Gangguan pengecapan atau dysgeusia menjadi salah satu keluhan yang paling sering dialami oleh pasien kanker kepala dan leher, namun masih kerap dianggap sebagai efek samping ringan yang tidak membutuhkan penanganan khusus. Dysgeusia ditandai dengan perubahan kemampuan mengecap rasa, seperti munculnya rasa pahit, asam berlebihan, rasa logam, atau bahkan hilangnya sensasi rasa secara total. Kondisi ini umumnya muncul selama atau setelah pasien menjalani terapi kanker, khususnya radioterapi dan kemoterapi. Padahal, kemampuan mengecap memiliki peran penting dalam menjaga asupan nutrisi, kenikmatan makan, serta kesehatan psikologis pasien. Ketika rasa makanan berubah atau menjadi tidak menyenangkan, pasien cenderung mengurangi makan, memilih makanan yang tidak seimbang, atau bahkan kehilangan minat makan sama sekali. Sayangnya, meskipun keluhan ini sering diceritakan pasien, dysgeusia masih kurang mendapatkan perhatian dalam praktik klinis sehari-hari.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai besarnya masalah dysgeusia, sekelompok peneliti internasional melakukan meta-analisis terhadap 23 studi yang melibatkan 4.805 pasien kanker kepala dan leher dari berbagai belahan dunia. Hasil analisis menunjukkan bahwa 42,7% pasien mengalami dysgeusia, yang berarti hampir satu dari dua pasien terdampak gangguan pengecapan. Angka ini menunjukkan bahwa dysgeusia bukanlah kejadian langka, melainkan masalah yang sangat umum. Dari sisi wilayah, prevalensi tertinggi ditemukan di Asia sebesar 52,7%, diikuti Amerika Utara sebesar 41,4% dan Amerika Selatan sebesar 37,5%. Analisis lanjutan juga mengungkap kelompok pasien yang paling berisiko, yaitu pasien usia lanjut, pasien laki-laki, serta mereka yang berada pada stadium kanker lanjut (stadium III–IV). Selain itu, variasi alat ukur yang digunakan untuk menilai gangguan pengecapan turut berkontribusi pada perbedaan angka prevalensi antar studi, menunjukkan masih adanya ketidakterpaduan metode penilaian dysgeusia secara global.
Temuan penelitian ini memiliki makna klinis yang sangat penting. Pada pasien kanker kepala dan leher, dysgeusia sering kali terjadi bersamaan dengan efek samping lain seperti mulut kering (xerostomia), sariawan berat (mukositis), nyeri menelan, dan mual. Kombinasi gejala ini dapat memperparah penurunan asupan makanan dan meningkatkan risiko malnutrisi. Studi ini juga menegaskan bahwa pasien dengan stadium kanker lanjut memiliki risiko paling tinggi, karena biasanya menjalani terapi dengan intensitas tinggi yang dapat merusak jaringan mulut dan kuncup pengecapan. Jika tidak ditangani secara sistematis, dysgeusia dapat berdampak jangka panjang, termasuk penurunan berat badan, melemahnya kondisi fisik, rendahnya kepatuhan terhadap pengobatan, hingga penurunan kualitas hidup secara signifikan. Para peneliti menekankan pentingnya skrining rutin dysgeusia, penggunaan alat ukur yang valid dan standar, serta keterlibatan tim multidisiplin termasuk dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga rehabilitasi oral dalam menangani masalah ini secara komprehensif.
Melalui meta-analisis ini, dysgeusia ditegaskan sebagai komplikasi yang umum namun masih kurang dikenali pada pasien kanker kepala dan leher. Dengan hampir separuh pasien mengalami gangguan pengecapan, sudah saatnya dysgeusia tidak lagi dipandang sebagai keluhan minor. Integrasi penilaian gangguan pengecapan dalam perawatan rutin pasien kanker, disertai intervensi nutrisi yang tepat dan edukasi pasien, berpotensi besar dalam mencegah dampak lanjutan seperti malnutrisi dan penurunan kualitas hidup. Ke depan, penelitian lanjutan sangat dibutuhkan untuk mengembangkan alat ukur dysgeusia yang lebih seragam serta mengevaluasi intervensi berbasis bukti yang efektif. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat perawatan jangka panjang dan rehabilitasi pasien kanker kepala dan leher secara lebih manusiawi dan berorientasi pada kualitas hidup.
Penulis Berita: Hidayat Arifin
Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga (UNAIR)
Link artikel: https://doi.org/10.1111/joor.70147





