Gangguan gaya berjalan neurologis pada kuda telah dikenali sejak lama dengan istilah Wobblers Syndrome yang diperkenalkan pada tahun 1938. Penyebab utamanya adalah Cervical Vertebral Stenotic Myelopathy (CVSM) yang ditandai dengan malformasi atau ketidakstabilan tulang leher, menyebabkan kompresi sumsum tulang belakang. Gejala klinis mencakup ataksia simetris, kelemahan, kekakuan leher, hingga kehilangan keseimbangan. Insidensi CVSM mencapai 1,3%, dengan risiko lebih tinggi pada ras tertentu seperti Thoroughbred, Quarter Horse, Arab, Morgan, dan Appaloosa. Terdapat dua bentuk utama, yaitu lesi dinamis (usia 4–18 bulan, kompresi C3–C5) dan stenosis statis (usia 1–4 tahun, penyempitan C5–C7). Prognosis sering buruk, dengan rekomendasi eutanasia pada sebagian kasus, sementara tindakan bedah masih diperdebatkan karena biaya, efektivitas, dan risiko komplikasi tinggi. Penelitian ini mengkaji dalam peningkatan kesehatan dan kesejahteraan hewan serta penanganan medis yang tepat guna mengurangi tindakan eutanasia pada kuda yang mengalami Wobblers Syndrome sejalan dengan SDG 3 yakni Good Health and Well-being.
Tulisan ini merupakan berita kasus yang terjadi pada seekor anak kuda betina berusia 1 tahun dengan bobot 350 kg diperiksa di Meraki Equine Clinic dengan gejala ataksia, riwayat trauma akibat menabrak pagar, serta kelemahan tungkai belakang dan gangguan keseimbangan. Pemeriksaan klinis menunjukkan kekakuan kaki belakang, koordinasi buruk antara kaki depan dan belakang, langkah tidak normal saat berbelok, serta menyeret kuku. Pemeriksaan fisik umumnya normal, kecuali pada sistem muskuloskeletal dan neurologis yang menunjukkan abnormalitas. Radiografi lateral memperlihatkan fraktur pada vertebra servikal C3–C5, mengarah pada diagnosis Cervical Vertebral Stenotic Myelopathy (CVSM)/Wobbler Syndrome dengan prognosis buruk. Terapi awal menggunakan ketoprofen® 2,2 mg/kg BB IV selama 3 hari tidak menunjukkan perbaikan, sehingga dilanjutkan dengan terapi elektroakupunktur pada titik akupunktur tertentu menggunakan stimulator ®KWD-808I. Setelah serangkaian terapi elektroakupuntur secara konsisten, terjadi perubahan signifikan pada kuda sehingga kuda mampu berdiri normal meski masih sedikit tidak seimbang saat berjalan.
Kuda dengan gangguan koordinasi meski tampak sehat perlu dicurigai mengalami Wobbler Syndrome, yang umumnya terjadi pada kuda berusia kurang dari 3 tahun dan sering memiliki riwayat trauma area servikal. Diagnosis utama dilakukan dengan radiografi, sedangkan terapi konvensional seperti antiinflamasi hanya sebagai pendukung. Pada kasus ini, kuda diberi ketoprofen secara intramuskular (2,2 mg/kg BB) dan vitamin B kompleks. Sebagai alternatif, dilakukan terapi elektroakupunktur, yaitu stimulasi titik akupunktur menggunakan arus listrik mikro. Elektroakupunktur terbukti membantu perbaikan koordinasi melalui berbagai mekanisme, termasuk mengurangi inflamasi akibat kompresi saraf, meningkatkan aliran darah otak dan nutrisi jaringan, memperbaiki transmisi sinyal saraf, serta menstabilkan aktivitas bioelektrik sistem saraf. Selain itu, elektroakupunktur merangsang pelepasan serotonin, dopamin, dan endorfin yang mengurangi nyeri serta merelaksasi otot. Perbaikan klinis biasanya tampak setelah dua bulan, di mana kuda dapat berdiri normal meskipun masih terdapat sedikit ketidakstabilan saat berjalan. Dengan demikian, elektroakupunktur dapat menjadi terapi alternatif yang cukup potensial untuk mengurangi inkoordinasi pada kasus Wobbler Syndrome.
Penulis: Tantri Dyah Whidi Palupi, drh., M.Si.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://www.vetpract.in/contents/management-of-wobbler-syndrome-in-crossbreed-filly





