UNAIR NEWS — Berawal dari keprihatinan atas rumitnya pengelolaan keuangan yang kerap menjerat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), lima mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) menciptakan terobosan berbasis kecerdasan buatan. Lewat gagasan platform Catat Aja AI, mahasiswa Ekonomi Islam angkatan 2024 ini sukses memboyong predikat Juara Umum, Juara 1, sekaligus Gold Medal pada Fesma National Essay Competition yang berlangsung di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada (25-28/9/2026).
Tim ini beranggotakan Muchammad Danish Azka F sebagai ketua, bersama empat rekannya, Hidayah Nur Valentine, Muhammad Athalla Riby, Lydia Lasabella, dan Rakha Pasha. Mereka berhasil menyisihkan sekitar 300 pendaftar dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia dalam kompetisi bentukan Sentosa Foundation dan BEM Fakultas Pertanian Universitas Mataram tersebut.
Menjawab Tantangan Krusial UMKM Indonesia
Gagasan ini berakar dari fakta krisis pembukuan yang masih membayangi puluhan juta UMKM di tanah air. Merujuk data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM yang menyumbang sekitar 61 persen Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap 97 persen tenaga kerja.
Sayangnya, sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan pencatatan manual, sehingga laporan keuangan kurang akurat dan menyulitkan mereka saat mengajukan pembiayaan modal usaha. Dari sisi digitalisasi pun, baru sekitar 25 juta UMKM yang berhasil masuk ke ekosistem digital.
“Kami ingin mengembangkan ide yang tidak hanya memiliki nilai inovasi tinggi, tetapi juga dapat memberikan solusi terhadap permasalahan nyata yang ada di tengah masyarakat,” ujar Danish, sebagai ketua tim.
Catat Transaksi Cukup Lewat Bahasa Sehari-hari
Platform Catat Aja AI mengintegrasikan teknologi Natural Language Processing (NLP), Optical Character Recognition (OCR), dan machine learning. Pengguna tidak perlu menguasai akuntansi rumit; mereka cukup mengetik transaksi memakai bahasa sehari-hari, seperti “membeli bahan baku Rp500.000 secara tunai”. Secara otomatis, sistem akan mengidentifikasi akun, menyusun jurnal umum, memperbarui buku besar, hingga menyajikan laporan laba rugi, neraca, serta arus kas. Pengguna juga bisa memotret nota belanjaan untuk terbaca otomatis oleh sistem.
Keunggulan platform ini berpusat pada empat fitur utama yang saling terintegrasi dalam satu ekosistem. Pengguna dapat mengoperasikan fitur BukuKas sebagai sistem pembukuan digital otomatis berbasis AI, serta berkonsultasi dengan Sahabat AI yang berperan sebagai asisten keuangan virtual untuk analisis bisnis. Selain itu, platform menyediakan fitur Ruang UMKM sebagai wadah jejaring dan pelatihan interaktif, lengkap dengan fitur Naik Kelas yang menyajikan analisis pertumbuhan usaha dan penilaian kesiapan pendanaan (credit scoring).
“Kami mencoba memanfaatkan perkembangan AI untuk membuat pengelolaan keuangan menjadi jauh lebih sederhana. Pada saat yang sama, kami membantu UMKM memahami kondisi bisnis mereka agar bisa mengambil keputusan berdasarkan data keuangan yang valid,” tambah Danish.
Jika membandingkan dengan aplikasi sejenis seperti Majoo, Accurate, atau BukuWarung, Catat Aja AI tampil lebih unggul karena menyatukan input AI berbahasa alami, pemindaian struk otomatis, analisis kondisi keuangan, hingga prediksi arus kas dalam satu pintu.
Melalui capaian membanggakan di Lombok ini, kelima mahasiswa UNAIR berharap platform Catat Aja AI dapat membantu UMKM Indonesia memiliki laporan keuangan yang terstandar. Langkah ini mempermudah pelaku usaha mengakses kredit modal usaha sekaligus mempercepat transformasi digital UMKM menuju Indonesia Emas.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rohmawati
