Universitas Airlangga Official Website

Industri Film Menghadapi Resesi

Foto by Kompasiana

Resesi ekonomi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk yang terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang negatif, pengangguran meningkat, maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. Bank Dunia mencatat, resesi 2023 dipicu keadaan saat bank-bank sentral seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi. Inflasi adalah proses meningkatnya harga secara umum dan terus-menerus.

Dampak dari pandemi Covid-19 telah mengubah secara signifikan kebiasaan masyarakat. Pandemi Covid-19 yang sedang kita hadapi bersama merupakan salah satu pemicu resesi ekonomi di beberapa negara. Bahkan hal ini telah menyebabkan angka pengangguran dan jumlah penduduk miskin di berbagai negara juga ikut meningkat loh sebagai konsekuensi lesunya perekonomian.

Terbukti dari PDB Indonesia pada 2020 lebih rendah dari 2019 dan terjadi banyak PHK di berbagai sektor. Namun, pemerintah tidak tinggal diam, perlahan namun pasti, pemerintah mampu memperbaiki keadaan. Sehingga, 2021 Indonesia mampu meningkatkan PDB melebihi 2019.

Pandemi membuat beberapa perubahan dalam beraktivitas, yang semula menonton film lebih sering dilakukan di bioskop, kini kita bisa menikmati film dari layanan streaming. Bahkan, pada saat pandemi, ada film yang hanya rilis di layanan streaming dengan penonton lebih dari 100.000 dalam waktu yang singkat. Meskipun jumlah penonton yang terhitung 100.000, kelebihan layanan streaming yaitu dapat dilihat lebih dari 1 orang. Sehingga, sebenarnya penonton lebih dari angka tersebut.

Industri film termasuk dalam industri yang tahan akan ekonomi. Memang industri ini juga memiliki banyak tantangan, namun industri ini sangat menarik untuk dikembangkan. Penikmat film biasanya paling banyak adalah usia remaja hingga dewasa, ini menjadi sangat baik karena penduduk di Indonesia sangat banyak.

Potensi industri film, termasuk di dalamnya bioskop dan layanan streaming di Indonesia sangat baik. Terlihat dari cukup banyaknya media streaming yang masuk ke Indonesia. Potensi itu antara lain sumber daya alam dan manusia yang banyak dan sangat potensial, keberadaan bioskop yang sudah lumayan banyak, media streaming yang juga sudah menjamur di Indonesia,

Potensi sumber daya alam dan manusia disini berarti Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, dan sumber daya manusia yang kompeten. Indonesia dengan jumlah masyarakatnya hampir 280 juta, memiliki potensi yang sangat besar untuk memajukan industri perfilman. Dalam industri film tidak hanya berkutat pada videografer saja, namun juga faktor-faktor lain yang mendukung seperti akomodasi, tempat tinggal, catering, dan lain sebagainya.

Keberadaan bioskop di Indonesia sudah cukup banyak, meskipun beberapa daerah yang terpinggir masih belum memiliki akses ke bioskop, namun daerah sekitar pasti ada yang memiliki bioskop. Pemerintah juga memberi peluang kepada pelaku usaha untuk membuka tempat menonton film. Meskipun ada layanan streaming, menonton di bioskop memiliki sensasi yang berbeda.

Layanan media streaming di Indonesia mulai banyak dilirik setelah adanya pandemi. Pengusaha juga mulai berani memasukkan layanan tersebut karena adanya pembatasan saat pandemi. Dengan jumlah masyarakat yang sangat tinggi, ini memberikan angin segar kepada pelaku usaha layanan media streaming untuk mengembangkannya di Indonesia.

Tantangan yang dapat dihadapi industri perfilman sepertinya tidak terlalu banyak. Beberapa hambatan atau tantangan yang muncul seperti tidak banyak daerah yang siap menjadikan daerahnya menjadi tempat pengambilan film, kurangnya bioskop di daerah terpencil, kurangnya regulasi yang mengatur tentang media streaming.

Beberapa daerah di Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat baik, namun terkadang beberapa oknum tidak dapat bekerjasama dengan baik. Perizinan dan perencanaan yang kurang menjadi permasalahan yang belum terpecahkan. Industri film memiliki keterikatan dengan industri lain dalam proses produksi. Daerah yang digunakan dalam produksi film akan mendapatkan pendapatan yang lumayan.

Keterbatasan bioskop di daerah pinggiran merupakan salah satu hambatan pengembangan industri film di Indonesia. Sebenarnya untuk ketertarikan masyarakat untuk menonton film cukup tinggi, namun tidak semua pengusaha bioskop berani mendirikan usahanya di tempat yang terpencil. Pemerintah sudah memberikan kemudahan dan keringanan, jika ada pengusaha ingin mendirikan tempat nonton di daerah terpencil. Mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat, sehingga agak sulit dalam merubah kebiasaan.

Maraknya layanan media streaming di Indonesia tidak diimbangi dengan regulasi yang matang dari pemerintah. Berbeda dengan negara lain yang memiliki regulasi yang jelas, sehingga mereka dapat lebih mantap untuk menjual produknya. Disini pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan lagi peluang yang dapat diambil dari bisnis baru seperti layanan media streaming ini.

Industri film di tanah air sudah dapat dikatakan bertahan dengan adanya resesi, namun tetap harus berhati-hati karena bisa saja ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Pemerintah diharapkan segera memberi keputusan, agar dapat memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan dalam industri perfilman. Pasar film di Indonesia memang masih dalam lingkup nasional. Namun ada juga pasar film Indonesia yang mampu menembus kanca Internasional. Dengan adanya media streaming, ini pasti akan memberi peluang besar untuk Indonesia dengan segala kekayaan yang ada.

Penulis: Muhammad Andika Ahsana (Mahasiswa S2 PSDM UNAIR)