Universitas Airlangga Official Website

Inovasi Digital Edukasi Menstruasi: Studi Implementasi Aplikasi Oky Di SMPN 30 Surabaya

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Upaya peningkatan kesehatan reproduksi remaja kembali mendapat sorotan melalui riset terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Volume 21 Nomor 1 Tahun 2026. Penelitian berjudul “Diffusion of Educational Digital Innovation: Implementing The OKY App for Menstrual Education in Junior High Schools” mengkaji bagaimana inovasi digital berupa aplikasi pelacak menstruasi OKY diterima dan diimplementasikan oleh siswi sekolah menengah pertama.

Studi ini dilakukan di SMPN 30 Surabaya dan melibatkan 70 siswi kelas VII dan VIII. Penelitian dipimpin oleh Pulung Siswantara bersama tim dari Universitas Airlangga serta berkolaborasi dengan institusi lain, termasuk University of Groningen.

Tantangan Kesehatan Reproduksi Remaja

Masa remaja merupakan fase transisi penting dengan berbagai perubahan fisik dan psikologis. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan rentang usia remaja 10–19 tahun. Di Indonesia, jumlah remaja mencapai lebih dari 44 juta jiwa, menjadikan kelompok ini sangat strategis dalam pencapaian target pembangunan kesehatan nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Namun, minimnya literasi kesehatan reproduksi masih menjadi persoalan. Data menunjukkan tingginya kasus keputihan patologis pada remaja perempuan di Jawa Timur. Praktik kebersihan menstruasi yang kurang tepat berpotensi meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi, gangguan psikologis, hingga menurunnya kualitas hidup. Di SMPN 30 Surabaya sendiri, studi pendahuluan menemukan banyak siswi mengalami dismenore dan keputihan. Sekolah maupun puskesmas setempat belum memiliki program khusus edukasi manajemen kebersihan menstruasi. Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan inovatif berbasis digital.

OKY App: Edukasi Menstruasi di Genggaman

Salah satu inovasi yang dikaji adalah OKY App, aplikasi edukasi menstruasi yang dikembangkan oleh UNICEF. Aplikasi ini dirancang khusus untuk remaja perempuan dengan fitur Diary, Encyclopedia, Quiz and Tips, serta Settings. Keunggulan lainnya, aplikasi dapat digunakan tanpa koneksi internet setelah diunduh.

Peneliti menggunakan pendekatan teori Difusi Inovasi dari Everett M. Rogers untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan dan implementasi penggunaan aplikasi. Lima karakteristik inovasi yang diuji meliputi: relative advantage (keunggulan relatif), compatibility (kesesuaian), complexity (kerumitan), trialability (kemungkinan untuk diuji coba), dan observability (kemudahan diamati). Variabel pengetahuan juga turut dianalisis.

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dipilih secara acak sederhana dari populasi 300 siswi yang telah terpapar sosialisasi aplikasi OKY. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antarvariabel.

Mayoritas responden berusia 14 tahun (47,14%). Sebagian besar orang tua memiliki penghasilan di bawah upah minimum. Sebanyak 55,71% responden menggunakan Wi-Fi untuk akses internet, sementara sisanya membeli kuota sendiri. Kondisi sosial ekonomi ini menjadi konteks penting dalam memahami adopsi teknologi kesehatan digital.

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Menggunakan OKY

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua karakteristik inovasi berpengaruh secara signifikan.

  1. Relative Advantage (Keunggulan Relatif)

Menariknya, keunggulan relatif tidak berhubungan signifikan dengan keputusan maupun implementasi penggunaan aplikasi. Meski aplikasi dinilai bermanfaat dan hemat kuota, kebutuhan data internet saat pengunduhan menjadi kendala awal bagi sebagian siswi.

  • Compatibility (Kesesuaian)

Variabel ini memiliki hubungan signifikan dengan keputusan dan implementasi. Artinya, semakin sesuai aplikasi dengan nilai, kebutuhan, dan pengalaman remaja, semakin besar kemungkinan mereka menggunakannya secara konsisten.

  • Complexity (Kerumitan)

Kerumitan berpengaruh pada tahap keputusan, tetapi tidak pada implementasi. Siswi yang menganggap aplikasi mudah dipahami cenderung memutuskan untuk mencoba. Namun setelah digunakan, tingkat kerumitan tidak lagi menjadi faktor dominan.

  • Trialability (Kemungkinan Uji Coba)

Trialability terbukti berpengaruh signifikan baik pada keputusan maupun implementasi. Sosialisasi langsung dan pendampingan tutor saat pengenalan aplikasi meningkatkan kepercayaan diri siswi untuk mencoba dan menggunakan aplikasi secara rutin.

  • Observability (Kemudahan Diamati)

Observability menjadi faktor paling kuat. Ketika manfaat aplikasi terlihat jelas dan dibagikan antar teman, minat adopsi meningkat. Pengaruh teman sebaya terbukti penting dalam penyebaran inovasi digital di lingkungan sekolah.

  • Knowledge (Pengetahuan)

Pengetahuan memiliki hubungan signifikan dengan keputusan dan implementasi. Semakin tinggi pemahaman siswi tentang menstruasi dan fungsi aplikasi, semakin tinggi pula tingkat penggunaan.

Tahap Konfirmasi: Apakah Tetap Digunakan?

Pada tahap konfirmasi, 74,28% responden masih menggunakan aplikasi dalam kategori tinggi. Artinya, mayoritas siswi mempertahankan keputusan adopsi mereka. Namun, sekitar 25% berada pada kategori rendah, menunjukkan masih ada ruang perbaikan dalam strategi pendampingan.

Implikasi bagi Pendidikan dan Kesehatan

Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan inovasi digital kesehatan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Faktor persepsi pengguna, kemudahan uji coba, dukungan sosial, dan literasi kesehatan menjadi kunci utama.

Bagi sekolah, integrasi aplikasi edukasi menstruasi dalam kurikulum kesehatan reproduksi dapat menjadi langkah strategis. Bagi pemerintah daerah dan dinas kesehatan, pendekatan berbasis difusi inovasi dapat digunakan untuk memperluas implementasi program digital health di kalangan remaja.

Penelitian ini juga mendukung upaya pencapaian SDGs, khususnya tujuan ketiga tentang kesehatan yang baik dan kesejahteraan serta tujuan kelima tentang kesetaraan gender. Edukasi menstruasi yang tepat berkontribusi pada peningkatan partisipasi sekolah, kesehatan mental, dan kepercayaan diri remaja perempuan.

Menuju Transformasi Digital Kesehatan Remaja

Di era transformasi digital, aplikasi seperti OKY menunjukkan potensi besar sebagai media edukasi kesehatan reproduksi yang adaptif dan ramah remaja. Namun, strategi implementasi harus memperhatikan aspek kompatibilitas budaya, kemudahan akses, dan dukungan lingkungan sosial.

Studi di SMPN 30 Surabaya ini memberikan gambaran bahwa inovasi digital dapat diterima dengan baik apabila disertai pendekatan edukatif yang tepat. Ke depan, kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan pengembang teknologi menjadi kunci dalam membangun generasi remaja yang sehat, cerdas, dan berdaya.

Dengan pemanfaatan teknologi yang bijak dan berbasis bukti ilmiah, literasi menstruasi bukan lagi isu tabu, melainkan bagian integral dari pendidikan kesehatan modern.

Link: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jpki/article/view/73547

Penulis: Dr. Pulung Siswantara, S.KM., M.Kes