Universitas Airlangga Official Website

Hadirkan Pakar Biologi Perikanan dan Kelautan, AMW Bahas Potensi Ikan Laut dan Risiko Anisakis

Prof Dr Eko Setyobudi SPi MSi, Guru Besar Biologi dan Perikanan saat mempresentasikan Biologi Anisakis (Foto: Dok. Panitia AMW)

UNAIR NEWS – Airlangga Maritim Week, Minggu (20/9/2026), soroti potensi ikan laut sebagai sumber daya perikanan sekaligus risiko keamanan akibat parasit Anisakis. Hal itu disampaikan oleh salah satu narasumber, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof Eko Dr Setyobudi SPi MSi, di Gedung Kuliah Bersama (GKB) lantai 9, Kampus MERR-C UNAIR.

Dalam gelaran yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR itu, Prof Eko menjelaskan bahwa Anisakis perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan kesehatan manusia dan industri perikanan. Parasit tersebut memiliki siklus hidup yang melibatkan mamalia laut sebagai inang definitif dan dapat berpindah melalui rantai makanan. Kondisi tersebut menyebabkan ikan laut hasil tangkapan berpotensi terpapar parasit.

Prof Eko turut membahas risiko konsumsi ikan mentah dan pentingnya pengolahan hasil perikanan secara tepat. Keberadaan larva parasit pada jaringan ikan dapat menimbulkan risiko bagi manusia apabila ikan terinfeksi dikonsumsi. Karena itu, pengawasan bahan baku dan pengolahan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan.

“Meskipun ada risiko, kita tetap harus menggerakkan gemar makan ikan. Yang penting adalah bagaimana memastikan ikan yang dikonsumsi aman melalui food security,” jelasnya.

Selain kesehatan, Prof Eko menyoroti dampak Anisakis terhadap industri perikanan. Ia mencontohkan penarikan produk ikan kaleng di Jepang yang berkaitan dengan keberadaan parasit tersebut. Menurutnya, pemeriksaan ikan sejak tahap penangkapan diperlukan untuk mengantisipasi risiko yang dapat memengaruhi industri pengolahan. “Kita harus memperhatikan keamanan ikan mulai dari bahan baku sampai proses pengolahannya,” ungkap Prof Eko.

Lebih lanjut, Prof Eko memaparkan penelitian mengenai prevalensi dan intensitas infeksi parasit pada ikan laut di Indonesia. Bersama tim dan mahasiswa, ia mengambil sampel dari beberapa wilayah, termasuk perairan Banyuwangi serta pantai selatan dan utara Jawa. Penelitian tersebut mencakup ikan layur dan selar dengan pengamatan pola infeksi serta identifikasi parasit secara molekuler.

“Kami melihat prevalensi dan intensitas infeksi pada ikan dari beberapa wilayah untuk mengetahui pola keberadaan parasit tersebut,” tuturnya.

Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi prevalensi dan intensitas infeksi berdasarkan jenis ikan dan lokasi pengambilan sampel. Identifikasi molekuler digunakan untuk mengetahui jenis parasit yang ditemukan sehingga data penelitian dapat mendukung pemahaman mengenai penyebaran Anisakis.

“Dengan identifikasi molekuler, kita dapat mengetahui jenis parasit yang ditemukan sehingga penyebarannya dapat dikaji dengan lebih jelas,” tambahnya.

Prof Eko menambahkan bahwa penelitian parasitologi laut di Indonesia masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Luas wilayah perairan Indonesia yang tidak sebanding dengan jumlah peneliti menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan bidang tersebut.

“Wilayah perairan Indonesia sangat luas, sementara peneliti yang mengkaji parasitologi ikan laut masih terbatas. Artinya, masih banyak peluang penelitian yang dapat dikembangkan,” pungkasnya.

Melalui AMW 2026, mahasiswa UNAIR memperoleh wawasan mengenai potensi sumber daya ikan laut, keamanan pangan, dan penelitian parasitologi dalam mendukung pemanfaatan hasil perikanan secara aman dan berkelanjutan.

Penulis: Abraham Chrisanta Putra

Editor: Yulia Rohmawati