Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa hampir 1 dari 3 balita mengalami stunting. Kondisi ini bukan hanya soal tinggi badan, melainkan berkaitan dengan kualitas hidup, kecerdasan, hingga risiko penyakit kronis di masa depan. Penelitian terbaru mencoba mengupas lebih dalam hubungan antara infeksi, respons peradangan tubuh, serta peran hormon penting bernama Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) terhadap pertumbuhan anak.
Infeksi dan Pertumbuhan: Hubungan Dua Arah
Ketika seorang anak terserang infeksi, misalnya tuberkulosis (TB) atau infeksi saluran kemih (ISK), tubuh mereka mengeluarkan berbagai zat peradangan atau sitokin. Zat ini penting untuk melawan kuman, tetapi di sisi lain dapat mengganggu metabolisme dan penyerapan nutrisi. Akibatnya, anak yang sering sakit cenderung sulit naik berat badan, bahkan bisa mengalami gagal tumbuh. Sebaliknya, anak yang gizinya kurang juga lebih mudah terkena infeksi. Jadi, ada lingkaran setan: infeksi memperburuk gizi, gizi buruk melemahkan daya tahan tubuh, lalu anak semakin rentan sakit.
IGF-1: Hormon Kunci Pertumbuhan
IGF-1 adalah hormon yang bekerja sama dengan hormon pertumbuhan (Growth Hormone/GH) untuk mendukung pertambahan tinggi dan berat badan anak. Hormon ini juga berperan penting dalam perkembangan tulang, otot, hingga metabolisme tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa peradangan akibat infeksi menurunkan kadar IGF-1 dalam tubuh anak. Saat IGF-1 rendah, pertumbuhan tulang terhambat dan anak lebih berisiko mengalami stunting.
Penelitian yang dilakukan pada 75 anak usia 1–5 tahun yang mengalami infeksi menemukan fakta menarik: 37,3% anak mengalami gizi kurang, 30,6% anak mengalami stunting, dan stunting lebih banyak ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun. Analisis jalur menemukan bahwa respon inflamasi (IL-6 dan IL-10_ mempengaruhi IGF-1 (r=0.850, p=0.000), sementara itu, IGF-1 memengaruhi komposisi tubuh (berat dan tinggi badan) (r=0.245, p=0.025), yang pada akhirnya menentukan status pertumbuhan (HAZ/LAZ). Pengaruh IGF-1 terhadap HAZ/LAZ bersifat tidak langsung, namun melalui perubahan komposisi tubuh. Sementara komposisi tubuh dipengaruhi oleh tinggi badan orang tua.
Menariknya, pengaruh IGF-1 terhadap tinggi badan tidak langsung, melainkan dimediasi oleh kondisi tubuh anak secara keseluruhan. Faktor genetik, seperti tinggi badan orang tua, juga tetap berperan, meski pengaruhnya lebih kecil dibandingkan dampak infeksi dan peradangan.
Masa Kritis Dua Tahun Pertama
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa dua tahun pertama kehidupan adalah periode emas pertumbuhan anak. Bila pada fase ini anak sering mengalami infeksi atau asupan gizinya tidak optimal, dampaknya bisa permanen terhadap tinggi badan dan perkembangan anak.
Karena itu, pencegahan stunting sebaiknya fokus pada: pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping bergizi seimbang, imunisasi lengkap untuk mencegah penyakit infeksi, kebersihan lingkungan untuk mencegah diare dan ISK, pemantauan rutin pertumbuhan di posyandu atau layanan kesehatan.
Take Home Messege
Stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi juga terkait erat dengan kesehatan anak secara menyeluruh, terutama kerentanan terhadap infeksi. Penelitian ini memberi pesan kuat bahwa upaya mencegah infeksi sejak dini dapat menjaga kadar IGF-1 tetap optimal, sehingga pertumbuhan anak tidak terhambat.
Dengan pemahaman ini, diharapkan orang tua, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan semakin fokus pada pencegahan infeksi serta perbaikan gizi pada masa awal kehidupan anak. Dua tahun pertama adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, karena masa depan anak bergantung padanya.
Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K)
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://journal.ugm.ac.id/v3/BKM/article/view/18379





