Sumber Gizi MikroIndonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi akuakultur terbesar di dunia. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa produksi akuakultur nasional mencapai 16,87 juta ton pada tahun 2022. Di balik angka besar itu, ada satu faktor kecil namun krusial yang menentukan keberhasilan budidaya ikan dan udang: ketersediaan pakan alami berkualitas tinggi. Salah satu sumber pakan alami paling penting adalah mikroalga Chaetoceros calcitrans, sejenis diatom berwarna cokelat keemasan. Mikroalga ini kaya protein (sekitar 35%) dan fucoxanthin, pigmen alami bernilai tinggi yang tak hanya bermanfaat bagi pertumbuhan larva ikan dan udang, tapi juga berpotensi sebagai bahan antioksidan dan kosmetik alami. Sayangnya, pertumbuhan mikroalga sangat bergantung pada ketersediaan nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan silikat. Selama ini, unsur-unsur itu banyak disuplai lewat pupuk anorganik seperti urea, NPK, dan silikat. Penggunaan jangka panjang pupuk kimia tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga dapat menimbulkan dampak lingkungan, seperti pencemaran air dan ketidakseimbangan ekosistem perairan.
Penelitian terbaru oleh tim dari Universitas Airlangga mencoba memahami bagaimana pupuk organik cair berbahan limbah pertanian dan ikan dapat memengaruhi pertumbuhan, kandungan protein, dan fucoxanthin mikroalga Chaetoceros calcitrans.
Tujuannya adalah menemukan alternatif ramah lingkungan yang mampu menggantikan pupuk kimia tanpa menurunkan produktivitas. Tim peneliti menggunakan jerami padi, enceng gondok, dan isi perut ikan nila (Oreochromis niloticus)—tiga bahan yang melimpah namun sering terbuang percuma. Jerami kaya silika, enceng gondok mengandung protein dan kalium, sedangkan limbah ikan merupakan sumber protein dan fosfor. Melalui proses fermentasi selama dua minggu, seluruh bahan ini diurai menjadi nutrien yang lebih mudah diserap mikroalga.
Penelitian ini menguji lima perlakuan dengan dosis pupuk berbeda, dari tanpa pupuk (kontrol) hingga 12 mL/L. Hasilnya cukup mencengangkan: pemberian pupuk organik cair secara signifikan meningkatkan pertumbuhan C. calcitrans. Pada dosis tertinggi (12 mL/L), mikroalga mencapai kepadatan sel 190 × 10⁴ sel/mL dengan laju pertumbuhan spesifik 0,87% per hari jauh lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pupuk. Selain tumbuh lebih cepat, kandungan gizi mikroalga juga meningkat. Pada perlakuan terbaik, kadar protein mencapai 34,79% dan fucoxanthin 8,3 ppm. Angka ini lebih tinggi dibandingkan hasil beberapa studi sebelumnya. Artinya, limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai kini justru mampu menjadi sumber nutrisi penting bagi mikroalga.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa silikat merupakan unsur paling berpengaruh terhadap pertumbuhan C. calcitrans, karena berperan dalam pembentukan dinding sel diatom. Semakin tinggi ketersediaan silikat, semakin cepat pula laju pembelahan sel. Selama proses kultivasi, parameter lingkungan seperti suhu (26–27,5°C), pH (6,5–8,3), dan salinitas (30–31 ppt) tetap berada dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan mikroalga. Hal ini menunjukkan bahwa metode ini dapat diterapkan langsung dalam sistem budidaya yang sudah ada tanpa memerlukan perubahan besar.
Dengan kata lain, penelitian ini membuktikan bahwa pupuk organik cair berbahan limbah pertanian dan ikan bukan hanya mampu menggantikan pupuk kimia, tetapi juga membantu mengurangi pencemaran dan meningkatkan efisiensi budidaya mikroalga.
Pendekatan ini menjadi langkah nyata menuju akuakultur berkelanjutan dan ekonomi sirkular dimana limbah pertanian dan perikanan dapat diubah menjadi sumber daya bernilai bagi ekosistem perairan. Inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep besar, tetapi bisa dimulai dari pemanfaatan limbah di sekitar kita untuk mendukung masa depan perikanan yang lebih hijau dan produktif
Informasi lebih lanjut bisa didapatkan di artikel yang sudah terpublikasi di jurnal internasional terindeks Scopus Q3, yaitu Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries (EJABF) tautan dapat dilihat pada 10.21608/ejabf.2025.445751
Satyantini, W. H., Ainy, S., Fadila, A. S., Dewi, N. N., & Sulmartiwi, L. (2025). Protein Content, Fucoxanthin and Growth of Chaetoceros calcitrans Using Liquid Organic Fertilizer from Agricultural and Fish By-Product. Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries, 29(4), 2369-2386.alga





