Bagi banyak perempuan di Indonesia, diagnosis kanker ginekologi seperti kanker serviks atau kanker ovarium bukan hanya tentang menghadapi penyakit, tetapi juga perjuangan untuk mendapatkan akses pengobatan yang memadai. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor geografis masih menjadi hambatan besar dalam pelayanan kanker ginekologi di Indonesia, terutama bagi pasien yang tinggal di daerah terpencil dan kepulauan.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan. Rumah sakit dengan fasilitas onkologi ginekologi dan tenaga spesialis terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Akibatnya, banyak pasien harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh diagnosis maupun terapi definitif.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti departemen obstetri dan ginekologi menemukan adanya ketimpangan infrastruktur kesehatan antarwilayah yang berdampak langsung pada keterlambatan penanganan kanker. Pasien di wilayah timur Indonesia menghadapi hambatan akses yang jauh lebih besar dibandingkan wilayah barat Indonesia. Waktu tempuh yang panjang, keterbatasan transportasi, serta minimnya fasilitas kesehatan rujukan menjadi faktor utama yang memperberat kondisi pasien.
Selain itu, distribusi dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis onkologi ginekologi juga masih belum merata. Banyak rumah sakit daerah belum memiliki layanan bedah onkologi, kemoterapi, maupun radioterapi yang memadai. Dalam beberapa kasus, pasien harus dirujuk antarprovinsi untuk mendapatkan terapi lanjutan.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menurunkan peluang keberhasilan terapi. Pada kanker ginekologi, keterlambatan diagnosis dan pengobatan sering kali menyebabkan pasien datang dalam stadium lanjut, sehingga angka kesintasan menjadi lebih rendah.
Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan berbasis geospasial dalam perencanaan layanan kesehatan nasional. Dengan pemetaan akses layanan kanker secara lebih akurat, pemerintah dapat mengidentifikasi wilayah prioritas yang membutuhkan penguatan fasilitas kesehatan dan tenaga medis.
Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesenjangan layanan kanker ginekologi di Indonesia antara lain:
- Pemerataan distribusi dokter spesialis dan subspesialis onkologi ginekologi.
- Penguatan rumah sakit regional sebagai pusat layanan kanker.
- Pengembangan sistem rujukan yang lebih cepat dan efisien.
- Pemanfaatan telemedisin untuk konsultasi dan pendampingan kasus.
- Peningkatan infrastruktur transportasi kesehatan di wilayah terpencil.
Di tengah meningkatnya angka kanker pada perempuan Indonesia, akses yang adil terhadap layanan kesehatan menjadi kebutuhan mendesak. Penanganan kanker tidak boleh ditentukan oleh lokasi geografis tempat seseorang tinggal. Dengan pemerataan fasilitas dan tenaga kesehatan, peluang hidup pasien kanker ginekologi di Indonesia dapat meningkat secara signifikan.
Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro
Artikel lengkap dapat diakses melalui: https://doi.org/10.1136/bmjopen-2025-112112





