Indonesia pada tahun 2045 akan memperingati 100 tahun atau satu abad kemerdekaan Indonesia yang merupakan momen emas bagi Indonesia untuk mewujudkan visi Indonesia 2045. Visi Indonesia 2045 merupakan langkah pemerintah untuk membangun Indonesia sejalan dengan tren utama dunia (Global Megatrends), berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, maka dibuatlah Rencana Kementerian Pembangunan Nasional/Visi Bapenas. Visi tersebut memberikan gambaran menyeluruh tentang bangsa Indonesia ideal dan peta jalan yang harus dicapai Indonesia pada tahun 2045. Untuk mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045, Indonesia perlu membina generasi masa depan yang berkualitas dan melaksanakan pembangunan yang berkeadilan di seluruh wilayah dengan memperhatikan karakteristik kepulauan Indonesia.
Sayangnya cita-cita Indonesia Emas 2045 menemui tantangan yang besar, terutama pada kelompok generasi muda saat ini. Tantangan tersebut antara lain terkait dengan perilaku merokok remaja. Pada tahun 2019, sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia menggunakan produk tembakau, termasuk 847 juta pria dan 153 juta wanita. Sebanyak 25 juta dari pengguna tembakau ini adalah remaja berusia 13-15 tahun. Wilayah Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik Barat memiliki jumlah perokok terbanyak, masing-masing sekitar 6,4 juta dan 4,7 juta. Indonesia merupakan kontributor utama jumlah perokok di kawasan ini.
Dari beberapa data yang ada, perokok remaja di Indonesia usia 13 sampai 18 tahun adalah sekitar 38,3%. Angka persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (20,6%), Thailand (17,2%), dan Myanmar (17%). Hal ini juga diperparah dengan angka yang lain, yaitu tentang usia inisiasi merokok termuda. Berdarkan data yang ada angka usia inisiasi merokok di Indonesia adalah 16,8 tahun yang mana angka tersebut merupakan angka termuda di antara negara-negara Association of Southeast Asia Nation (ASEAN).
Beberapa penelitian yang telah ada, memaparkan bahwa melakukan aktivitas merokok di usia muda berdampak buruk pada aspek kesehatan dan berisiko terhadap penyakit kronis sepanjang hidup seseorang. Intensitas akitivitas merokok di masa muda dapat mengakibatkan kecanduan nikotin, sehingga dapat berdampak buruk pada masa yang akan datang terutama pada perkembangan otak. Selain hal tersebut, perokok remaja dapat mengalami perlambatan fungsi paru dan gangguan pertumbuhan paru.
Di sisi lain, industri tembakau menggunakan berbagai cara untuk mengubah generasi muda menjadi konsumen tetap. Penelitian sebelumnya secara meyakinkan menemukan hubungan antara perilaku merokok remaja dan iklan tembakau. Industri tembakau terlibat dalam kegiatan pemasaran langsung dan tidak langsung, seperti sponsorship acara olahraga dan festival musik (seperti poster dan iklan). Selain itu, industri rokok memanfaatkan ketenaran tokoh untuk mempromosikan produk tembakaunya kepada generasi muda.
Studi tentang analisis data dari hasil survei internasional Global Youth Tobacco Survey tahun 2019 di Indonesia, khususnya melihat perilaku merokok remaja dan IPS Produk tembakau. Perilaku merokok yang diamati dari studi ini adalah dengan jenis perokok saat ini (current smoker), riwayat merokok (ever smoker) serta kerentanan terhadap perilaku merokok (susceptibility to smoke). Sedangkan IPS produk tembakau yang diamati adalah paparan iklan, promosi dan sponsor produk tembakau dengan berbagai bentuknya terhadap remaja. Contoh bentuk dari IPS produk tembakau adalah adanya iklan di televisi, radio, internet, koran dan majalan. Selain itu bentuk lain dari IPS produk tembakau adalah adanya logo atau symbol dari produk tembakau pada kegiatan-kegiatan olahraga, sosial budaya dan kemasyarakatan, sehingga remaja dengan mudah melihat dan terpapar pada IPS produk tembakau. Dari riset yang ada ditemukan pola bahwa IPS produk tembakau masih menjadi senjata ampuh untuk industry tembakau menggaet para remaja menjadi konsumen setia mereka.
IPS berpotensi menghancurkan bonus demografi Indonesia?
Ada beberapa faktor penyebab fenomena yang ditunjukkan pada hasil penelitian di atas. Namun ada dua faktor utama yang dapat dijadikan argumen bahwa IPS Produk Tembakau masih menjadi corong industry rokok mempersuasi remaja Indonesia melakukan aktivitas merokok. Kedua faktor tersebut adalah (1) campur tangan industri tembakau dalam berbagai kebijakan kesehatan di Indonesia, yang biasa disebut juga dengan istilah Tobacco Industry Interference (TII), dan (2) iklan dan promosi produk tembakau di kalangan remaja, dengan paparan yang tinggi.
TII merupakan berbagai kegiatan industri tembakau untuk mengatasi dan menumbangkan program pengendalian tembakau. Hal ini mencakup lobi politik langsung dan tidak langsung dan kontribusi kampanye, pendanaan penelitian, upaya untuk mempengaruhi arah peraturan dan kebijakan, dan upaya tanggung jawab sosial melalui kampanye hubungan masyarakat, dan seterusnya. Skor Global Tobacco Index Indonesia pada tahun 2021 adalah 83, menempati peringkat ke-77 dari 80 negara. Artinya TII Indonesia masih tinggi dibandingkan negara lain.
Pertanyaan berikutnya mengenai intensitas paparan produk tembakau oleh IPS dan perilaku merokok remaja. Permasalahan ini telah dibuktikan secara ilmiah melalui beberapa penelitian yang dilakukan di beberapa wilayah Indonesia. Pada tahun 2021, Sutrisno dan tim penelitinya menemukan hubungan yang kuat antara paparan iklan tembakau dan niat merokok jangka pendek dan jangka panjang di kalangan teman perokok dan remaja di Kabupaten Sleman, Indonesia. Di Malang, Indonesia, ditemukan bahwa selama pandemi, generasi muda terpapar berbagai jenis iklan dan promosi tembakau yang dapat meningkatkan perilaku merokok.
Berdasarkan temuan di atas, kami mendesak pemerintah Indonesia untuk mengembangkan pesan-pesan anti-rokok baru sesuai dengan praktik terbaik internasional di semua saluran komunikasi sehingga generasi muda Indonesia dapat dengan mudah mengaksesnya serta dapat memerangi TII dan IPS pada produk tembakau.
Penulis : Hario Megatsari, S.KM., M.Kes
Megatsari, H., Astutik, E., Gandeswari, K., Sebayang, S. K., Nadhiroh, S. R., Martini, S. (2023). Tobacco advertising, promotion, sponsorship and youth smoking behavior: The Indonesian 2019 Global Youth Tobacco Survey (GYTS). Tobacco Induced Diseases, 21(December), 163. https://doi.org/10.18332/tid/174644





