Universitas Airlangga Official Website

Hari Pendidikan Internasional: Gapai Masa Depan melalui Pendidikan Berkualitas

Ilustrasi Hari Pendidikan Internasional (Foto: Bisnis Sytle)
Ilustrasi Hari Pendidikan Internasional (Foto: Bisnis Sytle)

Setiap tanggal 24 Januari, dunia memperingati Hari Pendidikan Internasional sebagai bentuk penghormatan terhadap peran pendidikan dalam menciptakan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan. Momen ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan bukan hanya hak asasi manusia. Tetapi juga kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan, mengurangi kesenjangan sosial, dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. Namun, pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan adalah, sudahkah sistem pendidikan yang ada benar-benar memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan masa depan?

Dalam era globalisasi yang semakin kompleks, pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk individu yang kritis, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Pendidikan tidak hanya sekadar transfer ilmu. Tetapi juga melibatkan pembentukan karakter, pengembangan keterampilan, dan penanaman nilai-nilai universal seperti toleransi dan solidaritas. Data UNESCO menunjukkan, saat ini lebih dari 244 juta anak dan remaja di dunia masih tidak memiliki akses ke pendidikan. Ketimpangan ini menjadi tantangan besar yang harus diatasi jika kita ingin mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) ke-4. Yaitu memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas untuk semua.

Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam sektor pendidikan. Ketimpangan akses, kualitas pendidikan yang belum merata, serta rendahnya literasi digital menjadi masalah yang masih menghantui. Di daerah perkotaan, fasilitas pendidikan seperti laboratorium, perpustakaan, dan teknologi pendukung relatif memadai. Namun, di wilayah terpencil, akses terhadap infrastruktur dasar seperti bangunan sekolah dan tenaga pengajar yang kompeten masih menjadi barang mewah. Anak- anak di pedalaman seringkali harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk belajar di sekolah. Kualitas pendidikan juga menjadi isu yang tak kalah penting. Berdasarkan laporan Programme for International Student Assesment (PISA) 2018, kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata global. Hal ini menunjukkan perlunya perbaikan kurikulum, pelatihan guru, dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif.

Dalam dunia yang semakin didominasi teknologi, literasi digital menjadi keterampilan yang wajib dimiliki oleh generasi muda. Pandemi COVID-19 telah mempercepat adopsi teknologi dalam pendidikan, namun juga memperlihatkan adanya kesenjangan digital yang signifikan. Anak-anak di daerah terpencil tidak hanya kesulitan mendapatkan perangkat belajar, tetapi juga mengalami hambatan dalam akses internet. Ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital dalam pendidikan tidak boleh meninggalkan kelompok-kelompok rentan. Pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama untuk menyediakan infrastruktur teknologi yang merata dan terjangkau.

Untuk menjawab tantangan di atas, diperlukan inovasi dalam sistem pendidikan. Salah satu contohnya adalah penerapan pendekatan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematic) yang dapat melatih siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan bekerja secara kolaboratif. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning) juga menjadi metode yang efektif dalam menghubungkan teori dengan praktik. Pendekatan ini dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan permasalahan nyata di sekitar mereka. Di sisi lain, penting pula untuk mengintegrasikan pendidikan karakter kedalam kurikulum. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati harus menjadi bagian integral dari proses belajar. Sehingga, siswa tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang tangguh.

Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua dan masyarakat. Keluarga adalah tempat pertama dimana anak-anak belajar nilai-nilai dasar dan membangun fondasi kepribadian mereka. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Program seperti taman baca, pelatihan keterampilan, dan kegiatan sosial dapat memberikan kesempatan belajar di luar kelas dan membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu untuk tetap berkembang.

Hari Pendidikan Internasional harus menjadi momentum bagi kita semua untuk mereflesikan sejauh mana upaya kita dalam mendukung pendidikan yang berkualitas. Pendidikan bukan hanya tentang mengejar gelar atau nilai, tetapi tentang membangun individu yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Pemerintah, institusi pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat harus bersinergi untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, relevan, dan berkelanjutan. Dengan berinvestasi dalam pendidikan, kita tidak hanya membangun masa depan individu, tetapi juga masa depan bangsa dan dunia. Mari kita jadikan Hari Pendidikan Internasional sebagai pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, atau geografis. Pendidikan adalah cahaya yang menerangi jalan menuju kehidupan yang lebih baik, dan tanggung jawab kita bersama adalah memastikan cahaya itu menyinari semua orang.

Penulis: Adisti Irtifa Amalia, Mahasiswi S1 Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR