Faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) meliputi jenis kelamin laki-laki, usia lebih dari 40 tahun, riwayat hipertensi, perilaku merokok dan derajat merokok. Masyarakat diharapkan dapat membiasakan pola hidup bersih dan sehat terutama mengurangi kebiasaan merokok sehingga angka kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dapat berkurang.
Penyakit paru obstruktif kronik adalah penyakit kronis yang menyerang paru-paru. Penyakit paru obstruktif adalah keterbatasan aliran udara yang masuk melalui sistem pernapasan yang disebabkan oleh polusi udara atau peradangan toksin yang menyerang sistem pernapasan. Prevalensi PPOK menurut The Burden of Lung Disease adalah 10,1%.
Faktor risiko yang sering kali masuk dalam kategori risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah jenis kelamin dan usia. Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, menggambarkan bahwa usia mencerminkan jumlah paparan inhalasi toksin secara kumulatif, dan hal ini diikuti dengan penurunan fungsi paru akibat penuaan. Saluran napas dan parenkim yang menua akan terjadi perubahan struktural yang berhubungan dengan kerentanan PPOK pada usia lanjut
Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa prevalensi dan kematian PPOK lebih besar terjadi pada pria dibandingkan wanita, meskipun penelitian terbaru di negara maju melaporkan bahwa prevalensi PPOK hampir sama pada pria dan wanita. Hal ini disebabkan oleh perubahan pola merokok pada wanita yang semakin meningkat di negara maju. Di Indonesia, perokok aktif masih merupakan mayoritas dari kelompok laki-laki, menurut laporan Global Adult Tobacco Survey (GATS) di Indonesia sekitar 36,1% penduduk Indonesia merokok, sebanyak 67,4% di antaranya adalah laki-laki dan 4,5% di antaranya adalah perempuan.
Hipertensi merupakan salah satu risiko utama CVD dan merupakan kontributor penting terhadap prognosis dan mortalitas yang buruk pada PPOK. Seseorang yang memiliki riwayat hipertensi akan berisiko terkena beberapa penyakit lainnya. Berdasarkan Inisiatif Global untuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis pada tahun 2019, hipertensi merupakan komorbiditas yang paling umum terjadi pada pasien PPOK. PPOK dengan hipertensi juga tidak lepas dari salah satu faktor utama PPOK yaitu merokok. Merokok dapat menyebabkan hipertensi, dan hipertensi dapat memperburuk PPOK. Pasien PPOK yang memiliki hipertensi akan dikaitkan dengan prognosis yang buruk dan dapat berkembang menjadi gagal jantung sisi kanan.
Penulis: Prof. Dr. Santi Martini, dr., M.Kes
Sumber: The Indonesian Journal of Public Health
https://e-journal.unair.ac.id/IJPH/article/view/18123
THE RELATIONSHIP OF HYPERTENSION, GENETIC AND DEGREE OF SMOKING WITH THE INCIDENCE OF COPD AT HAJI PUBLIC HOSPITAL SURABAYA





