Universitas Airlangga Official Website

Idealisasi Nasionalisme Pasca-Kemerdekaan: Peran Anak dan Keluarga dalam Film Indonesia Tahun 1950-an

Ilustrasi film (foto: dok istimewa)

Artikel ini mengkaji film Indonesia *Si Pintjang* (1951) dan *Djenderal Kantjil* (1958) untuk mengeksplorasi bagaimana keduanya menggunakan penggambaran anak-anak dalam mengartikulasikan gagasan nasionalisme Indonesia pasca-kemerdekaan. Disutradarai oleh sineas terkemuka Indonesia, Kotot Sukardi dan Nya Abbas Akup, kedua film ini diyakini mencerminkan ideologi politik yang berbeda di tengah polarisasi politik pada tahun 1950-an. Melalui kisah yang menggambarkan anak-anak, para sutradara menggunakan simbolisme untuk mencerminkan kondisi sosial-politik Indonesia yang baru merdeka, di mana peran anak-anak sebagai generasi penerus bangsa menjadi sorotan utama.

Film-film ini tidak hanya mengangkat isu politik, tetapi juga mengulas dinamika antara anak-anak dan orang dewasa, yang merepresentasikan hubungan antara warga negara dan negara. Dalam *Si Pintjang*, anak-anak digambarkan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekacauan, tetapi akhirnya membutuhkan bimbingan untuk mengatasi situasi tersebut. Demikian pula, dalam *Djenderal Kantjil*, peran anak-anak sebagai protagonis juga mencerminkan kondisi sosial di mana anak-anak diposisikan sebagai cerminan masa depan bangsa yang harus diarahkan oleh figur-figur dewasa, yang melambangkan kekuatan negara. 

Melalui narasi ini, kedua film tersebut menggarisbawahi pentingnya otoritas negara dalam menciptakan keteraturan dari kekacauan. Orang dewasa dalam film menjadi representasi kekuatan negara yang mampu memulihkan ketertiban, sekaligus memberikan bimbingan kepada generasi muda. Ini menunjukkan bagaimana kekuatan negara dan penguasa diidealkan sebagai elemen penting dalam proses pembangunan pasca-kolonialisme. Secara implisit, film-film ini menyampaikan pesan bahwa negara memiliki kewajiban untuk mendidik dan membimbing warganya agar dapat berkontribusi pada stabilitas dan kemajuan bangsa.

Kesimpulannya, kedua film ini menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak-anak sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga memainkan peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan moral yang kemudian berkontribusi pada penataan negara. Hubungan antara anak-anak dan orang dewasa dalam film mencerminkan bagaimana peran keluarga dalam mendidik dan membimbing generasi muda sangat menentukan arah bangsa di masa depan. Dengan demikian, film-film ini tidak hanya berbicara tentang hubungan antara negara dan warganya, tetapi juga menyoroti peran sentral keluarga sebagai fondasi dalam membangun sebuah negara yang stabil dan berdaulat.

Oleh: IGAK Satrya Wibawa

Staf Pengajar Ilmu Komunikasi FISIP Unair