Universitas Airlangga Official Website

Saussurea lappa Harapan Baru untuk Penderita Kanker Mulut

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kanker mulut masih menjadi masalah kesehatan serius, terutama di negara berkembang. Angkanya terus naik, sementara pilihan terapi yang tersedia sering kali menimbulkan efek samping berat. Operasi, kemoterapi, dan radioterapi memang dapat mengobati, tetapi tidak jarang meninggalkan dampak jangka panjang yang menurunkan kualitas hidup pasien. Di tengah tantangan ini, penelitian terbaru membuka peluang menarik dari sumber yang tampak sederhana: tanaman obat tradisional.

Salah satu tanaman yang kini kembali mendapat perhatian adalah Saussurea lappa, dikenal juga sebagai costus. Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Asia untuk mengatasi berbagai penyakit. Penelitian terkini menunjukkan bahwa ketika ekstraknya dikembangkan dalam bentuk nanopartikel, Saussurea lappa berpotensi menjadi kandidat terapi baru untuk kanker mulut, khususnya karsinoma sel skuamosa oral.

Oral squamous cell carcinoma merupakan jenis kanker mulut yang paling sering ditemukan. Penyakit ini sering dipicu oleh paparan zat karsinogen seperti benzo[a]pyrene, senyawa berbahaya yang terdapat dalam asap rokok dan polusi lingkungan. Zat ini merusak DNA sel epitel mulut dan memicu mutasi gen p53 (gen pengendali pembelahan sel). Ketika sistem pengendali sel rusak, sel abnormal dapat berkembang tanpa kendali dan membentuk kanker.

Dalam penelitian yang dilakukan pada model hewan, para peneliti menguji efektivitas nanopartikel Saussurea lappater hadap sel mulut yang telah diinduksi kanker menggunakan benzo[a]pyrene. Hewan coba kemudian diberi nanopartikel Saussurea lappa dengan dosis berbeda untuk melihat bagaimana jaringan mulut merespons terapi ini. Hasilnya cukup meyakinkan. Nanopartikel Saussurea lappa terbukti mampu mendorong sel kanker untuk “bunuh diri” melalui proses yang disebut apoptosis. Dalam tubuh normal, apoptosis adalah mekanisme alami untuk menyingkirkan sel yang rusak atau berbahaya. Namun pada kanker, mekanisme ini sering terhambat. Penelitian ini menunjukkan bahwa Saussurea lappa mampu mengaktifkan kembali jalur tersebut.

Penanda biologis yang berperan dalam apoptosis, seperti Bax dan Caspase-3, meningkat secara signifikan setelah pemberian nanopartikel. Bax berfungsi membuka jalan bagi kematian sel melalui mitokondria, sedangkan Caspase-3 merupakan eksekutor utama yang mengakhiri hidup sel kanker. Sebaliknya, protein BCL-2 yang biasanya melindungi sel kanker dari kematian justru menurun. Kombinasi ini menunjukkan bahwa keseimbangan sel bergeser dari “bertahan hidup” menuju “mati terprogram”.

Tidak hanya itu, penelitian ini juga menemukan penurunan ekspresi Ki-67, penanda utama proliferasi sel. Ki-67 yang tinggi biasanya menandakan sel kanker aktif membelah dan tumbuh agresif. Penurunannya berarti laju pertumbuhan sel kanker berhasil ditekan. Dengan kata lain, nanopartikel Saussurea lappa tidak hanya membunuh sel kanker, tetapi juga memperlambat pembentukan sel kanker baru. Peran gen p53 juga menarik untuk dicermati. p53 sering disebut sebagai “penjaga genom” karena bertugas menghentikan siklus sel atau memicu apoptosis ketika terjadi kerusakan DNA. Dalam penelitian ini, ekspresi p53 meningkat seiring dengan dosis nanopartikel yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa Saussurea lappa membantu mengaktifkan kembali jalur pertahanan alami sel terhadap kanker.

Aspek lain yang tak kalah penting adalah pengaruhnya terhadap lingkungan peradangan di sekitar tumor. Ekspresi TNF-α, sebuah sitokin yang terlibat dalam respon imun dan kematian sel, juga meningkat. Meski TNF-α sering dikaitkan dengan peradangan kronis, dalam konteks ini peningkatannya sejalan dengan aktivasi jalur apoptosis. Ini menandakan bahwa respons imun lokal mungkin ikut berperan dalam menekan pertumbuhan tumor.

Keunggulan utama dari pendekatan ini terletak pada penggunaan teknologi nanopartikel. Senyawa aktif dalam Saussurea lappa, seperti costunolide dan dehydrocostus lactone, sebenarnya memiliki potensi antikanker yang kuat, tetapi secara alami sulit diserap tubuh dan cepat terurai. Dengan formulasi nanopartikel, stabilitas dan ketersediaan hayati senyawa tersebut meningkat, sehingga efek terapinya menjadi lebih optimal dan terarah.

Meski hasilnya menjanjikan, penting untuk bersikap realistis. Penelitian ini masih berada pada tahap pra-klinis dan dilakukan pada hewan coba. Efektivitas dan keamanannya pada manusia masih harus diuji melalui penelitian lanjutan, termasuk uji toksisitas jangka panjang dan uji klinis terkontrol. Namun, sebagai langkah awal, temuan ini memberikan sinyal kuat bahwa terapi berbasis bahan alam yang dikombinasikan dengan teknologi modern layak dikembangkan lebih jauh. Di tengah kebutuhan akan terapi kanker yang lebih aman, terjangkau, dan efektif, nanopartikel Saussurea lappamenghadirkan harapan baru. Ia menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional tidak harus ditinggalkan, tetapi justru dapat diperkuat dengan sains dan teknologi. Jika penelitian lanjutan mendukung temuan ini, bukan tidak mungkin di masa depan kanker mulut dapat ditangani dengan pendekatan yang lebih ramah bagi pasien dan tubuh manusia.

Penulis: Ira Arundina

Tulisan lengkap kami dapat diakses:

Theresia Indah Budhy, Ira Arundina, Anis Irmawati, Cheng Hwee Ming, Meircurius Dwi Condro Surboyo, Azzahra Salsabila Adira Moelyanto, Pandu Dewanata, Naqiya Saqifa. An immunohistochemical study of Saussurea lappa nanoparticle on transformed cells in mice induced with benzo[a]pyrene for oral squamous cell carcinoma. Acta Histochemica. 2026. 128: 152312. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0065128125000868