Masa remaja merupakan periode penting dalam kehidupan manusia, ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang sangat cepat. Pada masa ini, remaja mulai membentuk kebiasaan dan perilaku makan yang akan bertahan hingga dewasa. Sayangnya, perkembangan zaman dan meningkatnya tekanan sosial membuat banyak remaja terjebak dalam pola pikir mengenai tubuh ideal yang tidak realistis. Kondisi ini mendorong mereka untuk melakukan berbagai cara agar penampilannya sesuai dengan standar kecantikan modern, termasuk mencoba fad diet, yaitu pola diet populer yang menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat namun tidak terbukti secara ilmiah. Fenomena ini tampak jelas dalam penelitian terbaru yang dilakukan di SMA Negeri 5 Surabaya, di mana sejumlah besar remaja diketahui memiliki persepsi tubuh negatif dan terlibat dalam praktik diet ekstrem.
Penelitian yang melibatkan 91 siswa ini memperlihatkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Lebih dari setengah responden memiliki status gizi berlebih, mulai dari kelebihan berat badan hingga obesitas. Menariknya, tingginya angka gizi berlebih ini sejalan dengan meningkatnya kecenderungan remaja untuk mencoba fad diet. Sebanyak 65,9% responden diketahui pernah atau sedang melakukan diet cepat yang tidak didasarkan pada prinsip gizi seimbang. Tren ini menunjukkan bahwa banyak remaja merasa tidak puas dengan tubuhnya sehingga memilih metode ekstrim untuk menurunkan berat badan, padahal dampak jangka panjang dari fad diet bisa berbahaya.
Jenis fad diet yang paling banyak dilakukan adalah mengurangi frekuensi makan dalam sehari, terutama dengan melewatkan sarapan atau makan malam. Hampir 50% siswa melakukan strategi ini sebagai upaya cepat untuk menurunkan berat badan. Padahal, beberapa penelitian menyebutkan bahwa melewatkan sarapan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan mempengaruhi metabolisme tubuh. Sementara itu, melewatkan makan malam justru dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dalam jangka panjang. Selain itu, terdapat pula remaja yang mengonsumsi kombinasi makanan tertentu, menghindari jenis makanan tertentu, atau hanya makan satu jenis makanan saja. Praktik-praktik ini, meskipun populer di media sosial, tidak memberikan manfaat kesehatan yang berkelanjutan dan dapat memicu masalah serius, seperti hipoglikemia, kekurangan energi kronis, hingga gangguan pertumbuhan.
Di sisi lain, penelitian ini juga menyoroti bagaimana citra tubuh atau body image memiliki peranan besar dalam mempengaruhi perilaku diet remaja. Hampir setengah dari responden memiliki citra tubuh negatif, dengan banyak diantaranya merasa tidak puas terhadap penampilan, terutama berat badan, bentuk wajah, dan bagian tubuh tertentu seperti pinggul atau perut. Ketidakpuasan ini berkaitan erat dengan tekanan sosial yang semakin kuat, baik melalui media sosial, lingkungan sekolah, maupun standar kecantikan yang sering kali tidak realistis. Remaja perempuan dalam penelitian ini lebih sering menunjukkan ketidakpuasan terhadap tubuh dibandingkan remaja laki-laki, sejalan dengan temuan berbagai studi internasional yang menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih rentan terhadap tekanan standar kecantikan.
Ketika citra tubuh negatif bertemu dengan status gizi berlebih, remaja menjadi lebih rentan untuk mencoba fad diet. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara citra tubuh negatif dengan status gizi, di mana remaja yang merasa tidak puas terhadap tubuhnya lebih cenderung memiliki status gizi berlebih. Ironisnya, ketidakpuasan ini justru mendorong mereka melakukan diet yang tidak sehat, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka. Proses ini menjadi lingkaran yang sulit diputus: citra tubuh negatif memicu diet ekstrim, diet ekstrem memicu gangguan makan dan ketidakseimbangan nutrisi, dan kondisi tersebut kembali memperburuk persepsi terhadap tubuh sendiri.
Penelitian ini menegaskan bahwa upaya perbaikan perilaku makan pada remaja tidak dapat dilakukan hanya dengan memberikan edukasi mengenai gizi seimbang. Perlu ada pendekatan yang lebih komprehensif yang tidak hanya berfokus pada pola makan, tetapi juga kesehatan mental dan persepsi diri. Orang tua dan sekolah berperan penting dalam memberikan pemahaman mengenai citra tubuh yang sehat serta membangun lingkungan yang tidak hanya mementingkan penampilan fisik. Pendekatan edukasi berbasis hiburan atau entertainment education dapat menjadi strategi efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh remaja.
Dengan semakin tingginya paparan standar kecantikan di media sosial, pendidikan mengenai body positivity dan literasi media menjadi sangat penting. Remaja perlu dibekali kemampuan untuk memahami bahwa tubuh ideal tidak selalu berarti tubuh kurus, serta bahwa kesehatan tidak bisa dicapai dengan metode instan. Mengembangkan kebiasaan makan yang sehat, beraktivitas fisik secara rutin, dan menerima tubuh apa adanya merupakan langkah penting yang harus ditanamkan sejak dini. Tanpa intervensi yang tepat, fenomena fad diet dan citra tubuh negatif berpotensi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang lebih besar di masa depan.
Penulis : Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz., M.PH., Dietisien.
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:
https://doi.org/10.20473/amnt.v9i3.2025.430-437
Rahmawati, A. F., Arini, S. Y., Atmaka, D. R., Kusuma, A. R., Putri, S. A., Wijanarko, M. A., Nor, N. M., & Shahid, N. S. M. (2025). The Relationship between Fad Diet Sentiments and Body Image Perceptions with the Nutritional Status of Adolescents in Surabaya. Amerta Nutrition, 9(3), 430-437. https://doi.org/10.20473/amnt.v9i3.2025.430-437





