lebih bugar, jarang sakit, dan mampu bekerja secara optimal. Dalam jangka panjang, perhatian terhadap gizi bukan hanya soal kesehatan individu, tetapi juga investasi produktivitas dan keberlanjutan bisnis.
Penulis: Ratih Damayanti, S.KM., M.Kes.





