Universitas Airlangga Official Website

Hepatitis B Masih Mengintai: Mengapa Indonesia Membutuhkan Rapid Diagnostic Test Lokal?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Hepatitis B masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Meski sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, infeksi hepatitis B dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis, sirosis, bahkan kanker hati. Data nasional menunjukkan bahwa jutaan penduduk Indonesia hidup dengan infeksi hepatitis B, namun sebagian besar belum terdiagnosis. Kondisi ini menjadikan hepatitis B sebagai silent disease yang kerap terlambat ditangani.

Di tingkat daerah, termasuk Surabaya dan wilayah Jawa Timur, kasus hepatitis B masih ditemukan melalui kegiatan skrining di fasilitas kesehatan maupun program pengabdian masyarakat. Banyak individu baru mengetahui status infeksinya saat mengikuti pemeriksaan kesehatan massal, pemeriksaan kehamilan, atau ketika sudah muncul keluhan yang lebih berat. Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap pemeriksaan hepatitis B yang mudah dan terjangkau masih menjadi tantangan.

Salah satu kunci utama pengendalian hepatitis B adalah deteksi dini. Dengan mengetahui status infeksi lebih awal, seseorang dapat memperoleh edukasi, pemantauan, dan pengobatan yang tepat, sekaligus mencegah penularan ke orang lain. Namun, pemeriksaan hepatitis B berbasis laboratorium konvensional sering kali memerlukan peralatan khusus, tenaga terlatih, serta waktu dan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini menyulitkan penerapan skrining secara luas, terutama di layanan kesehatan primer dan kegiatan berbasis komunitas.

Di sinilah peran Rapid Diagnostic Test (RDT) menjadi sangat penting. RDT memungkinkan pemeriksaan hepatitis B dilakukan dengan cepat, praktis, dan relatif sederhana, menggunakan sampel darah dalam jumlah kecil. Bagi masyarakat, kemudahan ini dapat meningkatkan partisipasi dalam skrining, sementara bagi tenaga kesehatan, RDT membantu mempercepat pengambilan keputusan awal.

Namun demikian, sebagian besar RDT yang beredar masih bergantung pada produk impor. Padahal, karakteristik genetik virus hepatitis B di Indonesia cukup beragam dan dapat berbeda dengan wilayah lain. Oleh karena itu, pengembangan dan evaluasi RDT lokal menjadi langkah strategis agar alat diagnostik yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi epidemiologi di dalam negeri.

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong inovasi alat diagnostik yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Melalui penelitian dan pengujian laboratorium, dikembangkan prototipe alat uji cepat hepatitis B yang diharapkan dapat mendukung perluasan deteksi dini di layanan kesehatan primer maupun kegiatan berbasis komunitas.

Pengembangan RDT hepatitis B lokal bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat sistem kesehatan nasional. Dengan alat diagnostik yang sesuai konteks lokal, diharapkan upaya skrining dapat diperluas, kesenjangan akses pemeriksaan dapat diperkecil, dan target eliminasi hepatitis secara bertahap dapat lebih realistis dicapai.

Melalui riset terapan dan kolaborasi lintas disiplin, Universitas Airlangga terus berkomitmen untuk menghadirkan solusi kesehatan yang berangkat dari permasalahan nyata di masyarakat. Deteksi dini hepatitis B adalah salah satu langkah kecil, namun sangat berarti, dalam melindungi kesehatan generasi mendatang.

Penulis: Ema Qurnianingsih

Informasi detail artikel: https://scholarly.unair.ac.id/fk-fmi/vol61/iss2/14/