Hemoptisis (batuk darah) pada anak dengan abses paru adalah gejala yang serius dan memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Abses paru adalah infeksi pada jaringan paru yang menyebabkan nekrosis jaringan dan pembentukan rongga yang berisi nanah. Kondisi ini dapat menyebabkan hemoptisis melalui mekanisme erosi vaskular yang disebabkan oleh proses inflamasi atau nekrosis jaringan sekitar abses.
Pada anak, abses paru relatif jarang namun dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan, terutama jika disertai dengan hemoptisis. Hemoptisis pada anak dapat dikategorikan berdasarkan volume darah yang dikeluarkan. Hemoptisis ringan jika volume darah kurang dari 5 ml per episode, sedang jika volume darah antara 5-100 ml dalam 24 jam, dan berat jika volume darah melebihi 100 ml dalam 24 jam.
Penanganan abses paru pada anak memerlukan pendekatan yang terstruktur dan multidisiplin, yang mengintegrasikan berbagai modalitas terapi untuk menangani infeksi secara komprehensif. Penanganan ini secara inheren kompleks dan memerlukan pendekatan multidisiplin yang menyeimbangkan terapi medis konservatif dengan intervensi bedah potensial.
Regimen terapi standar biasanya melibatkan kursus antibiotik intravena yang panjang, yang merupakan tulang punggung dari penanganan awal. Langkah awal sering melibatkan pemberian antibiotik spektrum luas, seperti ampicillin-sulbactam atau piperacillin-tazobactam, yang dipilih secara empiris untuk menargetkan patogen yang paling mungkin sebelum hasil kultur mikrobiologis tersedia.
Bronkoskopi memungkinkan visualisasi langsung saluran napas dan pengumpulan sampel diagnostik yang lebih akurat, seperti bilasan bronkial atau biopsi, yang dapat memberikan informasi kritis untuk memperbaiki rencana pengobatan. Pada kasus yang lebih lanjut, terutama yang melibatkan penebalan pleura yang signifikan atau kerusakan parenkim paru yang luas, intervensi bedah mungkin diperlukan. Bilasan bronkial bisa mendapatkan specimen salah satunya untuk pemeriksaan mikrobiologi.
Indikasi untuk intervensi bedah jelas diartikulasikan ketika terapi medis terbukti tidak memadai. Pada kasus abses paru besar, atau pasien tidak merespons terhadap terapi antibiotik saja direkomendasikan drainase percutaneous. Prosedur ini, yang dipandu oleh teknik pencitraan seperti ultrasonografi atau CT scan, melibatkan penyisipan kateter untuk mengaspirasi material purulen dari rongga abses. Prosedur seperti dekortikasi, yang melibatkan pengangkatan bedah lapisan fibrosa yang meliputi paru dan pleura, dilakukan untuk memulihkan fungsi paru dengan membebaskan paru dari adhesi pleura yang restriktif. Pada kasus ini, pasien menjalani prosedur bedah termasuk drainase pus melalui penyisipan tabung dada dan torakotomi dengan nekrotomi untuk mengangkat jaringan paru nekrotik.
Kasus ini menyoroti kompleksitas interaksi antara patologi abses paru, hemoptisis berulang, dan tantangan spesifik pada anak, yang menyebabkan komplikasi klinis yang signifikan. Kasus ini menekankan pentingnya diagnosis dini dan akurat, teknik pencitraan canggih, dan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan pengelolaan medis dan bedah. Selain itu, kasus ini menekankan peran penting dari diagnostik mikrobiologis presisi dalam menyesuaikan terapi antibiotik.
Kasus ini menunjukkan kebutuhan akan strategi pengobatan yang terstruktur untuk mengatasi infeksi pernapasan yang parah pada populasi pediatrik, untuk memastikan hasil yang optimal. Dengan demikian, kasus ini memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan abses paru pada anak dan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengatasi kondisi ini. Pengelolaan abses paru pada anak memerlukan kerja sama yang erat antara dokter anak, dokter radiologi, dan dokter bedah. Pendekatan yang terstruktur dan multidisiplin dapat membantu memastikan bahwa pasien menerima pengobatan yang tepat dan efektif untuk mengatasi kondisi ini.
Dalam kesimpulan, kasus ini menyoroti pentingnya diagnosis dini dan akurat, teknik pencitraan canggih, dan pendekatan multidisiplin dalam mengatasi abses paru pada anak. Dengan demikian, kasus ini dapat memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan abses paru pada anak dan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengatasi kondisi ini.
Disarikan dari artikel dengan judul: “Hemoptysis due to lung abscess in pediatric patient: Diagnostic approach and treatment” yang diterbitkan bulan Februari 2025 di Edelweiss Applied Science and Technology, Vol. 9 (2). Link: https://doi.org/10.55214/25768484.v9i2.4621
Penulis:
Dr. Retno Asih Setyoningrum, dr., Sp.A(K)





