UNAIR NEWS – Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA Subsp KKA(k) resmi menjadi sebagai guru besar (gubes) Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga (FKG UNAIR). Penyematan gelar guru besar tersebut berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus MERR-C UNAIR pada Rabu (11/10/2023).
Dalam gelaran tersebut, Prof Sindy membawa orasi ilmiah bertajuk Pentingnya Perawatan Kompleks Kraniofasial Secara Dini pada Anak Sebelum Terjadi Maloklusi. Gagasan itu berawal dari permasalahan gigi maloklusi di Indonesia menunjukkan angka sebesar 80 persen dari keseluruhan masyarakat Indonesia.
Penyebab Maloklusi pada Anak
Guru besar kelahiran Kota Surabaya itu memaparkan, dari angka 80 persen sebagian besar maloklusi gigi oleh anak-anak dengan usia 7-14 tahun. Sangat disayangkan besaran angka permasalahan gigi maloklusi di Indonesia cukup besar.
Salah satu penyebab terjadinya oklusi gigi pada anak terbagi menjadi tiga kategori. Yakni, penyebab spesifik maloklusi (penyakit sistemik, sindrom-sindrom, celah lelangit, dll), pengaruh lingkungan, dan pengaruh genetik serta fungsi otot-otot yang tidak normal seperti bernafas melalui mulut (mouth breathing).
Prof Sindy melanjutkan, permasalahan gigi dan mulut pada anak tidak hanya fokus pada kasus karies gigi. Permasalahan oklusi gigi ini harus memiliki penanganan khusus. Tidak kalah penting dengan karies gigi supaya tumbuh kembang anak tidak terhambat.
“Permasalahan oklusi gigi tidak dapat kita sepelekan. Jika tidak ada penanganan khusus dan pencegahan akan berakibat fatal bagi anak-anak Indonesia yang akan menjadi generasi penerus bangsa,” tegas Prof Sindy.
Pencegahan Sejak Dini
Prof Sindy menjelaskan, salah satu cara mengatasi permasalahan oklusi gigi pada anak yakni dengan perawatan kompleks kraniofasial sejak dini. Perawatan tersebut mencakup tiga perawatan preventif, interseptif, atau korektif. Serta, kombinasi ketiga jenis yang penerapannya selama periode gigi sulung atau campuran sebelum maloklusi berkembang sepenuhnya.
Salah satu penanganannya dengan space maintainer atau pengendalian oral habit. Penanganan tersebut Prof Sindy nilai efektif untuk memantau perkembangan maloklusi gigi kembali pada kondisi gigi normal dan mencegah adanya keparahan dari maloklusi pada anak.
“Dengan memahami diagnostik, penyebab dan tatalaksana perawatan dini, dan masih adanya pertumbuhan kompleks kraniofasial yang dapat dimodifikasi menjadi peluang besar untuk mencegah gangguan pertumbuhan anak karena adanya maloklusi gigi pada anak,” ungkapnya. (*)
Penulis: Satrio Dwi Naryo
Editor: Binti Q Mashruroh





